Prospek Ciamik Permintaan Bahan Bakar Kerek Harga Minyak

Prospek moncer permintaan bahan bakar menjadi katalis utama yang mendukung penguatan harga minyak. Simak penjelasannya.

Duwi Setiya Ariyanti

9 Nov 2021 - 16.57
A-
A+
Prospek Ciamik Permintaan Bahan Bakar Kerek Harga Minyak

Prospek moncer permintaan bahan bakar menjadi katalis utama yang mendukung penguatan harga minyak. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Prospek ciamik permintaan bahan bakar minyak mengerek harga minyak pada perdagangan hari ini.

Dikutip dari Markets Insider, Selasa (9/11/2021) pukul 16:26 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$82,34 per barel atau naik 0,15 persen sejak dibuka pada US$82,22 per barel.

Tren yang sama terjadi pada harga minyak Brent yang mencapai US$83,96 per barel atau naik 0,33 persen kendati dibuka pada US$83,69 per barel.

Tim Analis Monex Investindo Futures dalam hasil risetnya menyebut bahwa optimisme terhadap pemulihan ekonomi yang membuat harga minyak akhirnya menguat. Harga minyak diproyeksi bergerak pada rentang level support US$81,6 per barel hingga US$81,1 per barel dan level resistance mencapai US$82,25 per barel hingga US$82,75 per barel.

Outlook permintaan bahan bakar yang meningkat di tengah pemulihan ekonomi global berpotensi menopang kenaikan harga minyak.”

Tim juga menyebut bahwa optimisme akhirnya membuat prospek muram minyak menjadi cerah. Namun, pelaku pasar juga memantau rilis data terkait cadangan, produksi dan permintaan minyak. Rencananya, terdapat rilis cadangan minyak mentah. Bila laporan menunjukkan kenaikan, harga minyak bisa tertekan.

“Optimisme naiknya ekonomi AS, peningkatan produksi di China, dan masih tingginya permintaan minyak mentah setelah kenaikan harga dari Saudi Aramco kemarin, tampak masih menjaga minat pelaku pasar terhadap harga minyak.”

KEPUTUSAN

Dikutip dari S&P Global Platts, Sekretaris Energi Amerika Serikat Jennifer Granholm mengatakan bahwa Presiden AS Joe Biden kemungkinan menetapkan keputusannya pada pekan ini terkait dengan kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar minyak. Seperti diketahui, Biden begitu vokal menyuarakan agar negara kartel minyak (OPEC) menaikkan produksinya melebihi kuota yang ditetapkan.

OPEC pada Juli telah menetapkan bahwa kenaikan produksi bisa dilakukan dengan mengikuti kesepakatan 400.000 barel per hari (bph) setiap bulan guna mengembalikan pasokan yang dikurangi pada tahun lalu.

Analis menyebut ada kemungkinan bagi Biden mengeluarkan cadangan strategis negara. Larangan mengekspor minyak juga disinggung oleh Granholm sebagai salah satu cara mengendalikan harga minyak.

“Langkah yang paling mungkin bagi AS yakni menggunakan cadangan minyak strategisnya,” tutur analis ING Warren Patterson dan Wenyu Yao dalam hasil risetnya.

Mereka menyebut bahwa terdapat saran bahwa AS bisa menerapkan ekspor minyak tetapi, mereka tak menganggap itu bisa direalisasikan. Menurutnya, pengurangan pasokan ke pasar akan membuat harga WTI/Brent menanjak.

Terlepas dari itu, terdapat sinyal bahwa OPEC+ terus menghadapi hambatan meningkatkan produksi ke level yang seharusnya.

Mengacu pada survei yang dilakukan S&P Global Platts, OPEC menaikkan produksinya sebesar 480.000 bph pada Oktober. Hanya separuh dari anggota OPEC yang benar-benar menaikkan produksinya sesuai dengan volume yang disepakati.

Sementara itu, produksi dari produsen minyak terbesar di Afrika, Nigeria turun 1,37 juta bph pada bulan lalu, berdasarkan survei yakni berarti 261.000 bph di bawah kuota OPEC+. Produksi Angola juga turun 40.000 bph menjadi 1,11 juta bph atau lebih rendah dari kuota yakni 1,36 juta bph.

Investor akan melihat laporan persediaan minyak mingguan yang menjadi sentimen berikutnya. Analis yang disurvei oleh S&P Global Platts menyebut bahwa persediaan minyak komersial naik 1 juta barel menjadi 435,1 juta barel pada pekan lalu.

Persediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline diharapkan turun 1,6 juta barel menjadi 212,7 barel sedangkan distilasi ditargetkan tak berubap sekitar 127,1 juta barel.

Dengan sentimen tersebut, analis di OCBC Treasury Research menyebut bahwa harga minyak akan bergerak mendatar untuk sementara.

“Kami berharap minyak tetap berada pada rentang US$80 hingga US$85 dalam jangka pendek,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.