Prospek Industri Kosmetik Kian Cantik

Penjualan produk kosmetik tahun ini diproyeksikan tumbuh sekitar 7% menjadi US$7,45 juta dari capaian 2020 senilai US$6,95 juta.

May 16, 2021 - 10:28 AM
A-
A+
Prospek Industri Kosmetik Kian Cantik

Tas kosmetik. /Allure.com

Bisnis, JAKARTA — Perusahaan-perusahaan kosmetik melihat peluang yang cukup cerah untuk kembali bangkit pada tahun ini, didorong oleh kembali bergairahnya permintaan terhadap barang konsumer atau fast moving consumer goods (FMCG).

Direktur Utama PT Martina Berto Tbk. (MBTO) Bryan Emil Tilaar mengatatakan prospek industri kecantikan, perawatan personal, dan jamu pada 2021 cukup baik meski sempat tumbuh di bawah 8% secara tahunan pada 2020.

"Walaupun sulit, kami berharap pertumbuhan industri [kosmetik] dapat mencapai 6%—10% tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurut Bryan, tantangan industri kosmetik pada tahun ini masih berkutat pada isu ketidakpastian akhir pandemi serta risiko perkembangan virus Covid-19, kendati program vaksinasi nasional telah dijalankan.

"Kalau dari Martina Berto, kami akan tetap luncurkan item-item baru, termasuk perluasan dari produk herbal Berto Immunku, sekaligus tetap berharap vaksin dan obat bantu mempercepat akhiri pandemi ini," ujarnya.

Adapun, MBTO juga menyiapkan sejumlah strategi untuk kembali ekspansif tahun ini. Selain mempertahankan dan meningkatkan branding, perusahaan pemegang merek Sari Ayu tersebut banyak melakukan perbaikan arus kas, rantai pasok, pabrikan, dan multidistributor untuk pemerataan pemasaran ke pelosok daerah Indonesia.

Baru-baru ini, perseroan juga menggandeng PT Penta Valent untuk memperluas pemasaran produk perusahaan.  Penta Valent yang merupakan salah satu distributor besar di Tanah Air akan menjadi distributor MBTO untuk produk kosmetik, perawatan kulit, dan produk herbal.

Perusahaan distribusi yang telah beroperasi sejak 1968 itu telah membangun jaringan dengan 14.988 apotek, 4.536 toko obat, dan 1.325 rumah sakit. Distributor ini juga menjangkau 27.918 gerai, dengan 70.000 pelanggan aktif.

CEO Martha Tilaar Group Kilala Tilaar menjelaskan, dengan jaringan gerai yang sangat besar dan pangsa pasar yang dimiliki oleh Penta Valent, produk-produk Martha Tilaar akan lebih mudah dijangkau oleh pelanggan.

“Kami selalu berusaha responsif dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di pasar. Kesempatan untuk bekerja sama dengan PT Penta Valent merupakan salah satu langkah kami untuk melakukan terobosan, menangkap peluang pasar, dan menjangkau segmen pasar yang lebih luas,” kata Kilala.

Gerai produk kosmetik Martha Tilaar./istimewa

FOKUS SKINCARE

Produsen kosmetik lainnya, PT Mandom Indonesia Tbk. (TCID), memilih untuk fokus memacu penjualan segmen produk yang cukup diminati kala pandemi, yaitu skin care atau perawatan kulit.

Hal itu lantaran produsen kosmetik pemegang merek Gatsby dan Pixy ini tidak memiliki rangkaian perawatan home care yang belakangan cukup melejit permintaanya.

Sekretaris Perusahaan Mandom Alia Risyamaya Dewi mengatakan industri kosmetik kemungkinan akan membaik seiring aktivitas masyarakat yang mulai pulih. Namun, tidak bisa dibilang cepat karena pemakaian masker tentu mengurangi kebutuhan mekap.

"Saat ini  kami tidak ada kategori home care, tetapi kami melihat permintaan konsumen juga cukup baik untuk skincare sehingga ini akan jadi salah satu kategori yang kami fokuskan tahun ini," katanya.

Alia mengemukakan tahun ini perseroan pun merencanakan akan merilis produk perawatan kulit yang baru. Meski enggan merinci lebih jauh, Alia hanya berharap tahun ini penjualan akan lebih baik dari tahun lalu.

Sementara itu, dari sisi kinerja ekspor, perseroan juga belum memiliki rencana akan meningkatkan porsi dari 25%—30% persen sekarang.

Selain itu, peningkatan efisiensi dari kegiatan produksi pabrikan masih akan menjadi strategi perseroan tahun ini. Sebab, kenaikan harga bahan baku yang terjadi sejak tahun lalu masih membayangi kinerja industri kosmetik tahun ini.

"Kalau target penjualan saya belum bisa info, yang pasti harus lebih baik dari 2020. Selain tentu harapannya permintaan meningkat sehingga volume produksi juga bisa naik," ujarnya.

Presiden Direktur Mandom Indonesia Masahiro Ueda sebelumnya mengatakan kondisi pandemi membuat perseroan tidak bisa leluasa dalam mengembangkan usaha. Untuk itu, dia berharap kondisi pandemi bisa berangsur pulih pada tahun ini.

Masahiro mengakui telah menunda proyek investasi pada tahun lalu. Manajemen pun menilai  tahun ini perseroan tidak membutuhkan banyak biaya investasi karena produksi dan penjualan masih terbatas.

Mengutip dari laporan keuangan perseroan per kuartal III/ 2020, emiten dengan sandi saham TCID mencatatkan rugi bersih sebesar Rp75,39 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp134,34 miliar.

Kerugian yang ditanggung perseroan sebenarnya disebabkan oleh penurunan penjualan bersih sebesar 32,14% secara tahunan menjadi Rp1,47 triliun.

Produk kosmetik Pixy dari PT Mandom Indonesia Tbk./istimewa

PENJUALAN MEMBAIK

Dihubungi secara terpisah, Ketua Harian Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAK Indonesia) Kusuma Ida Anjani memproyeksikan penjualan produk kosmetik tahun ini tumbuh sekitar 7% menjadi US$7,45 juta dari capaian 2020 senilai US$6,95 juta.

Adapun, capaian penjualan industri kosmetik tahun lalu terbilang stagnan, mengingat pada 2018 industri ini mencatat penjualan yang juga berkisar US$6,90 juta.

Kusuma mengatakan saat ini industri kosmetika membagi dua kategori yakni kosmetik yang terdiri dari mekap dasar dan dekoratif, serta perawatan yang terdiri dari perawatan personal dan perawatan kulit.

Dia menyebut penjualan tahun lalu memang menunjukkan tren berbeda lantaran permintaan kategori kosmetik menurun tetapi perawatan home care meningkat.

"Tahun ini, didukung ekspektasi pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 yang makin baik, juga adanya vaksin, harapan kami akan mulai membaik sampai tahun depan," katanya.

Kusuma juga menyebut industri kosmetik ini memiliki tren perkembangan yang baik dalam lima tahun terakhir. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat ada 185.290 produk kosmetik yang beredar di masyarkat selama rentang tersebut.

Data terakhir Kementerian Perindustrian merekapitulasi pada 2018 terdapat 153 industri kosmetika baru skala kecil menengah.

Angka itu mengakumulasi jumlah industri kosmetika secara keseluruhan menjadi 760 perusahaan, di mana 95% di antaranya diisi oleh industri kecil menengah (IKM)  dan hanya 5% yang merupakan industri skala besar.

Adapun, dari sisi penjualan, sejak tahun lalu perubahan perilaku konsumen juga tidak luput dari industri ini. Pasalnya, penjualan secara daring tumbuh menjadi 21% dari sebelumnya hanya 14%.

"Jadi industri mesti melakukan penyesuaian dalam pemasaran dengan sisi lain tentunya juga mengembangkan produk inovasi yang kini trennya memiliki multifungsi, tidak hanya cantik tetapi juga sehat," ujarnya.

Menurut Kusuma, sejak tahun lalu data pencarian Google juga terus menunjukkan peningkatan dengan sejumlah kata yang berkaitan dengan perawatan secara personal. Hal itu juga melihat tren makeup dekoratif yang saat pandemi hanya sebatas digunakan untuk webinar atau sejenisnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan sektor kosmetik masih tumbuh signifikan pada 2020 ini.

Hal itu terlihat dari kinerja pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, di mana kosmetik termasuk di dalamnya, tumbuh 9,39% dan berkontribusi 1,92% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dia menjelaskan industri farmasi dan obat tradisional, termasuk kosmetik, diharapkan terus didorong menggunakan bahan baku lokal karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara penghasil produk jamu dan kosmetik berbahan alami lainnya seperti China, Malaysia maupun Thailand.

"Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah dengan jumlah sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia," jelasnya. (Ipak Ayu Nurcaya)

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar