Rasio Kecukupan Modal Mengetat, Jasindo Pastikan Bisnis Aman

Pada kuartal III/2021, rasio RBC Jasindo hanya 121,39 persen, turun dari posisi kuartal III/2020 yang mencapai 164,45 persen. RBC tersebut sangat tipis dari ketentuan ambang batas yang ditetapkan OJK, yakni minimal sebesar 120 persen.

Denis Riantiza Meilanova

20 Nov 2021 - 18.42
A-
A+
Rasio Kecukupan Modal Mengetat, Jasindo Pastikan Bisnis Aman

Pekerja beraktifitas di depan logo asuransi Jasindo di Jakarta, Rabu (12/8/2020). Bisnis/Abdurachman

Bisnis, JAKARTA — PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo memastikan permodalan perseroan masih terjaga, meski rasio kecukupan modal atau risk based capital (RBC) perseroan menipis.

Pada kuartal III/2021, Jasindo mencatatkan rasio pencapaian pemenuhan tingkat solvabilitas perseroan sebesar 121,39 persen. Angka ini turun dari posisi kuartal III/2020 yang mencapai 164,45 persen.

Rasio solvabilitas atau RBC tersebut sangat tipis dari ketentuan ambang batas yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni minimal sebesar 120 persen.

Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Cahyo Adi mengakui bahwa RBC perseroan saat ini memang mepet dengan ketentuan yang dipersyaratkan OJK.

Dia menjelaskan, turunnya RBC tersebut disebabkan adanya penempatan investasi yang melebihi dari aset yang diperkenankan. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap perhitungan RBC perseroan.

"Kami punya investasi yang signifikan, intinya melebihi aset yang diperkenankan. Jadi, untuk menghitung RBC tidak menguntungkan," ujar Cahyo kepada Bisnis, Kamis  (18/11) malam.

Meskipun demikian, dia memastikan perseroan tidak terkendala dan masih sanggup untuk menyelesaikan pembayaran klaim-klaim dengan nilai besar.

Di sisi lain, perseroan juga telah memiliki jejaring kuat dengan reasuransi di luar negeri untuk menyokong perseroan dalam menyelesaikan klaim-klaim polis asuransi korporasi yang bernilai besar.

"Untuk bisnis-bisnis korporasi biasanya nilainya besar dan keterlibatan reasuransi sangat tinggi. Secara permodalan, secara nilai tidak mungkin dikover lokal semua, jadi dibawa ke luar. Nah, jaringan itu yang dimiliki Jasindo dan didapat dari kepercayaan yang telah berjalan lama. Tidak mudah bagi perusahaan asuransi baru untuk mendapatkan kepercayaan itu. Ini yang jadi pegangan customer kami masih percaya kepada Jasindo," tuturnya.

Menurutnya, penempatan investasi yang melebihi batasan yang telah ditetapkan OJK memang tidak akan dikenai sanksi. Namun, secara perhitungan akan membuat posisi RBC tidak menguntungkan.

Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan upaya-upaya perbaikan untuk meningkatkan kembali RBC, yakni melakukan penyesuaian portofolio investasi sesuai dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan OJK.

"Pengalihan portofolio investasi itu lebih menguntungkan jika ditetapkan sesuai kebijakan OJK dengan batas-batas yang ada. Walaupun kalau melanggar tidak ada sanksinya, tapi dari sisi hitung-hitungan RBC lebih menguntungkan itu tepat di batasan-batasan yang ditentukan. Kami lakukan perubahan itu," jelasnya.

Dia pun memastikan bahwa menipisnya RBC ini bukan disebabkan oleh permodalan perseroan yang terganggu.

"Tidak ada masalah (permodalan). Insyaallah ke depan akan aman. Secara cashflow kami juga masih sangat baik," tuturnya.

Sebelumnya, Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK Moch. Ihsanuddin mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan manajemen Jasindo untuk meminta penjelasan dan menyiapkan langkah antisipasi ke depan terkait menipisnya RBC.

"Terkait RBC tersebut sudah dilakukan supervisory meeting dengan manajemen agar dilakukan pembahasan yang komprehensif terkait penyebab dan antisipasi ke depan," ujar Ihsanuddin kepada Bisnis.

Adapun, sampai dengan kuartal III/2021, jumlah investasi Jasindo mencapai Rp3,98 triliun atau tumbuh 26,35 persen dibandingkan dengan kuartal III/2020 yang mencapai Rp3,15 triliun.

Porsi terbesar penempatan investasi berada di instrumen deposito berjangka yang mencapai 50,5 persen dari total jumlah investasi.  Kemudian disusul oleh penyertaan langsung sebesar 20,25 persen, surat berharga negara 13,3 persen, reksa dana 8,04 persen, obligasi korporasi 7,6 persen, dan sisanya ditempatkan di saham.

KINERJA MONCER

Kinerja tujuh lini bisnis yang dijalankan Jasindo pun terlihat mengalami pertumbuhan premi yang cukup sehat per Oktober 2021. Ketujuh lini bisnis itu antara lain, lini bisnis asuransi properti, asuransi marine hull, asuransi bonding yang masuk dalam asuransi keuangan, asuransi aviasi, asuransi kesehatan, asuransi kargo, dan asuransi engineering yang masuk dalam asuransi rekayasa.

“Pertumbuhan cukup signifikan, terutama untuk asuransi marine hull yang mencapai 85 persen,” kata Cahyo.

Per Oktober 2021, perolehan premi untuk asuransi marine hull mencapai Rp375 miliar atau naik 85,64 persen dibandingkan capaian per Oktober 2020 yang sebesar Rp202 miliar. Kemudian, asuransi properti per Oktober 2021 mencapai Rp1,163 triliun atau naik 28,08 persen dibandingkan Oktober 2020 sebesar Rp908 miliar.

Asuransi bonding naik menjadi Rp350 miliar per Oktober 2021 dari sebelumnya sebesar Rp248 miliar per Oktober 2020, asuransi aviasi naik menjadi Rp265 miliar per Oktober 2021 dari Rp179 miliar per Oktober 2020, asuransi kesehatan Oktober 2021 naik menjadi Rp297 miliar dari Oktober 2020 yang mencapai Rp293 miliar.

Lalu, asuransi kargo per Oktober 2021 mencapai Rp47 miliar atau naik dari sebelumnya per Oktober 2020 yang mencapai Rp45 miliar, dan asuransi engineering per Oktober 2021 mencapai Rp173 miliar atau naik dibandingkan per Oktober 2020 sebesar Rp115 miliar.

Cahyo mengatakan, pertumbuhan premi ini didukung oleh kegiatan ekonomi yang mulai tumbuh di 2021. Dibandingkan dengan pada 2020, saat kasus Covid-19 sedang tinggi di Indonesia, kegiatan bisnis menjadi terhambat dan industri asuransi pun terkena imbas dari pandemi tersebut.

Asuransi Jasindo yang merupakan bagian dari BUMN Holding Perasuransian dan Penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG), ini juga telah melakukan digitalisasi dan otomasi sejak beberapa tahun ke belakang.

“Tak hanya itu, Asuransi Jasindo juga menggandeng e-commerce seperti Blibli dan Igloo untuk meningkatkan penjualan produk,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.