Prospek E-Commerce Indonesia setelah Shopee PHK Karyawan

SYNC Asia Tenggara Meta dan Bain & Company melaporkan bahwa lebih dari 80 persen konsumen Indonesia menjalani proses pra dan pascapembelian mereka di saluran daring serta luring masih dianggap sangat penting pada saat tahap pembelian.

Khadijah Shahnaz Fitria

21 Sep 2022 - 18.39
A-
A+
Prospek E-Commerce Indonesia setelah Shopee PHK Karyawan

Ilustrasi belanja di toko online atau e-commerce/Freepik.com

JAKARTA – Prospek e-commerce di Indonesia dinilai tetap positif seiring dengan meningkatnya belanja online konsumen kendati sejumlah pemainnya seperti Shopee dan JD.ID melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK)

Menurut laporan tahunan SYNC Asia Tenggara Meta dan Bain & Company yang dikutip Rabu (21/9/2022), lebih dari 80 persen konsumen Indonesia menjalani proses pra dan pascapembelian mereka di saluran daring serta luring masih dianggap sangat penting pada saat tahap pembelian.

Di saat yang sama, prospek jangka panjang Asia Tenggara terus menguat dengan proyeksi pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) wilayah Asia Tenggara dari 2022 hingga 2023.


Salah satu kantor milik e-commerce Shopee/India Times


Hal tersebut diperkirakan akan melampaui sebagian besar pasar lain seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China.

Studi ini menunjukkan Asia Tenggara diperkirakan akan mempertahankan proyeksi pertumbuhan sebesar 5,1 persen dibandingkan dengan pasar lain seperti AS (1,3 persen), Uni Eropa (2,1 persen), dan China (4,7 persen) pada akhir 2023.

Tingkat inflasi tahunan di Asia Tenggara dari 2022 hingga 2023 juga diperkirakan akan berjalan lebih baik daripada sebagian besar rekan-rekannya dan diproyeksikan menurun dari 4,2 persen menjadi 3,3 persen pada akhir 2023.

Sementara di Indonesia, prospek belanja digital secara keseluruhan tetap positif, dengan e-commerce gross merchandise value meningkatkan pangsanya menjadi US$56 miliar.


Baca juga: Kinerja Lesu Sea Ltd, Sinyal di Balik PHK di Shopee Indonesia


Hal ini sebagian besar didorong oleh pertumbuhan stabil populasi konsumen digital Indonesia yang merupakan yang tertinggi di antara Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam dengan 168 juta konsumen digital Indonesia dan mencakup sekitar 46 persen dari populasi berusia 15 tahun ke atas. 

Terlebih lagi, populasi konsumen digital di Asia Tenggara masih terus bertumbuh dan diperkirakan akan mencapai 370 juta orang pada akhir 2022.

Ini terhitung 82 persen dari total populasi adalah konsumen berusia 15 tahun ke atas. Angka tersebut diproyeksikan akan meningkat lebih lanjut menjadi 402 juta orang pada tahun 2027.     

Daftar e-Commerce yang PHK Karyawan

 

1. JD.ID

Director of General Management JD.ID Jenie Simon menuturkan bahwa keputusan memberhentikan sejumlah karyawan merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan.

"JD.ID juga melakukan pengambilan keputusan seperti tindakan restrukturisasi, yang mana didalamnya terdapat juga pengurangan jumlah karyawan,” jelas Jenie.


Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti


Dari penelusuran Bisnis.com, induk JD.ID, yakni JD.com Inc tengah menanggung beban cukup besar. CEO JD.com Xu Lei mengatakan bahwa penyebaran virus Corona di berbagai kota besar di China yang berujung lockdown di Shanghai dan Beijing menjadi penyebab utama kemunduran bisnisnya di Negeri Tirai Bambu itu.

Dikutip dari KrASIA, Xu mengatakan bahwa kepada analis dalam panggilan konferensi, wabah Covid-19 tahun ini telah menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada konsumen dan rantai pasokan daripada 2 tahun sebelumnya.

“Epidemi domestik bermanfaat bagi sektor e-commerce dalam dua tahun pertama karena area yang terkena dampak kecil dan durasinya pendek dan ada pergeseran yang jelas dari konsumsi offline ke online. Tapi kali ini telah menjadi pembunuh ganda untuk perusahaan online dan offline,” kata Xu.

JD.com pun harus memangkas staf untuk mengurangi biaya. Dilansir oleh Nikkei, seorang karyawan mengatakan bahwa sebagian besar departemen di JD.com memangkas jumlah karyawan sebesar 20 persen-40 persen.

 

2. Shopify

Shopify, platform e-commerce asal Kanada mengumumkan adanya PHK terhadap 10 persen karyawannya atau sekitar 1.000 karyawan.

Dilansir dari The Walls Street Journal dan New York Times, CEO Shopify Tobu Lutke mengatakan bahwa penyebab adanya PHK ini dikarenakan ekspansi perusahaan yang didorong oleh pandemi belum memberikan hasil yang signifikan.

Dia menambahkan bahwa adanya penurunan transaksi online yang lebih cepat daripada diperkirakan sehingga Shopify harus memangkas sejumlah posisi di perusahaan.


Baca juga: Adu Kuat 3 Pemain E-Commerce Berburu Pembelanja Online


"Sebagian besar peran yang terpengaruh adalah dalam perekrutan, dukungan, dan penjualan, dengan fokus di seluruh perusahaan untuk menghilangkan peran yang terlalu terspesialisasi dan duplikat,” kata Lutke dalam sebuah pernyataan resminya.

Dia menjelaskan e-commerce yang sering disebut pesaing Amazon ini salah strategi dengan memperluas tenaga kerjanya saat belanja e-commerce berkembang pesat dengan pandemi Covid-19 dan mundurnya dari ritel fisik.

“Sekarang jelas bahwa strategi itu tidak membuahkan hasil. Apa yang kami lihat sekarang adalah campuran kembali ke perkiraan data pra-Covid-19 yang seharusnya pada titik ini,” jelasnya.

 

3. iPrice

Startup e-commerce Asia Tenggara iPrice Group melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 20 persen karyawannya. PHK ini dilakukan sebagai langkah memfokuskan bisnis iPrice.

Langkah ini dilakukan tak lama setelah start-up ini mengumumkan pendanaan senilai US$5 juta dari perusahaan trading Itochu dan perusahaan telekomunikasi KDDI dari Jepang pada Maret lalu.

Dilansir dari keterangan resminya, Kamis (9/6/2022), iPrice Group mengatakan menyatakan bahwa keputusan PHK adalah bagian dari beberapa langkah untuk memfokuskan bisnis pada misi utama perusahaan, yakni membantu pembeli menghemat harga saat berbelanja online.

Dalam proses PHK ini, iPrice mengatakan baha akan mengikuti semua persyaratan kontrak dan hukum dan secara aktif membantu staf yang telah diberhentikan untuk menemukan peluang baru.

“Tim iPrice adalah komunitas yang kuat. Jadi, merupakan keputusan yang sulit untuk mengurangi tim kami sejalan dengan menaruh fokus kembali pada bisnis utama kami,” kata CEO iPrice Group Paul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.