Prospek Empuk Bisnis Furnitur Dalam Negeri 2023

Pelaku industri furnitur mulai berancang-ancang memperkuat fokus menggarap pasar domestik yang prospeknya semakin empuk pada 2023 setelah sederet tantangan muncul di ranah pasar ekspor.

Fatkhul Maskur

5 Des 2022 - 20.00
A-
A+
Prospek Empuk Bisnis Furnitur Dalam Negeri 2023

Pekerja di pabrik furnitur. - Foto BisnisIndoonesia

Bisnis, JAKARTA - Pelaku industri furnitur mulai berancang-ancang memperkuat fokus menggarap pasar domestik yang prospeknya semakin empuk pada 2023 setelah sederet tantangan muncul di ranah pasar ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa sejauh ini industri furnitur dan kerajinan masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan usahanya.

Pertama, pandemi Covid-19 yang dilanjutkan dengan krisis geopolitik Rusia-Ukraina telah menyebabkan permasalahan logistik dan shipping yang berkepanjangan. Kelangkaan kontainer dan space cargo kapal masih terjadi.

Kondisi tersebut menimbulkan biaya logistik dan shipping yang tinggi, bahkan menyebabkan gagal kirim sehingga kinerja ekspor industri furnitur dan kerajinan menjadi tidak optimal dan daya saing industri furnitur dan kerajinan nasional di mata dunia melemah.

Kedua, perang Rusia-Ukraina juga telah menyebabkan market shock akibat tingginya inflasi di negara-negara tujuan ekspor sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina. Market shock ini juga menciptakan efek domino berupa pembatalan dan penundaan order terutama dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat merupakan negara utama tujuan ekspor produk funitur dan kerajinan dengan kontribusi lebih dari 50%. Sementara negara-negara di Eropa berkontribusi sekurang-kurangnya 19% dari total ekspor produk furnitur dan 10% dari produk kerajinan. 

Pembatalan atau penundaan order ini tentu menghasilkan ketidakpastian bagi industri furnitur dan kerajinan dan sangat mengganggu cashflow perusahaan.

Ketiga, masalah domestik terkait dengan ketersediaan bahan baku berupa kayu besar kini semakin berkurang dan langka. Selain itu, industri furnitur berbasis rotan juga dihadapkan pada masalah kelangkaan bahan baku rotan. Ini cukup ironis mengingat merupakan negara penghasil 80% rotan dunia.

Keempat, teknologi dan SDM. Pembaruan teknologi di industri furnitur dan kerajinan nasional belum menjangkau secara merata. Ini diakibatkan oleh biaya investasi teknologi yang relatif mahal atau kurang terjangkau baik untuk IKM maupun industri besar sesuai dengan skala masing-masing.

Sementara di lini SDM, pasokan tenaga kerja yang terampil di level operator dan tenaga kerja dengan keahlian khusus dan tersertifikasi masih terbatas.

Kelima, isu pemberlakuan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Wajib. SVLK ditujukan untuk menjaga aspek kelestarian lingkungan dan lacak balak bahan baku (sustainability and traceability) pada produk kayu. 

Aspek kelestarian dan keterlacakan kini mendapat perhatian besar dan menjadi syarat di pasar global. Pemberlakuan SVLK wajib di industri hilir dipandang kurang relevan dan melahirkan ekonomi biaya tinggi di industri hilir kayu (furnitur dan kerajinan).

“Berbagai isu pokok tersebut telah menjadi perhatian kami, dan Kemenperin akan menyiapkan berbagai langkah dan dukungan terhadap upaya pemecahan isu-isu tersebut,” kata Menperin, baru-baru ini.

Dukungan dari pemerintah harus seiring dengan usaha keras industri furnitur dalam negeri untuk terus melakukan inovasi di setiap proses manufaktur serta ekplorasi kekayaan budaya nasional dan mengemasnya secara modern, mengikuti tren pasar global. 

“Kami menaruh harapan besar agar industri furniture dan kerajinan nasional tidak semata menjadi produsen tetapi menjadi trend setter di tingkat global,” pungkas Menperin.


PASAR DOMESTIK

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar memproyeksikan bahwa permintaan di pasar domestik akan menguat di tengah sederet tantangan yang mengadang di pasar global.

"Terdapat dua faktor yang dapat memicu permintaan terhadap produk furnitur pada paruh pertama tahun depan," kata  Bobby, Minggu (4/12/2022). 

Pertama, faktor permintaan dari segmen ritel yang diperkirakan terkerek oleh sejumlah momentum pada semester I/2023. Momentum-momentum yang dimaksud antara lain Hari Raya Imlek dan Idulfitri. 

Pada semester pertama tahun depan, diperkirakan permintaan terhadap produk furnitur terkerek oleh segmen ritel karena momen Imlek yang jatuh pada Januari dan Idulfitri pada April.

Kedua, faktor permintaan dari belanja pemerintah dalam Program Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Tahun depan, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan penjualan furnitur melalui P3DN senilai Rp5 triliun. 

Berbeda dari segmen ritel dan belanja pemerintah tersebut di atas, Bobby memperkirakan penjualan furnitur dari proyek-proyek pembangunan properti tidak akan terlalu menjanjikan pada 2023.

Menurutnya, permintaan terhadap produk furnitur dari segmen tersebut akan lambat sejalan dengan tren kenaikan suku bunga yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan. "Dari segi pasar properti, agak sulit karena kenaikan suku bunga," jelasnya. 

Sebagai informasi, pengusaha industri furnitur Indonesia bakal melakukan diversifikasi pasar sebagai strategi bisnis pada 2023. Tidak hanya mengandalkan pasar ekspor, pasar domestik pun juga akan disasar mulai tahun depan. 

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan untuk tahap awal ditargetkan sebanyak 200 perusahaan eksportir furnitur akan merambah pasar dalam negeri. 

Menurut Sobur, salah satu target yang disasar adalah anggaran belanja pemerintah dengan menggunakan strategi penyiapan etalase atau katalog produk guna menyambut peluang tersebut. 

"Untuk masuk ke pasar domestik, tahun depan akan dibuat katalog bersama demi menyambut program pemerintah yang ditaksir memiliki potensi pasar mencapai Rp50 triliun - Rp80 triliun per tahun," kata Sobur. 

HIMKI menargetkan penjualan produk furnitur sisa-sisa stok ekspor dari sebanyak 200 perusahaan dengan nilai yang ditaksir mencapai Rp5 triliun untuk tahap awal tahun pertama pada 2023. 

Pada tahap berikutnya, himpunan memperkirakan akan ada sebanyak 250 perusahaan yang turut merambah pasar domestik. Dalam 5 tahun ke depan, ditargetkan sebanyak 500 perusahaan sudah menjual produk ke pasar dalam negeri. 


AKSI AFIRMASI

Di pasar domestik, aksi afirmatif pemerintah untuk mengintensifkan upaya peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) juga mesti menjadi momentum bagi industri furnitur untuk meningkatkan kinerja dan penyerapan produknya. 

Untuk itu, industri furnitur dan kerajinan dalam negeri harus memberikan perhatian khusus terhadap pengurusan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar dapat menjual produknya di e-Katalog.

Kementerian Perindustrian pada tahun ini telah menyiapkan program sertifikasi TKDN gratis untuk 1.250 produk. “Untuk tahun depan, kami tengah memperjuangkan penambahan anggaran agar jumlah sertifikat TKDN gratis bertambah menjadi 10.000 produk,” sebut Agus.

Upaya tersebut untuk menjangkau lebih banyak industri dalam negeri khususnya sektor IKM dalam program sertifikasi TKDN. “Kami membuka pintu bagi para pelaku industri furnitur dan kerajinan dalam negeri untuk memanfaatkan program tersebut.Kami upayakan agar sertifikasi TKDN ini di tahun yang akan datang tidak hanya makin murah tetapi juga makin cepat,” imbuhnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.