Pro Kontra Konversi, Ini Kelebihan dan Kekurangan Kompor Listrik

Banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti bagaimana dan seperti apa program konversi LPG ke kompor induksi tersebut. Ditambah lagi, di kalangan pemerintah sendiri sempat terjadi perbedaan pendapat terkait dengan program konversi tersebut.

Ibeth Nurbaiti

27 Sep 2022 - 17.30
A-
A+
Pro Kontra Konversi, Ini Kelebihan dan Kekurangan Kompor Listrik

Ilustrasi. Penggunaan kompor listrik atau induksi. - Istimewa

Bisnis, JAKARTA — Kendati memicu pro dan kontra terkait dengan kelebihan dan kekurangan kompor listrik, Program Konversi Kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik atau induksi dipastikan tidak akan diberlakukan pada tahun ini. 

Pemerintah masih fokus pada uji coba program konversi tersebut di dua kota di Indonesia, yakni Solo (Jawa Tengah) dan Denpasar (Bali).

Baca juga: Uji Coba Konversi Kompor Listrik, Siapkah PLN?

Terlebih, banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti bagaimana dan seperti apa program konversi LPG ke kompor induksi tersebut. Ditambah lagi, di kalangan pemerintah sendiri sempat terjadi perbedaan pendapat terkait dengan program konversi tersebut.

Baca juga: Menimbang Ulang Konversi LPG ke Kompor Listrik, Bisa Berlanjut?

Untuk menyukseskannya, pemerintah telah menganggarkan setidaknya 300.000 kompor listrik yang akan dibagikan kepada masyarakat. Namun pada tahap uji coba atau prototipe, baru 2.000 unit kompor listrik induksi yang sudah dibagikan di Solo dan Bali.

Pemerintah masih akan melakukan penghitungan dengan cermat segala biaya dan risiko, memperhatikan kepentingan masyarakat, serta menyosialisasikan kepada masyarakat sebelum program konversi kompor LPG 3 kg ke kompor listrik induksi diberlakukan.

Yang jelas, hingga kini masih banyak masyarakat yang belum mengerti bagaimana cara penggunaan kompor listrik. Banyak masyarakat yang juga berpikir ulang soal tingkat keiritan dan keamanan kompor listrik dibandingkan dengan kompor biasa.

Melansir dari beberapa sumber, berikut kelebihan dan kekurangan kompor listrik dibanding dengan kompor gas.

Kelebihan

Kompor listrik dinilai lebih aman penggunaannya, terlebih di ruangan tertutup, dibandingkan dengan kompor gas. Hal ini disebabkan karena kompor gas lebih berisiko mengalami kebocoran yang dapat menyebabkan ledakan dan kebakaran.

Baca juga: Tak Ada Payung Hukum, Pijakan Kompor Listrik Masih Goyah

Selain itu, kompor listrik juga tidak menyalurkan panas di sekitar. Namun, untuk hasil memasaknya, panas yang dihasilkan oleh kompor listrik cenderung merata dan stabil.

Kemudian, kompor listrik juga memiliki kemampuan untuk menyimpan panas lebih lama dibandingkan dengan kompor gas.


Pada sebagian kompor listrik, disematkan pula berbagai fitur menarik lain yang bisa digunakan untuk mendorong kualitas memasak, misalnya timer, pengamanan kompor mati, hingga boosting.

Kekurangan

Namun, tak bisa dimungkiri kompor listrik yang memiliki banyak fitur dan aman digunakan, memiliki harga yang lebih mahal ketimbang kompor untuk LPG. Selain itu, kompor listrik juga membutuhkan banyak energi listrik.

Baca juga: Memilih Antara Subsidi LPG dan Kompor Induksi Listrik

Apabila tidak memiliki teknologi yang ramah lingkungan, listrik yang dibutuhkan pada satu kompor bisa mencapai 300 watt hingga 1.200 watt.

Yang perlu diperhatikan juga, memasak menggunakan kompor listrik juga tidak bisa sembarangan, mengingat peralatan memasak yang digunakan harus sesuai.

Untuk menggunakan kompor listrik, diperlukan peralatan memasak yang terbuat dari besi, baja, dan stainless steel. Ini dikarenakan dibutuhkannya interaksi khusus dengan permukaan kompor listrik sehingga proses memasak menjadi sempurna.


Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan sebelumnya pernah mengungkapkan hitung-hitungan penggunaan kompor LPG dan kompor listrik.

Dengan kompor induksi listrik, setidaknya masyarakat hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 10.266 yang setara dengan 1 kg LPG nonsubsidi dengan harga Rp15.500 per kg karena 1 kg LPG adalah sebesar 7,1 kWh. 

Baca juga: Peluang dan Tantangan Konversi Kompor Induksi

Dengan asumsi pemakaian 1 bulan sebanyak 9 Kg elpiji, maka biaya yang dikeluarkan rumah tangga mencapai Rp139.500, sedangkan pemakaian 1 bulan kompor induksi setara dengan 64,7 kWh atau hanya Rp 93.556. Artinya, penggunaan energi LPG lebih mahal Rp45.944 per bulan jika dibandingkan dengan penggunaan kompor induksi.

Baca juga: Kerja Keras PLN Menerangi Desa Terpencil di NTT

Kendati demikian, Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah seperti dikutip Antara, menyebutkan bahwa program konversi kompor induksi ini harus mengutamakan edukasi kepada masyarakat, terutama masyarakat dalam golongan subsidi agar memahami penggunaan kompor induksi ini hemat, aman, dan nyaman.

“Kompor [induksi] listrik ini sangat bagus dan praktis, tetapi persoalannya masyarakat juga harus diedukasi. Masyarakat perlu ada pendampingan di mana dalam pemakaiannya ini betul-betul aman dan nyaman,” ujarnya. (Restu Wahyuning Asih)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.