Ragam Gimik Startup VHO Berkelit dari Tutup Usia

Bisnis startup virtual hotel operator (VHO) akan mulai beranjak kembali ke kondisi normal pada awal 2023. Sembari itu, para pelaku industri ini dinilai perlu melakukan strategi pivot untuk menghindari risiko gulung tikar.

30 Jul 2021 - 16.09
A-
A+
Ragam Gimik Startup VHO Berkelit dari Tutup Usia

Ilustrasi pemesanan hotel melalui platform daring./istimewa

Bisnis, JAKARTA — Bisnis startup bidang operator hotel virtual bakal membutuhkan waktu cukup panjang agar bisa kembali bergairah seperti sebelum pandemi. Untuk itu, strategi pivot bisnis harus segera ditempuh pemain sektor ini demi menghindari risiko gulung tikar.

Sebulan terakhir, perusahaan rintisan di segmen operator hotel virtual atau virtual hotel operator (VHO) sangat terdampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang memicu anjloknya permintaan layanan akomodasi untuk pelesir.

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda memprediksi bisnis VHO akan mulai beranjak kembali ke kondisi normal pada awal 2023.

“Untuk kuartal III/2021, performa bisnis [VHO diperkirakan terkoreksi] sekitar 5%. Bahkan, bisa lebih jika perpanjangan PPKM terus dilakukan,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (29/7/2021).

Dia mengelaborasi tekanan pada bisnis VHO terefleksi dari sejumlah startup di sektor ini yang menghentikan operasinya akibat pembatasan mobilitas masyarakt. Misalnya, Airy.

“Terlebih, akhir-akhir ini masyarakat masih enggan untuk menginap di hotel, termasuk hotel jaringan VHO. Liburan juga dibatasi yang membuat pelaku VHO makin terpuruk,” katanya.

Bagaimanapun, Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang menilai startup VHO masih memiliki keunggulan untuk memperpanjang napas dibandingkan dengan operator hotel konvensional.

“Keunggulan pemain VHO adalah jaringan mitra hotel yang menyebar di seluruh Indonesia. Dengan keunggulan tersebut, subsidi silang antarhotel yang masih bisa diharapkan untku menjalankan bisnisnya. Pendapatan dari wilayah PPKM Level 1 dan 2 masih bisa mengompensasi penurunan permintaan hotel di wilayah PPKM Level 3 dan 4,” ujarnya.

Selain itu, Dianta juga menilai tiap pemain VHO perlu melakukan pivot bisnis dan melihat peluang lainnya, seperti menggunakan okupansi kamar untuk kebutuhan isolasi mandiri masyarakat.

Ruang umum Sans Hotel. /Reddoorz

STRATEGI ANDALAN

Dari sisi pelaku VHO, RedDoorz mengandalkan sejumlah strategi untuk bisa beradaptasi sepanjang penerapan PPKM.

President Director RedDoorz Indonesia Mohit Gandas mengatakan saat ini kiat utama yang mereka lakukan adalah terus menjalankan program HygienePass dan memastikan tiap akomodasi RedDoorz telah menerapkan protokol kesehatan ketat.

Untuk diketahui, HygienePass merupakan program sertifikasi yang ditujukan bagi akomodasi serta mitra properti RedDoorz, hasil kerja sama dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

“Tentunya, program ini juga berperan dalam memberikan rasa aman kepada pelanggan kami,” tutur Mohit.

Mohit menyebutkan, sebagai perusahaan teknologi yang bergerak di bidang perhotelan, maka setiap pemain VHO harus terus berinovasi untuk menghadirkan akomodasi yang lebih menarik bagi semua lapisan masyarakat

“Untuk Reddoorz, kami menghadirkan SANS Hotel yang menargetkan milenial dan Sunerra Hotels untuk pebisnis dan keluarga yang baru kami luncurkan tahun ini,” ujarnya.

Hingga saat ini, lebih dari 700 properti Reddoorz—termasuk Sans Hotel—di 70 kota di Indonesia telah memperoleh sertifikasi Hygienepass. Sertifikat tersebut bertujuan untuk membantu para pemilik hotel selama pandemi dalam meningkatkan jumlah okupansi.

Pemain lainnya, RoomMe, memilih untuk bermitra dengan penyedia layanan teknologi Hypernet guna menghadirkan fitur RoomMe Always On.

Chief Executive Officer RoomMe Glen Ramersan mengatakan saat ini fasilitas internet menjadi salah satu kebutuhan untuk kenyamanan penghuni indekos mereka.

Berdasarkan survei perusahaan, terdapat 36% responden yang mengungkapkan bahwa fasilitas koneksi internet di indekos mereka seringkali tidak stabil dan 7% responden mengaku indekos mereka tidak dilengkapi fasilitas internet.

Dia mengatakan kerja sama dengan Hypernet menargetkan ribuan indekos RoomMe di seluruh Indonesia dan akan berjalan secara bertahap mulai dari pertengahan 2021 hingga akhir 2022.

“Menurut hasil survei yang dilakukan RoomMe, sebanyak 72,4% responden tenant indekos menganggap internet adalah faktor utama saat mereka memilih tempat indekos,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan fasilitas internet stabil menjadi salah satu prioritas perusahaan untuk para penyewa guna mengatrol tingkat okupansi.

OYO Hotels & Homes/Istimewa

JANGKA PANJANG

Di sisi lain, OYO mulai menggeser prioritas layanan mereka untuk memenuhi kebutuhan akomodasi jangka panjang selama PPKM.

Country Head OYO Indonesia Agus Hartono Wijaya mengatakan sebelumnya tren pemesanan didominasi oleh penginapan untuk jangka pendek-menengah dengan rata-rata durasi menginap 1—3 hari.

“Namun, dalam dua bulan terakhir terdapat lebih banyak pemesanan kamar yang dilakukan untuk jangka panjang dengan rata-rata durasi menginap 7—14 hari,” katanya.

Untuk mengakomodasi perubahan tren tersebut, perusahaan melakukan pivot bisnis dengan menghadirkan paket layanan menginap jangka panjang, sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Selain itu, OYO melakukan pengalihan fungsi hotel dalam beberapa kondisi tertentu, salah satunya antisipasi peningkatan kasus positif Covid-19.

Agus melanjutkan, perusahaan turut menggelar program VaccinAid, yang merupakan program jangka panjang dari perusahaan untuk memastikan properti mitra dan pekerjanya telah divaksinasi Covid-19.

“Saat ini, program VaccinAid difokuskan kepada vaksinasi pekerja frontline, seperti resepsionis, petugas keamanan dan kebersihan di berbagai property mitra OYO di Indonesia,” ujarnya.

Inisiatif ini berangkat dari temuan survei internal OYO yang menunjukkan bahwa 87% responden survei menyatakan mereka lebih suka hotel dengan staf yang sudah divaksinasi ketika mereka kembali menginap di hotel.

Hingga saat ini, telah ada lebih dari 50 properti OYO yang tersebar di pulau Jawa dan Bali dengan star yang telah divaksinasi dan mendapatkan label VaccinAid.

“OYO menargetkan, setidaknya 100 properti mitranya bisa mendapatkan label VaccinAid hingga akhir Juli 2021 dan percepatan pada setiap bulan berikutnya,” katanya.

Senada dengan OYO, penyedia layanan pencarian dan sewa indekos, Mamikos, juga melihat permintaan akan hunian sementara meningkat selama PPKM.

Co-founder dan CEO Mamikos Maria Regina Anggit mengatakan masyarakat mencari hunian yang tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga penerapan protokol kesehatan.

Dia melanjutkan, pada kuartal I/2021—kuartal II/2021, produktivitas dan permintaan akan kebutuhan hunian mereka mengalami kenaikan sekitar 20%—25% setiap bulannya.

“Terutama dalam hal penetrasi bisnis-bisnis Mamikos ke pasar mulai dari MamiAds hingga Manajemen Properti Singgahsini-Apik serta jumlah pelanggan yang menempati kamar kos. Bahkan, pada Juni naik 1,5—2 kali lipat [jumlah tenant],” katanya.

Maria mengamini PPKM memang membuat mobilitas terhambat sehingga aktivitas pelanggan yang ingin melakukan survei kos menjadi terhambat, juga ada rasa waswas baik dari sisi Mitra Mamikos (pemilik kos) maupun pelanggan untuk berinteraksi.

Untuk mengantisipasi persoalan itu, perusahaan menggunakan ragam strategi, mulai dari tur secara virtual (virtual tour), kos higienis, dan label khusus di mamikos serta promosi khusus.

“Target Mamikos secara general adalah bagaimana selalu meningkatkan performa bisnis mitra dan tenant-nya dari waktu ke waktu. Dengan begitu, penetrasi produk-produk Mamikos juga akan terbangun sendiri secara organik di pasar,” ujarnya.

 Reporter : Akbar Evandio

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.