Produksi Tahu Tempe Anjlok Akhir 2021, Diproyeksi Pulih 2022

Produksi tempe-tahu dihitung dari konsumsi bahan baku kedelai, sampai akhir tahun ini akan mencapai 2,5 juta ton, turun dari tahun lalu sebesar 2,8 hingga 2,9 juta ton.

Reni Lestari

23 Nov 2021 - 17.50
A-
A+
Produksi Tahu Tempe Anjlok Akhir 2021, Diproyeksi Pulih 2022

Perajin memproduksi tahu di salah satu pabrik tahu tradisional di Banda Aceh, Aceh, Kamis (1/10/2020). /ANTARA FOTO

Bisnis, JAKARTA — Produksi industri berbasis kedelai seperti tahu dan tempe diproyeksikan anjlok pada akhir tahun ini, terdampak implementasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 3 selama perayaan Natal dan Tahun Baru.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin mengatakan produksi tempe-tahu dihitung dari konsumsi bahan baku kedelai, sampai akhir tahun ini akan mencapai 2,5 juta ton dari tahun lalu sebesar 2,8 hingga 2,9 juta ton.

Pada Agustus 2021, asosiasi sempat mengestimasikan produksi bisa menembus 3 juta ton.

"Target penjualan tempe dan tahu di seluruh Indonesia, selama pandemi menurun 20—30 persen. [Produksi] paling tinggi itu 2,5 juta ton, turun kira-kira 20 persen," kata Aip saat dihubungi, Selasa (23/11/2021).

Menurutnya, turunnya produksi tempe dan tahu sepanjang tahun ini tak lepas dari pembatasan ketat yang berlangsung pada tengah tahun ini, yang berdampak pada tertekannya konsumsi.

Bahkan dengan proyeksi pada Agustus sebesar 3 juta ton, produksi sepanjang tahun ini belum akan menyamai angka sebelum pandemi yang berada di kisaran 3,2 hingga 3,3 juta ton.

Terkait dengan pasokan kedelai, sebesar lebih dari 80 persen bersumber dari impor, sisanya dipasok dari petani dalam negeri.

Meski masih terjadi pembatasan di sejumlah negara, Aip mengatakan belum ada kendala pasokan kedelai bahkan sampai awal tahun depan.

Meski produksi tahun ini menurun, Aip mengakui bahwa makin lama masyarakat makin sadar bahwa tempe dan tahu merupakan makanan sehat, sumber protein utama, dengan harga terjangkau.

"Malah di Amerika [tempe dan tahu] disebut super food, yaitu makanan yg berasal dari tumbuh-tumbuhan yang bergizi tinggi," ujarnya.

Bagaimanapun, produksi tempe dan tahu diramal bakal kembali naik pada 2022. Aip memperkirakan konsumsi bahan baku kedelai untuk produksi bakal menyentuh 3 juta ton pada tahun depan.

Hal itu seiring dengan perbaikan daya beli masyarakat. Angka itu bertumbuh 20 persen dibandingkan dengan perkiraan produksi sepanjang 2021 sebesar 2,5 juta ton.

"Estimasi saya, walaupun tahun depan ada PPKM, dari 2,5 juta ton tidak akan turun, kemungkinan naik ada, maksimum sampai 3 juta ton," kata Aip.

Namun demikian, angka proyeksi tersebut belum akan menyamai produksi sebelum pandemi yang berada di kisaran 3,2 juta hingga 3,3 juta ton.

Adapun, proyeksi pertumbuhan pada 2022 juga dipengaruhi harga tempe dan tahu yang relatif stabil jika dibandingkan dengan sumber protein lain seperti daging atau ayam.

Aip juga mengatakan produksi pada tahun ini dipastikan turun seiring dengan PPKM Level 3 pada 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022.

Namun, meski serapan kedelai ke pengolahan tempe dan tahu turun, pasokan bahan baku dipastikan aman bahkan hingga awal tahun depan.

"Pasokan kedelai baik, terutama impor, selalu ada, selalu stand by. Sampai akhir tahun ini, stok kedelai impor itu ada 250.000 ton lebih, belum termasuk kedelai lokal yang akan panen di beberapa daerah walaupun sedikit," jelas Aip.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.