Produksi Alat Berat 2023 Tembus 8.066 Unit

Kapasitas produksi alat besar hanya berada di level 40% dari total produksi alat berat keseluruhan.

Afiffah Rahmah Nurdifa

5 Feb 2024 - 12.06
A-
A+
Produksi Alat Berat 2023 Tembus 8.066 Unit

Alat berat di sektor pertambangan. - Foto BID

Bisnis, JAKARTA - Produksi alat berat pada 2023 dilaporkan sebanyak 8.066 unit, dan merupakan capaian terbanyak kedua sepanjang sejarah Indonesia.

Himpunan Industri Alat Berat (Hinabi) melaporkan, produksi alat berat paling banyak terjadi pada 2022 dengan total 8.826 unit. Namun, secara tahunan, dari periode 2022 ke 2023 terjadi penurunan produksi 8,61%.

Ketua Umum Hinabi Jamaluddin mengatakan produksi alat berat periode tahun lalu didominasi untuk sektor pertambangan, khususnya alat besar, seperti hydraulic excavator hingga dump truck.

"Tetapi, produksi tidak terpenuhi karena kapasitas [produksi] memang tidak cukup untuk big macine karena demand yang cukup besar," kata Jamaluddin kepada Bisnis, Minggu (4/2/2024).

Penurunan produksi disebabkan peningkatan permintaan untuk alat-alat besar. Namun, kapasitas produksi alat besar hanya berada di level 40% dari total produksi alat berat keseluruhan.

Adapun, permintaan terbanyak yakni untuk alat berat hydraulic excavator sebanyak 6.791 unit, disusul bulldozer sebanyak 727 unit, dump truck 513 unit, dan motor grader sebanyak 35 unit.

Berdasarkan sektornya, "Permintaan terbanyak dari pertambangan 65%, konstruksi 15%, kehutanan dan agro 20%," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) mencatat penurunan penjualan alat berat sebesar 10,8% (year-on-year) pada 2023. Sikap konservatif pelaku usaha masih tertahan sehingga ekspansi mandek.

Data PAABI menunjukkan penjualan alat berat 2023 yakni sebesar 18.123 unit, lebih rendah dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya sebanyak 20.300 unit.

Ketua Umum PAABI Etot Listyono mengatakan permintaan dari sektor pertambangan dan konstruksi masih mendominasi pasar, meskipun terdapat pelemahan serapan.

"Penjualan tahun lalu 18.123 unit, masih didominasi permintaan dari sektor mining," kata Etot, dihubungi terpisah.


PROYEKSI 2024

PAABI memproyeksi tren perlambatan penjualan alat berat berlanjut pada 2024. Asosiasi memperkirakan total penjualan turun 25% menjadi hanya 14.000 unit.

Etot Listyono mengatakan pelaku usaha masih konservatif dan memangkas target penjualan dengan kondisi pasar dan sentimen tahun politik yang kuat.

"Kalau balik lagi belum tahu, ya 17.000 -18.000, I dont think so, saya enggak yakin bisa kembali seperti 2022," kata Etot kepada Bisnis, Kamis (31/1/2024).

Penjualan alat berat di sektor pertambangan menurun lantaran harga batu bara global yang masih terkoreksi. Hal ini membuat pengusaha pertambangan lebih berhati-hati untuk menambah barang modal.

Kendati demikian, serapan unit ke sektor pertambangan masih mendominasi dibandingkan dengan sektor konstruksi maupun agro-forestry.

"Tahun ini itu untuk alat berat yang di mining itu lebih banyak  refreshment, yang masih stabil itu agro-forestry masih sama 12-13% market-nya," ujarnya.

Penjualan di sektor konstruksi melambat disebabkan langkah wait and see kontraktor yang menunggu hasil pemilu 2024. Kondisi ini merupakan siklus tahun politik yang umumnya akan tertahan hingga transisi pemerintahan selesai.

"Peluang kami masih belum tahu, itu perkiraan kami di awal, konservatifnya seperti itu. Pemulihan juga belum tahu, kami masih terus koordinasi dengan customer, monitoring market yang ada," tuturnya.

Meski begitu, terdapat sentimen positif dari sisi kebijakan importasi yang sebelumnya terkendala imbas Peraturan Pemerintah No. (PP) 28/2021. Beleid tersebut dinilai mempersulit importasi alat berat bagi importir umum (API-U).

Namun, PP No. 28/2021 resmi direvisi menjadi PP No.46/2023 pada September 2023 lalu. Perubahan regulasi ini membuat katalis perbaikan ketersediaan produk.

Sebab, permintaan alat berat masih lebih besar dibandingkan kapasitas produksi dalam negeri yang mencapai 10.000 unit per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, impor dan remanufacturing menjadi jalan pintas.

"Sudah ada perbaikan, ada revisi terhadap PP 28 kemudian sekarang sudah keluar juklak-juknis-nya, jadi mengenai importasi rasanya tahun ini aman gak ada kendala," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.