Prospek Utang Negara Hingga Akhir Tahun

Sejumlah tantangan menghadang rencana penerbitan surat berharga negara (SBN) atau obligasi pemerintah pada sisa tahun ini. Kendati demikian, agaknya investor masih tetap bakal menanti penerbitan baru, termasuk seri ritel yang dinanti masyarakat.

Rizqi Rajendra

5 Okt 2023 - 18.37
A-
A+
Prospek Utang Negara Hingga Akhir Tahun

Ilustrasi Surat Berharga Negara (SBN)./Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Pasokan Surat Berharga Negara (SBN) jelang akhir tahun masih berlimpah dengan pemerintah yang menargetkan penggalangan dana Rp168 triliun, kedua terbesar setelah target pada kuartal I/2023 yakni Rp221 triliun.

Penggalangan dana dari 11 kesempatan lelang tersisa ini menghadapi sejumlah tantangan yakni salah satunya tekanan di pasar surat utang yang berpotensi mengerek biaya dana.

Hingga penutupan pasar terakhir, imbal hasil SUN acuan tenor 10 tahun mencapai 7,08 persen akibat gejolak di pasar surat utang global dan melemahnya kinerja rupiah di hadapan dolar AS.

Direktur Utama Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menilai prospek pasar obligasi Indonesia secara keseluruhan masih cukup baik hingga akhir tahun.

"Namun, pasar obligasi akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia [BI], perkembangan ekonomi global, dan sentimen pasar," terangnya kepada Bisnis, Kamis (5/10/2023).

Baca Juga : Asean Menjaga Momentum Pertumbuhan 


Menurutnya, pemerintah Indonesia mungkin akan memantau tingkat suku bunga yang meningkat dan aksi jual obligasi. Pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian atau down size dalam penerbitan SBN jika kondisi pasar memerlukan penyesuaian, bergantung pada kebutuhan pendanaan, saldo kas, dan kondisi pasar.

Selain itu, Kemenkeu berencana menerbitkan dua seri Surat Berharga Negara (SBN) Ritel hingga akhir 2023. Di antaranya yakni, obligasi negara ritel seri ORI024 dan sukuk tabungan seri ST011. Adapun, besaran pagunya bakal ditentukan kemudian bersama dengan besaran bunganya.

Menurut Guntur, penyerapan SBN ritel bakal bergantung pada berbagai faktor, termasuk tingkat suku bunga yang ditawarkan dan preferensi investor. 

Baca Juga : Benci Tapi Rindu Warga RI sama Pajak dan Bea Cukai 

Jika tingkat suku bunga yang ditawarkan tetap kompetitif dan mengikuti tren pasar, SBN ritel masih dapat diminati oleh investor yang mencari instrumen investasi yang relatif aman. Namun, pemerintah mungkin perlu memastikan tingkat suku bunga yang menarik menjaga minat investor.

Sementara itu, pasar obligasi negara bakal ditopang oleh sejumlah sentimen positif meliputi kebijakan pemerintah yang mendukung stabilitas ekonomi dan keuangan, permintaan dalam negeri yang kuat, serta ketertarikan investor asing terhadap SBN RI. Selain itu, jika inflasi tetap terkendali, itu juga dapat mendukung pasar obligasi.

"Sentimen negatif mungkin termasuk ketidakpastian politik, ketidakstabilan global, dan perkembangan yang mengarah pada kenaikan suku bunga lebih lanjut. Perubahan dalam kebijakan moneter global, terutama di Amerika Serikat, dapat berdampak pada pasar obligasi RI," tambahnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.