Proyeksi Ekonomi RI 2023 dari World Bank, OECD, ADB, hingga IMF

Berikut proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 seperti dikutip dari laporan World Bank, OECD, ADB, hingga IMF.

Jaffry Prabu Prakoso

7 Apr 2023 - 20.38
A-
A+
Proyeksi Ekonomi RI 2023 dari World Bank, OECD, ADB, hingga IMF

Gedung di Jakarta. Beberapa lembaga internasional memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. /Bisnis-Eusibio Chrysnamurti.

Bisnis, JAKARTA – Sejumlah lembaga internasional seperti Bank Dunia (World Bank), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Asian Development Bank (ADB), hingga International Monetary Fund (IMF) terus memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. 

Mempertimbangkan terus berlanjutnya tekanan global terutama di sektor keuangan, membuat berbagai lembaga tersebut mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Pemerintah Indonesia sendiri menetapkan target untuk pertumbuhan ekonomi 2023 sebesar 5,3 persen. Angka itu hampir sama dengan capaian 2022, yaitu sebesar 5,31 persen.

Bank Indonesia (BI) mencatat capaian tersebut akan didorong oleh peningkatan permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi. 

Prakiraan tersebut sejalan dengan naiknya mobilitas masyarakat pascapenghapusan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), membaiknya prospek bisnis, meningkatnya aliran masuk penanaman modal asing (PMA), serta berlanjutnya penyelesaian proyek strategis nasional (PSN).

Berikut proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 versi World Bank, OECD, ADB, hingga IMF

1. Bank Dunia 

Bank Dunia dalam laporan East Asia and The Pacific (EAP) Economy Update edisi April 2023 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, akan terjadi perlambatan menuju level 4,9 persen untuk 2023. 

Sebelumnya pada Oktober 2022 lalu, Bank Dunia menaruh proyeksi di posisi 5,1 persen untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023. 

Baca juga: Menanti Realisasi Investasi 2023 Terdongkrak UU Cipta Kerja

Meski demikian, permintaan domestik diperkirakan akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan, inflasi yang tinggi kemungkinan akan mengurangi konsumsi swasta. 

Selain itu, utang rumah tangga yang tinggi di beberapa negara EAP dapat memperburuk dampak suku bunga yang tinggi, menambah beban keuangan, dan selanjutnya membebani konsumsi. 

Pertumbuhan investasi swasta juga diperkirakan akan tertahan oleh lingkungan suku bunga yang tinggi dan ketidakpastian dari tantangan eksternal. Kontribusi dari ekspor diperkirakan akan menurun akibat moderasi pertumbuhan global yang berdampak pada perlambatan permintaan eksternal.

2. ADB

Asian Development Bank (ADB) dalam laporan terbarunya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun konsolidasi ini akan melambat ke tingkat 4,8 persen dan akan kembali meningkat ke 5 persen pada 2024.

Baca juga: Saatnya Petugas Pajak Tak Hanya Mahir Berburu di Kebun Binatang

Menurut ADB, proyeksi ini mengasumsikan kemerosotan ekonomi akibat pandemi dan tidak ada reformasi struktural besar tambahan. Defisit anggaran diperkirakan akan tetap berada di bawah pagu wajib sebesar 3 persen dari PDB. 

Inflasi diperkirakan akan menurun lebih lanjut menjadi 3 persen pada 2024, sesuai dengan target bank sentral sebesar 2–4 persen. Pertumbuhan ekspor dan impor akan menjadi sekitar 6 persen, dengan pariwisata pulih ke tingkat pra-pandemi. 


Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan Meikarta, Bekasi, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Abdurachman


Neraca berjalan diproyeksikan surplus selama 2023 dan 2024. Seiring waktu, langkah-langkah seperti aturan anti-deforestasi Uni Eropa dan mekanisme penyesuaian batas karbon dapat menghambat prospek ekspor Indonesia.

Direktur ADB untuk Indonesia Jiro Tominaga menyampaikan tekanan global pada 2023 diproyeksikan akan memangkas pertumbuhan ekspor, meski transaksi berjalan diperkirakan akan tetap mendekati seimbang.  

“Namun karena pengeluaran rumah tangga merupakan kontributor besar perekonomian Indonesia, kembali normalnya belanja konsumen dan manfaat dari penurunan inflasi akan menopang pertumbuhan. Meskipun demikian, investasi kemungkinan belum akan menguat karena dunia usaha masih wait and see,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (4/4/2023). (Annasa Rizki Kamalina)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.