Prospek Solid Pertumbuhan Industri Farmasi Nasional Pascapandemi

Per kuartal III/2021, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 9,71 persen secara year on year (YoY). Capaian tersebut menjadikannya sebagai salah satu penopang kinerja manufaktur pada kuartal tersebut.

Reni Lestari

19 Nov 2021 - 12.12
A-
A+
Prospek Solid Pertumbuhan Industri Farmasi Nasional Pascapandemi

Industri farmasi/indianmirror

Bisnis, JAKARTA — Kendati kurva penyebaran Covid-19 di Indonesia mulai melandai, permintaan terhadap produk industri farmasi diproyeksi tetap kuat. Dengan demikian, sektor ini diyakini terus bertumbuh secara solid pascapandemi.

Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin Muhammad Taufiq menjabarkan per kuartal III/2021, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 9,71 persen secara year on year (YoY).

Angka tersebut menjadikannya sebagai salah satu penopang kinerja manufaktur pada kuartal tersebut.

"Diperkirakan [industri kimia, farmasi, dan obat tradisional] masih akan terus tumbuh pada masa depan. Proyeksi ini berdasarkan fakta kebutuhan obat di dalam negeri saat ini sudah dipenuhi oleh industri farmasi di dalam negeri," katanya, Jumat (19/11/2021).

Taufiq mengelaborasi sekitar 76 persen kebutuhan obat telah mampu disuplai oleh industri farmasi domestik.

Sementara itu, 24 persen sisanya yang masih diimpor merupakan obat-obat paten dan berteknologi tinggi.

Dia pun mengatakan pertumbuhan industri ditopang oleh melonjaknya permintaan akan barang-barang terkait Covid-19 selama pandemi.

Sebelumnya, pertumbuhan industri tercatat 9,15 persen pada kuartal II/2021 dan 11,46 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan untuk importasi produk farmasi dalam kode HS 30, yakni sebesar US$163,2 juta pada Oktober 2021 dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Penurunan kasus Covid-19 ditengarai menyebabkan terpangkasnya impor produk-produk antivirus yang sebagian besar masih merupakan obat paten.

Taufiq menjelaskan untuk menjaga ketersediaan obat terapi Covid-19 pemerintah telah mendorong penggunaan skema government use atau paten pemerintah untuk 3 molekul bahan baku obat (BBO). Ketiganya yakni favipiravir, remsedivir, dan tocilizumab.

"Sudah banyak industri yang memproduksi obat favipiravir seperti Kimia Farma dengan kapasitas 25 juta tablet per bulan, Kalbe Farma dengan kapasitas 20 juta tablet persen bulan, Novell Pharmaceutical dan lain-lain," ujar Taufiq.

Di sisi lain, produsen BBO dalam negeri PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) telah memasarkan enam jenis bahan baku ke industri farmasi, antara lain dua BBO antikolesterol yaitu simvastatin dan atorvastatin, antiplatelet untuk pengobatan hipertensi yaitu clopidogrel, antivirus untuk hepatitis yaitu entecavir, dan dua antiretroviral (ARV) untuk pengobatan HIV AIDS yaitu lamivudin dan zidovudin.

Presiden Direktur KFSP Pamian Siregar mengatakan total ada 10 jenis BBO yang telah berhasil dikembangkan perseroan.

Empat jenis BBO yang belum diserap, masih dalam proses peralihan sumber bahan baku di beberapa industri farmasi.

"Titik kekuatannya adalah bahwa BBO yang diproduksi dalam negeri sudah dapat berkontribusi untuk menurunkan impor BBO," kata Pamian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.