Redup Potensi Emas di Tengah Pemulihan Ekonomi

Harga emas diproyeksi meredup di tengah pemulihan ekonomi yang makin solid. Berikut penjelasannya.

Duwi Setiya Ariyant*
Aug 12, 2021 - 5:28 AM
A-
A+
Redup Potensi Emas di Tengah Pemulihan Ekonomi

Harga emas diproyeksi meredup di tengah pemulihan ekonomi yang makin solid. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Kilau harga emas yang kembali muncul pada perdagangan awal pekan ternyata tak mampu menghapus potensi meredupnya harga logam mulia di tengah pemulihan ekonomi yang makin solid.

Analis menilai penurunan harga emas dipicu akibat data lapangan kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat serta respons memborong dolar AS. Seperti diketahui, dolar AS dan emas memiliki hubungan yang berkebalikan. Ketika dolar AS menguat terhadap mata uang lain, emas akan jatuh karena harganya lebih mahal di mata uang lain dan melemahkan permintaan.

"Sell-off di harga emas pada Senin [9/8/2021] dipicu oleh pasar Asia yang memborong dolar AS dan menjual emas, merespons kuatnya data penghasilan AS pada Juli," kata Analis Komoditas Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar, dikutip dari CNBC International.

Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan kenaikan pendapatan dari sektor nonpertanian hingga mencapai 943.000 pekerjaan baru pada bulan Juli, melampaui proyeksi 845.000 pekerjaan baru.

Sementara itu, Dhar melihat ke depannya akan sulit bagi komoditas berharga seperti emas atau perak untuk tetap bullish. Dia meramal harga emas akan mencapai US$1.700 per ounce pada kuartal I/2022.

Federal Reserve bahkan diperkirakan mengkaji ulang pelonggaran kebijakannya dan memperlambat stimulus seiring dengan ekonomi yang mulai pulih dari pandemi.

Bank sentral AS tersebut saat ini masih menahan suku bunga mendekati nol. Namun, sejumlah pejabat Fed mulai memberikan sinyal kuat bahwa tapering akan segera dimulai dan kenaikan suku bunga makin dekat.

Kepala Investasi UBS Global Wealth Management Dominic Schnider memperkirakan imbal hasil riil akan makin mengarah ke positif dan ini menandakan penurunan untuk emas. Dia meyakini investor akan keluar dari ETF dan pasar berjangka.

"Saya pikir Anda akan melihat outflow. Saya tidak akan terkejut jika melihat 20 juta ounce emas meninggalkan ETF dan pasar berjangka," katanya.

Schnider memperkirakan harga emas bisa jatuh ke level US$1.600 per ounce atau lebih rendah lagi.

Dikutip dari data Bloomberg, Kamis (12/8/2021), harga emas Comex untuk kontrak Desember 2021 menyentuh US$1.735,5 per troy ounce. Sementara itu, harga emas di pasar spot mencapai US$1.751,84 atau naik 0,01 persen.

Sebelumnya, PT Valbury Asia Futures mencatat harga emas menguat karena melemahnya dolar AS setelah data harga konsumen AS yang meredakan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mengurangi dukungan ekonominya lebih cepat dari yang diharapkan.

Pada perdagangan Kamis (12/8/2021) pukul 07.48 WIB, harga emas spot koreksi 0,02 persen atau 0,34 poin menjadi US$1.751,36 per troy ounce

Emas Comex kontrak Desember 2021 naik 0,04 persen atau 0,7 poin menuju US$1.753,7 per troy ounce.

Harga emas Comex kontrak Desember 2021 naik 0,04 persen atau 0,7 poin menuju US$1.754 per troy ounce semalam. Mengutip Antara, perdagangan emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada Rabu (11/8/2021) karena IHK AS pada Juli, indikator utama inflasi, sesuai dengan harapan pasar.

Dikutip dari laman Monex Investindo Futures, pada perdagangan hari ini pergerakan harga emas berada di US$1.755 hingga US$1.775 per troy ounce untuk level resistance dan US$1.745 hingga US$1.728 per troy ounce untuk level support.

Peluang transaksi emas muncul ketika harga emas turun menyentuh level di bawah US$1.745. Pergerakan harga emas hari ini dipengaruhi prospek pengurangan pembelian obligasi AS oleh bank sentral AS dan pengetatan moneter pada pengujung 2021.

Permintaan emas pada 2021 diproyeksi muram akibat pemulihan ekonomi. (Antara)

 

PERMINTAAN LESU

Dikutip dari laporan World Gold Council, Kamis (12/8/2021), permintaan emas pada kuartal II/2021 menyentuh 955,1 ton atau turun 1 persen sehingga permintaan pada paruh pertama 2021 menyentuh 1.883,1 ton atau turun 10 persen secara tahunan.

Dari realisasi tersebut, permintaan emas perhiasan mencapai 390,7 ton, melanjutkan perbaikan kinerja yang sempat tertekan akibat pandemi Covid-19. Sayangnya, realisasi itu belum mampu menyentuh level sebelum pandemic akibat melemahnya pertumbuhan permintaan dari India. Dengan demikian, permintaan emas perhiasan pada semester I/2021 mencapai 873,7 ton atau lebih rendah 17 persen dibandingkan dengan rata-rata permintaan pada 2015—2019.

Emas jenis lain yakni batang dan koin justru menunjukkan kenaikan permintaan. Pada kuartal II/2021, permintaan mencapai 243,8 ton sehingga pada semester I/2021 total permintaan mencapai 594 ton. Angka ini merupakan permintaan paling kokoh sejak 2013.

Pada instrumen seperti reksa dana kontrak investasi kolektif (exchange traded fund/ETF), aliran dana masuk dengan volume emas 40,7 ton. Dengan aliran dana ini, sepanjang semester I/2021, permintaan emas melalui ETF mengalami dana keluar setara volume 129,3 ton akibat koreksi yang terjadi pada kuartal I/2021. Realisasi ini pun merupakan yang pertama kalinya sejak 2014.

Kendati minat emas tergerus pada instrumen ETF, penggunaan emas di teknologi terus pulih dari tekanan pada 2020. Permintaan pada kuartal II/2021 mencapai 80 ton atau naik 18 persen secara tahunan, sejalan dengan permintaan rata-rata pada kuartal II pada 2015—2019 yakni 81,8 ton. Dengan demikian, permintaan pada semester I/2021 mampu melampaui realisasi pada semester I/2019 yakni 160,6 ton.

Terakhir, bank sentral masih mengoleksi emas pada kuartal II/2021. Cadangan emas secara global naik 199,9 ton sehingga mencetak beli bersih 333,2 ton pada semester I/2021 atau 39 persen lebih titnggi dibandingkan dengan periode yang sama dalam lima tahun terakhir. Angka itu pun 29 persen lebih tinggi dalam rata-rata 10 tahun terakhir.

“Pembelian dalam jumlah besar dilakukan oleh bank sentral dari Thailand, Hungaria dan Brasil,” kata laporan itu.

(Reporter: Reni Lestar & Hadijah Alaydrus)

Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar