Prospek Permintaan Cerah, Harga Minyak WTI dan Brent Tak Searah

Prospek permintaan yang cerah ternyata tak membuat pergerakan harga minyak WTI dan Brent searah. Simak penjelasannya.

Duwi Setiya Ariyanti

10 Nov 2021 - 15.27
A-
A+
Prospek Permintaan Cerah, Harga Minyak WTI dan Brent Tak Searah

Prospek permintaan yang cerah ternyata tak membuat pergerakan harga minyak WTI dan Brent searah. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Prospek permintaan bahan bakar minyak cerah akibat stok minyak mentah di Amerika Serikat ternyata membuat pergerakan harga minyak WTI dan Brent tak searah.

Dikutip dari Markets Insider, Rabu (10/11/2021) pukul 14:41 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$84,49 per barel atau terkoreksi 0,02 persen sejak perdagangan dibuka pada US$84,5 per barel.

Koreksi justru tak terjadi pada minyak Brent yang bergerak mencapai US$85,21 per barel atau naik 0,01 persen sejak perdagangan dibuka pada level US$84,99 per barel.

Tim Analis Monex Investindo Futures dalam hasil risetnya menyebut bahwa harga minyak pada perdagangan hari ini sebenarnya mendapatkan suntikan tenaga dari permintaan bahan bakar minyak. Akibat kenaikan itu, stok minyak mentah Amerika Serikat turun.

Harga minyak diproyeksi bergerak pada rentang US$83,65 per barel hingga US$82,75 per barel untuk level support dan US$84,8 per barel hingga US$85,8 per barel untuk level resistance.

Dikutip dari S&P Global Platts, Energy Information Administration (EIA) melaporkan prospek produksi jangka pendek yang berasal dari negara kartel minyak OPEC+ dan negara nonOPEC akan melampaui perlambatan konsumsi global pada 2022. Hal itu berimbas pada proyeksi harga minyak Brent yang menyentuh US$72 per barel secara rerata.

Adapun, pada 2021, prospek harga minyak Brent rerata pada US$82 per barel pada kuartal IV/2021.

EIA pun memangkas prospek pertumbuhan permintaan global pada 2022 sebesar 130.000 barel per hari (bph) tetapi menaikkan prospek produksi minyak menjadi 11,3 juta bph pada 2021, naik 110.000 bph dan 11,9 juta bph pada 2022 atau naik 170.000 bph.

Laporan itu juga telah memasukkan pertimbangan masuknya cadangan strategis. Seperti diketahui, Presiden Joe Biden tetap vokal agar OPEC menaikkan produksinya melampaui kuota yang ditetapkan pada medio 2021.

OPEC menetapkan target penambahan produksi bulanan sebesar 400.000 bph untuk menggantikan suplai yang dikurangi pada 2020.

“Presiden Biden menyebut dia mau kenaikan pasokan di tengah harga bahan bakar minyak yang naik dan ancaman cadangan strategis. Namun, rilis laporan pemerintah prospek pasar minyak menyarankan bahwa itu tak dibutuhkan,” tutur analis ANZ Research Brian Martin & Daniel Hynes.

Harga minyak naik 4,2 persen—5,3 persen sejak koreksi di tengah pekan dan kondisi saat ini sejalan untuk melampaui puncak tujuh tahun pada akhir Oktober. Investor telah memborong minyak saat koreksi akibat kondisi pasar yang ketat masih mendominasi sentimen.

Di tengah kenaikan harga itu, kedua harga minyak acuan belum mencapai wilayah jenuh jual, mengacu pada Relative Strength Index (RSI).

“Minyak mentah WTI terlihat membentuk pergerakan lain dari realisasi pada akhir bulan setinggi US$85,41 per barel,” ujar analis pasar senior Oanda, Edward Moya.

American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah. Hal itu pada akhirnya mengonfirmasi laporan sebelumnya yang dirilis oleh EIA.

Menurut sumber pasar, data API menunjukkan stok minyak mentah AS turun 2,5 juta barel untuk pekan yang berakhir 5 November, seperti dikutip dari Antara.

Direktur Utama Vitol Group, Russell Hardy mengatakan permintaan minyak telah kembali ke tingkat pra-pandemi. Perusahaan perdagangan itu, permintaan minyak pada kuartal I/2022 bisa melebihi realisasi pada 2019.

"Kemungkinan lonjakan hingga US$100 dolar per barel jelas ada," kata Hardy.

Menariknya, EIA memproyeksikan bahwa harga bahan bakar minyak terkoreksi dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut, tutur analis Commonwealth Bank, Vivek Dhar, menjadi basis bagi Presiden Joe Biden untuk melepaskan cadangan minyak strategisnya.

"Laporan EIA ... tidak mengekang kekhawatiran bahwa AS akan melepaskan minyak dari cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR)," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.