Rayuan Bank Indonesia Demi Penurunan Suku Bunga Kredit Bank

Bank Indonesia (BI) terus mendorong perbankan untuk melanjutkan penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK). Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kredit kepada dunia usaha demi pemulihan ekonomi nasional.

Rika Anggreini & Dionisio Damara
Nov 18, 2021 - 12:27 PM
A-
A+
Rayuan Bank Indonesia Demi Penurunan Suku Bunga Kredit Bank

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 3,50 persen, yakni level terendahnya sepanjang sejarah. Bank Indonesia pun kembali menyuarakan himbauannya kepada kalangan perbankan untuk lebih menekan bunga kredit mereka.

Permintaan seperti ini bukan pertama kali disuarakan oleh Bank Indonesia. Namun, memang pada kenyataannya proses transmisi antara penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dengan suku bunga kredit perbankan relatif lambat.

Bank Indonesia memproyeksikan dengan tingkat suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (7 DRR) saat ini, ruang bagi penurunan ruang penurunan suku bunga kredit ke depan masih akan terbuka.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan terbukanya ruang penurunan tersebut setidaknya didukung oleh empat faktor.

Pertama, likuiditas yang sangat longgar. Kedua, BI masih akan menempuh kebijakan suku bunga rendah. Ketiga, perbedaan antara suku bunga kredit dengan suku bunga dana yang masih tinggi. Keempat, persepsi risiko yang menurun.

“Demikian juga pertumbuhan kredit ke depan akan meningkat, baik dari sisi penawaran kredit oleh perbankan, terutama dari kenaikan permintaan kredit oleh dunia usaha. Itulah faktor yang menurut kami, pertumbuhan kredit akan lebih tinggi,” kata Perry dalam konferensi pers virtual Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (18/11).

Perry mengatakan, dari sisi penawaran likuiditas sangatlah longgar yang diikuti dengan suku bunga rendah dan kebijakan makroprudensial. “Yang menjadi isu dari sisi penawaran kredit oleh perbankan adalah persepsi risiko, yang ke depannya Insya Allah akan lebih baik,” tuturnya.

Sementara itu, terdapat pula tiga faktor dari sisi permintaan kredit yang merupakan faktor yang dominan mempengaruhi pertumbuhan. Namun, Perry meyakini bahwa faktor permintaan akan makin membaik dalam mendorong kenaikan pertumbuhan kredit ke depan.

Pertama, kenaikan mobilitas masyarakat. Perry menerangkan, dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, maka pembukaan sektor-sektor ekonomi juga akan meningkat, baik dari sektor ekspor maupun domestik.

“Insya Allah, dengan mobilitas yang meningkat, pembukaan sektor sektor ekonomi, maka konsumsi juga akan meningkat,” ucapnya.

Kedua, kenaikan konsumsi masyarakat juga merupakan faktor pendorong dari permintaan kredit, khususnya untuk kelompok menengah ke atas.

Menurut Perry, permintaan yang selama ini belum meningkat bukan karena pendapatan masyarakat, khususnya menengah ke atas, melainkan disebabkan adanya kemampuan kesempatan untuk berbelanja yang terbatas karena varian delta maupun faktor yang lain.

“Untuk konsumsi masyarakat menengah ke atas, inilah faktor-faktor yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan karena pendapatannya relatif tinggi. Tapi, tentu saja adalah kemampuan untuk berbelanja,” ujarnya.

Ketiga, ekspektasi dan prospek bisnis dari dunia usaha akan meningkat. Hal ini sejalan dengan kenaikan aktivitas ekonomi.

“Karena itu, dari sisi permintaan yang selama ini menjadi faktor dominan untuk pendorong kredit ke depan akan semakin baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi kredit lebih lanjut,” pungkasnya.

Oleh karena itu, BI terus mendorong perbankan untuk melanjutkan penurunan suku bunga kredit (SBDK) atau prime lending rate. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kredit kepada dunia usaha untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Perry menyampaikan, di pasar uang dan pasar dana, suku bunga Pasar Uang Antar-Bank (PUAB) overnight terus menurun sebesar 52 basis poin (bps) sejak Oktober 2020 menjadi 2,80 persen pada Oktober 2021.

Begitu pun dengan suku bunga deposito satu bulan di perbankan yang juga terus menurun sebesar 150 bps sejak Oktober 2020 menjadi 3,17 persen pada Oktober 2021.

Di pasar kredit, misalnya, Perry menuturkan bahwa penurunan suku bunga dasar kredit perbankan terus berlanjut dan diikuti dengan penurunan suku bunga kredit baru.

“Aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang meningkat, mendorong perbaikan persepsi risiko perbankan, sehingga berdampak positif bagi penurunan suku bunga kredit baru,” ujarnya.

Sementara itu, Perry mengungkapkan bahwa ketahanan sistem keuangan tetap terjaga dan fungsi intermediasi perbankan terus menunjukkan perbaikan secara bertahap.

Adapun, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di perbankan pada September 2021 tetap tinggi, yaitu sebesar 25,18 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan /NPL) tetap terjaga, yaitu 3,22 persen secara bruto dan 1,04 persen secara netto.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Aestika Oryza Gunarto menuturkan bahwa BRI tetap membuka ruang untuk penyesuaian suku bunga baik simpanan maupun pinjaman.

“Untuk arah bunga simpanan dan pinjaman ke depan, BRI akan terus melakukan review suku bunga secara berkala dan terus membuka ruang untuk penyesuaian suku bunga simpanan dan pinjaman,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (18/11).

Terhitung sejak 28 Februari 2021, BRI telah menurunkan SBDK untuk seluruh segmen, yakni korporasi, ritel, mikro, KPR dan non-KPR dengan penurunan signifikan sebesar 150 – 325 basis poin (bps).

“Penurunan suku bunga kredit oleh BRI tersebut dilakukan untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional,” tutur Aestika.

Dia menambahkan bahwa sepanjang tahun 2020 BRI telah menurunkan suku bunganya secara umum sebesar 75 bps – 150 bps. Bahkan, khusus untuk restrukturisasi keringanan suku bunga, BRI menurunkan antara 300 bps – 500 bps.

TERUS MENINGKAT

Sementara itu, laporan terbaru dari perusahaan pemeringkat internasional, Moody's Investors Service, menyatakan bahwa kinerja keuangan bank-bank Indonesia akan terus membaik seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi.

Selain itu, kinerja keuangan bank RI juga meningkat sejalan dengan risiko aset menurun, profitabilitas membaik, dan rasio modal serta likuiditas stabil.

Hal ini terjadi seiring dengan membaiknya konsumen masyarakat di Indonesia, sehingga pinjaman yang direstrukturisasi akan menurun karena peminjam membayar kembali pinjaman mereka. Sementara itu, profitabilitas akan pulih saat provisi kerugian pinjaman surut.

Moody’s mengatakan, pertumbuhan kredit akan membaik yang membuat modal dan likuiditas bank stabil pada tingkat yang tinggi.

Menurut Analis Moody's Tengfu Li, bank-bank terus pulih pada kuartal III/2021, meskipun masih ada gangguan ekonomi yang disebabkan oleh kasus virus corona di beberapa negara.

“Pinjaman yang direstrukturisasi menurun sementara cakupan kerugian pinjaman meningkat, profitabilitas meningkat karena margin bunga bersih (net interest margin/NIM) melebar dan provisi kerugian pinjaman stabil. Sementara, rasio modal dan likuiditas meningkat lebih lanjut karena pertumbuhan pinjaman yang lemah,” jelas Li dalam keterangan tertulis, Rabu (17/11).

Li menjelaskan, pinjaman direstrukturisasi yang meningkat tajam pada 2020 akan berkurang karena peminjam mulai pulih secara finansial dan melanjutkan pembayaran kembali pinjaman mereka.

Sedangkan, rasio NPL perbankan di RI akan meningkat hanya sedikit pada 2022. Peningkatan ini didukung oleh kepatuhan terhadap peraturan yang akan tetap hingga Maret 2023.

Adapun, rasio cakupan kerugian pinjaman (coverage ratio) telah meningkat dalam beberapa kuartal terakhir karena provisi proaktif, sehingga memberikan penyangga yang cukup terhadap kemungkinan lonjakan default atau potensi gagal bayar.

Sementara itu, profitabilitas akan pulih selama 12-18 bulan ke depan, karena bank menurunkan provisi kerugian pinjaman setelah menyisihkan cadangan kerugian pinjaman yang cukup di kuartal IV/2021.

“Kenaikan NIM lebih lanjut akan terbatas, karena tidak ada banyak ruang bagi bank untuk memangkas suku bunga deposito, dan tekanan pada imbal hasil pinjaman meningkat di tengah persaingan untuk korporasi berisiko rendah,” terangnya.

Kemudian, Li memaparkan bahwa modal dan likuiditas bank akan stabil pada tingkat yang tinggi seiring dengan pertumbuhan kredit yang meningkat.

“Konsumsi modal untuk pertumbuhan pinjaman dan pembayaran dividen akan mengejar pertumbuhan modal internal dan menghasilkan rasio modal yang stabil. Demikian pula, pemulihan pertumbuhan kredit akan menyebabkan rasio likuiditas yang stabil,” pungkasnya.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar