Pulu Raja, Kebun Sawit Warisan VOC Paling Produktif

PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) membuktikan penerapan sistem kebun lestari tak berarti menghambat produktivitas kebun kelapa sawit. Di Pulu Raja, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, mereka meraih panen hingga 32 ton per hektare (ha) per tahun tanam.

Redaksi

16 Nov 2023 - 15.09
A-
A+
Pulu Raja, Kebun Sawit Warisan VOC Paling Produktif

Kebun Pulu Raja adalah kebun sawit tertua di Indonesia yang ditanam secara komersial sejak 1912 oleh pemerintahan kolonial Belanda. - Foto k68

Bisnis, ASAHAN–-PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) membuktikan penerapan sistem kebun lestari tak berarti menghambat produktivitas kebun kelapa sawit. Di Pulu Raja, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, mereka meraih panen hingga 32 ton per hektare (ha) per tahun tanam.

Capaian hasil panen tersebut tentu saja berada jauh di atas rata-rata produktivitas perkebunan sawit nasional, yang berada di kisaran 19-24 ton sawit per ha per tahun.

Kebun Pulu Raja atau yang lebih dikenal sebagai PTPN IV Pulu Raja adalah kebun warisan VOC di zaman penjajahan Belanda. Kebun ini dibangun sejak 1912, dan kemudian nasionalisasi menjadi BUMN perkebunan di era Presiden Soekarno Soekarno, tepatnya pada 1959.

Daniel Simamora, Asisten Manajer Tanaman Kebun Pulu Raja PTPN IV, mengatakan  pengetatan manajemen perkebunan dalam pemenuhan standar RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) tidak menghalangi anak perusahaan BUMN itu mencapai hasil tertinggi panen sawit di unit Kebun Pulu Raja.

“Kalau dirunut secara tahun tanam, kami pernah panen 32 ton per hektare untuk pohon dengan usia 12 tahun," kata Daniel kepada Tim Jelajah Kebun dan Pabrik Palm Oil 2023 yang berkunjung ke Asahan, Kamis (16/11/2023).

Saat ini, Kebun Pulu Raja bahkan diuntungkan karena seluruh pohon sawit ada di usia produktif. Bahkan, sampai 10 tahun mendatang, pihak Kebun Pulu Raja tak perlu melakukan replanting karena semua masih di usia produktif.

Selain usia tanaman yang produktif, tingginya hasil panen kebun peninggalan kolonial ini karena manajemen pengelolaan kebun yang bagus, mulai dari penyiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman, pemupukan dan pemeliharaan kebun.

“Hasil panen yang cukup tinggi itu karena kami mencoba melakukan manajemen penanaman yang fokus pada hasil dengan mengedepankan prinsip manajemen kebun berstandar RSPO sejak 2010,” ujar Daniel.

BACA JUGA: Kebun Sawit Tertua di Indonesia Serius Kembangkan Sawit Lestari

BACA JUGA: Peluang Terbuka Biomassa Sawit Menyubstitusi Batu Bara


PTPN IV Pulu Raja menganut prinsip mass balance

SERTIFIKAT RSPO

Otneil Tampubolon, Asisten Manajer PTPN IV Kebun Pulu Raja, menambahkan kebun unit usaha Pulu Raja terus berpedoman pada prinsip berkelanjutan dalam menjalankan industri minyak sawitnya. Apalagi sejak unit usaha Pulu Raja ini tersertifikasi RSPO sejak 2010.

“Pulu Raja menjadi yang pertama di unit usaha PTPN IV yang mendapatkan sertifikasi RSPO pada 2010 bersama unit Pabatu dan Adolina. Jadi, semua kegiatan, baik di pabrik maupun di kebun, harus menerapkan bahkan meningkatkan prinsip-prinsip yang berkelanjutan itu,“ kata Otneil.

Jerry Budiman Harianja, Asisten Quality Assurance Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Kebun Pulu Raja, mengatakan prinsip berkelanjutan yang sesuai standar RSPO dimulai dari status TBS (tandan buah segar) yang masuk ke pabrik.

Selain TBS dari kebun sendiri, pabrik PTPN IV Pulu Raja juga menerima TBS dari petani sekitar. Tren saat ini, katanya, TBS yang dipasok kebun PTPN IV Pulu Raja rata-rata 380 ton per hari, sementara pasokan TBS dari masyarakat atau petani 70-80 ton per hari.

Administrasi atau pencatatan TBS yang berstatus certified (dari kebun PTPN IV Pulu Raja) maupun non-certified (dari pihak ketiga atau petani di luar kebun Pulu Raja) menjadi hal krusial untuk memudahkan penghitungan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) yang dihasilkan.

“Prinsip dalam RSPO ada yang mass balance [penggabungan], ada pula yang pemisahan," kata Jerry.

Adapun PTPN IV Pulu Raja menganut prinsip mass balance, yang mana proses produksi TBS yang certified maupun yang non-certified itu digabung, sehingga CPO-nya nanti berada dalam satu tangki timbun.

Di sinilah pentingnya pencatatan TBS yang masuk tadi agar PTPN IV Pulu Raja bisa menghitung masing-masing CPO dari TBS kebun sendiri dan dari TBS pihak ketiga.

"Ini kaitannya juga nanti dengan penjualan CPO. Jangan sampai produk nonsertifikat dijual ke konsumen yang meminta CPO ber-RSPO karena bisa menimbulkan masalah,“ kata Jerry.


Kebun Pulu Raja punya pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 30 ton per jam. - foto k68Sesuai prinsip tersebut, Manajemen Tanaman Kebun Pulu Raja PTPN IV wajib memberi stempel pada setiap surat pengiriman TBS dari kebun ke pabrik. Ini berhubungan mass balance RSPO.

"Stempel tersebut sebagai validasi TBS yang masuk ke pabrik karena pabrik ini sendiri sudah tersertifikasi RSPO. Jadi, meskipun satu manajemen atau dari kebun kami sendiri (PTPN IV Pulu Raja) kalau tidak memenuhi standar RSPO ya tidak bisa masuk ke pabrik," papar Daniel.

Kebun Pulu Raja adalah kebun sawit tertua di Indonesia yang ditanam secara komersial sejak 1912 oleh pemerintahan kolonial Belanda. Pulu Raja yang terletak di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, ini merupakan satu dari 30 unit usaha PTPN IV yang mengelola budidaya kelapa sawit.

Saat ini, kebun Pulu Raja memiliki areal tanaman produksi seluas 3.824 hektare dengan dukungan pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 30 ton per jam yang beroperasi di tengah perkebunan Pulu Raja. Adapun PTPN IV memiliki 16 pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas total 635 ton TBS per jam. (k68)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.