Prospek Saham TINS 2022 di Tengah Bara Panas Industri Timah

Saham PT Timah Tbk. atau TINS mengalami tekanan yang cukup dalam selama 2 pekan terakhir, imbas jatuhnya harga timah global dan rencana kebijakan pemerintah yang bakal membatasi ekspor dan meningkatkan tarif royalti. Meski begitu, saham TINS dinilai masih menarik karena prospeknya yang menjanjikan.

Emanuel Berkah Caesario
Jun 25, 2022 - 9:43 AM
A-
A+
Prospek Saham TINS 2022 di Tengah Bara Panas Industri Timah

Pekerja mencetak balok timah di pabrik PT Timah Tbk. di Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung. Sumber: MIND.ID

Bisnis, PANGKALPINANG — Kinerja saham PT Timah Tbk. mengalami pelemahan yang cukup dalam selama dua pekan terakhir akibat dihantam sejumlah sentimen negatif beruntun, mulai dari pengetatan moneter global, penurunan harga timah, rencana pelarangan ekspor, hingga kenaikan tarif royalti.

Harga saham emiten berkode TINS ini ditutup di level Rp1.485 pada akhir pekan ini, Jumat (24/6), setelah anjlok 13,66 persen selama sepekan. Dalam 2 pekan terakhir, dari 10 hari perdagangan yang ada, TINS hanya menguat pada 2 hari saja.

Dengan posisi terkini, saham TINS tercatat menyisakan return sebesar 2,06 persen secara year-to-date (YtD). Padahal, sebelumnya saham TINS sempat mencapai level tertinggi sebesar Rp2.070 pada 18 April 2022, atau meningkat 42,27 persen YtD. Namun, seluruh pencapaian itu rontok.

Lantas, dengan kejatuhan harga yang sangat dalam ini, bagaimana prospek saham TINS tahun ini?

Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga timah global hingga Kamis (23/6) ada di level US$26.985 per ton, anjlok 7,12 persen dalam sehari dan 20,89 persen dalam sebulan. Harga timah sempat memuncak di level US$48.650 pada 8 Maret 2022 lalu, tetapi setelahnya mulai melemah.

Grafik perkembangan harga timah global hingga Kamis (23/6). 

Dengan tren pergerakan harga timah yang seperti ini, jelas masuk akal jika saham TINS pun mengalami tekanan jual di pasar.

Lemahnya harga timah tidak terlepas dari faktor kondisi ekonomi global yang ditandai oleh ancaman resesi ekonomi. Amerika Serikat kini sedang mengalami krisis akibat kenaikan inflasi yang memaksa bank sentral negara tersebut menaikan suku bunga dengan sangat agresif yang belum pernah dilakukan hampir dalam 3 dekade terakhir.

Setelah bulan lalu menaikkan suku bunga acuan 50 bps, bulan ini the Fed menaikkan lagi 75 bps. Ketua the Fed, Jerome Powell juga memberi sinyal bahwa dunia kemungkinan sedang berada dalam jalur menuju resesi ekonomi.

Inflasi AS kini sedang sangat tinggi, berada stabil di atas level 8 persen selama 3 bulan beruntun. The Fed berniat menurunkan level tersebut hingga ke 2 persen melalui kebijakan moneternya. Hal ini kemungkinan besar bakal menyebabkan perlambatan drastis laju ekonomi. Dengan kata lain, resesi global.

Kondisi ini sejatinya menjadi alasan utama di balik melemahnya harga saham TINS akhir-akhir ini, kendati pada saat yang sama TINS juga mengalami tekanan domestik akibat wacana pelarangan ekspor dan penetapan tarif royalti progresif.

Menanggapi perkembangan kondisi terkini, manajemen TINS bergeming. Perseroan masih tetap optimistis dalam mencapai target-targetnya dan sama sekali belum berniat untuk merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2022. Perseroan juga menuruti semua ketentuan negara.

Direktur Operasi dan Produksi PT Timah Tbk., Purwoko, mengatakan bahwa perseroan masih optimistis mampu memenuhi target-target yang telah dipatok untuk tahun ini. Lagipula, perseroan juga sudah terbukti berhasil mencetak kinerja yang sangat tinggi pada kuartal pertama tahun ini.

TINS berhasil membukukan laba sebesar Rp601 miliar atau meroket 5.713 persen dibandingkan kuartal I/2021. Selain disebabkan oleh naiknya harga logam timah, hal ini juga dikarenakan efektifitas TINS dalam menekan biaya operasional.

Perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp4,4 triliun atau naik 80 persen dibandingkan dengan kuartal I/2021, dengan peningkatan kinerja laba operasi sebesar 575 persen menjadi Rp885 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp131 miliar.


Purwoko mengatakan bahwa sebagai BUMN, PT Timah tentu akan taat terhadap semua kebijakan negara dan berusaha untuk melakukan yang terbaik guna memenuhi harapan pemerintah. Sementara itu, terkait ancaman kondisi global, perseroan juga belum berniat mengubah target.

“Kita belum ada wacana atau pemikiran untuk merevisi RKAP kita tahun 2022. Kita masih yakin bahwa kita bisa mencapai target-target RKAP itu,” katanya, Rabu (22/6) malam.

Purwoko mengamini bahwa adanya larangan ekspor timah bakal menjadi faktor utama yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Namun, saat ini perusahaan sudah melakukan persiapan untuk menghadapi kebijakan tersebut.

Purwoko mengatakan bahwa RKAP perseroan mencakup target operasi, keuangan, dan pengembangan usaha. Perseroan akan melakukan adaptasi strategi untuk menyikapi perkembangan regulasi terbaru, agar target-target yang sudah dipatok bisa tercapai.

"Justru pengembangan usaha kita dorong, kinerja finansialnya juga kita dorong, tinggal kinerja operasinya [yang akan disesuaikan]," katanya saat ditemui di Pangkalpinang, Rabu (22/6) malam.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, tahun ini perseroan menargetkan produksi sebanyak 35.000 ton. Pada kuartal pertama tahun ini, capaian produksi justru turun 11 persen secara tahunan 4.508 ton, tetapi berkat harga jual yang tinggi, laba TINS justru meroket.

Kondisi yang sama juga terjadi tahun lalu. Produksi bijih timah pada 2021 sebesar 24.670 ton atau turun 38 persen dari tahun sebelumnya 39.757 ton. Sebesar 46 persen berasal dari penambangan darat dan 54 persen berasal dari penambangan laut.

Namun, harga jual rata-rata timah tahun lalu meroket 89 persen dari US$17.215 per ton menjadi US$32.619 per ton, sehingga TINS jutru sukses membalikkan kondisi dari rugi bersih Rp341 miliar pada 2020 menjadi laba Rp1,3 triliun.

Penurunan produksi tidak terlepas dari faktor tantangan produksi yang berat, terutama karena lebih dari 90 persen cadangan timah perseroan kini ada di laut. Demi menopang produksi, perseroan akan menambah enam unit kapal penambangan tahun ini, sehingga total unit kapal perseroan akan mencapai 60 unit.

Untuk menyikapi adanya larangan ekspor, perseroan juga sudah bersiap memperkuat industri hilir melalui PT Timah Industri. Perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi dari dua pabrik produk hilir di Cilegon, Banten, yakni tin chemical dan tin solder, masing-masing minimal dua kali lipat tahun ini.

Sayangnya, hal ini tidak mudah. Investasinya sebenarnya tidak seberapa, tetapi tantangan pemasaranlah yang sulit.

Untuk sekadar meningkatkan kapasitas terpasang pabrik, investasinya hanya sekitar Rp100 miliar untuk menjadikannya dua kali lipat. Ini bisa dilakukan dengan hanya penambah reaktor inti. Ini bisa dibeli seharga Rp35 miliar per unit atau mengalihkan reaktor dari pabrik lain.

“Kalau membangun lengkap, waktunya tentu tidak keburu [jika ditargetkan hingga akhir tahun ini], tetapi kalau hanya menambah reaktor inti, itu bisa kita order, 3 bulan bisa jadi. Untuk memproduksi dobel [dibanding kapasitas tahun lalu], tentu bisa,” katanya.


Perseroan sudah menganggarkan kebutuhan ekspansi pabrik itu dan penambahan kapal ke dalam anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini yang sekitar Rp1,8 triliun hingga Rp2 triliun. Dana tersebut masih mencukupi.

Namun, tantangannya justru dalam memastikan produk hilir tersebut dapat terserap penuh oleh pasar.

Di Cilegon, pabrik tin chemical perseroan yang berkapasitas 10.000 ton per tahun hanya sanggup memproduksi 7.000-an ton tahun lalu, sedangkan tin solder yang berkapasitas 4.000 ton per tahun hanya memproduksi 2.000-an ton saja.

Perseroan menghitung, untuk menampung seluruh produksi timah perusahaan, kapasitas pabrik hilir perlu ditingkatkan antara dua hingga tiga kali lipat. Namun, jika tidak berhati-hati, produksi yang terlalu besar justru terancam tidak terserap atau tidak sesuai dengan kapasitas permintaan di pasar.

Apalagi, di tengah tren penurunan permintaan dan harga timah saat ini, kapasitas produksi yang berlebihan bisa jadi mubasir. Oleh karena itu, saat ini perseroan sedang berfokus melakukan penjajakan pasar guna menentukan keputusan final peningkatan kapasitas produksi.

“Makanya, kami lagi intens [berdiskusi] dengan holding, dengan MIND.ID, bagaimana mengembangkan dan membuat strategi korporasi untuk menggabungkan antara strategi produksinya dan strategi marketing-nya,” kata Purwoko.

Dia menyebutkan saat ini perseroan memiliki dua perusahaan trading di luar negeri yang bisa diandalkan sebagai garda terdepan untuk memasarkan produk timah hilir yang akan diproduksi nanti. Meski menantang, dia meyakini potensi pasar timah hilir sangat besar.

Adapun, pada 2021 lalu, sebanyak 95 persen produk timah perseroan adalah untuk pasar ekspor. Larangan ekspor balok timah atau ingot jelas bakal signifikan pengaruhnya. Oleh karena itu, percepatan hilirisasi menjadi kunci bagi perseroan untuk memastikan kinerjanya tetap baik-baik saja.

Selama ini, TINS konsisten menjadi produsen timah terbesar kedua dunia setelah Yunnan Tin dari China. Hanya pada 2019 lalu TINS berada di posisi pertama, tetapi selebihnya relatif konsisten di posisi kedua. Namun, mayoritas penjualan memang dalam bentuk ingot.

Dalam hal ini, posisi tawar TINS bisa jadi cukup besar jika nantinya mengekspor komoditas hilir. Pasar yang ditinggalkan TINS tidak mudah diganti oleh produsen lain, sebab sangat besar. Mau tidak mau, pasar kemungkinan besar akan tetap menerima produk hilir perseroan.

Hanya saja, selama ini TINS lebih dikenal sebagai eksportir logam tanah. Kontribusi tin chemical dan tin solder terhadap total pendapatan perseroan masih sangat minim, masing-masing hanya sekitar 7,5 persen dan 1,4 persen dari total pendapatan 2021.

 

PROSPEK SAHAM

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, mengatakan bahwa ekspansi produk hilir TINS perlu dilakukan dengan hati-hati sembari melihat kondisi pasar saat ini. Kenyataannya, harga timah global kini cenderung turun yang mengindikasikan penurunan permintaan.

"Jika permintaan belum akan meningkat signifikan maka TINS perlu menyesuaikan kapasitas produksinya agar tidak idle timah yang diproduksi. Kalau target 2 hingga 3 kali lipat, saya pikir perlu penyesuaian nantinya," katanya kepada Bisnis, Kamis (23/6).

Reza juga mempertanyakan kesiapan pasar domestik untuk menyerap produk timah jika larangan ekspor jadi diberlakukan. Hal ini dapat menjadi sentimen yang kurang menguntungkan bagi TINS, sebab belum tentu kebutuhan domestik akan mampu mengimbangi potensi pendapatan yang hilang dari ekspor.

Reza mengatakan, posisi harga saham TINS kini sudah cukup murah. Jika target peningkatan kapasitas hilirisasinya bisa tercapai, ditambah lagi dengan upaya efisiensi usaha, harganya bisa menembus level Rp2.100.

Seperti diketahui, TINS kini sedang menyelesaikan pabrik smelter baru dengan teknologi TSL ausmelt furnace yang lebih efisien dibanding reverberatory furnace. Proyek itu ditargetkan rampung akhir tahun ini. Jika rampung, margin TINS tentu bakal makin tebal.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa emiten tambang memang perlu untuk meningkatkan hilirisasi produknya guna meningkatkan nilai tambah dan memperbesar kinerja keuangan dalam jangka panjang.

Saat ini, kondisi harga timah global mulai mendingin. Momentum larangan ekspor menjadi kesempatan untuk menggenjot produk hilir yang harganya lebih tinggi, sehingga nantinya mampu mengimbangi tekanan harga jual komoditas timah mentah atau setengah jadi.

Dengan menggenjot hilirisasi tahun ini, perusahaan tambang akan memiliki kinerja yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, dirinya menilai positif langkah pemerintah ini, meski tentu akan ada konsekuensi jangka pendek.

"Asal nanti implementasi hilirisasi itu benar-benar berjalan baik. Kalau nanti berjalan di tempat, itu akan menjadi faktor negatif bagi TINS, di samping faktor penurunan harga komoditas," katanya.

Menurutnya, jatuhnya harga saham TINS akhir-akhir ini memang lebih banyak disebabkan oleh turunnya harga timah dunia. Kebijakan pengetatan moneter bank sentral global menyebabkan harga komoditas mulai tertekan.

Namun, dirinya meyakini faktor ini tidak akan bertahan lama. Dalam jangka panjang harganya akan meningkat lagi, apalagi timah adalah komoditas yang sangat strategis. Dalam hal ini, memang lebih baik bagi TINS untuk mempersiapkan produk hilirnya agar ketika harga pulih, penjualannya pun bakal meningkat pesat. Hal itu bakal kembali melambungkan harga saham TINS.

Menurutnya, level support bagi saham TINS kini ada di level Rp1.240. Harga saham TINS masih bisa turun ke level itu jika faktor-faktor negatif justru menguat, seperti pengetatan moneter dan penurunan harga timah. Namun, jika nantinya sentimen timah berbalik positif, harganya akan kembali meningkat.

Dirinya memperkirakan level resistance TINS dalam jangka panjang akan ada di level Rp2.290. Ini bisa dicapai jika kapasitas dan kapabilitas hilirisasi perusahaan benar-benar meningkat di saat harga komoditas kembali dalam siklus peningkatan.

"Rp2.290 bisa dicapai dalam jangka panjang kalau komitmen hilirisasi ini kuat, pemerintah juga komitmen mendukung ekosistem industri ini dari hulu ke hilir, dan juga ada pertumbuhan dari sisi top line dan bottom line," katanya.

Nafan tidak khawatir dengan adanya pelarangan ekspor jika TINS mampu menggenjot peningkatan kapasitas produksi hilirnya sesuai yang ditargetkan, yakni minimal dua kali lipat.

Peningkatan kapasitas produk hilir bernilai tinggi itu akan cukup untuk mengimbangi tekanan penjualan produk mentah dan setengah jadi yang murah.

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Prospek Saham TINS 2022 di Tengah Bara Panas Industri Timah

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ