Reksa Dana Mesti Lebih Lincah

Dengan penurunan dana kelolaan, manajer investasi bakal jauh lebih aktif meramu portofolio efek sehingga mendorong imbal hasil yang jauh lebih tinggi pada 2024.

Redaksi

10 Jan 2024 - 07.22
A-
A+
Reksa Dana Mesti Lebih Lincah

Manajer investasi sejatinya sudah cukup adaptif menyesuaikan pengelolaan efek terhadap dinamika pasar. Bisnis.com

Bisnis, JAKARTA—Kinerja instrumen investasi reksa dana sepanjang tahun lalu cenderung tak menggembirakan. Di tengah performa efek yang sebagian besar sempat memble, penyertaan unit pun terkoreksi sehingga membuat nilai aktiva bersih industri merosot cukup dalam.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana bahkan sempat terperosok ke bawah Rp500 triliun pada periode Oktober dan November 2023.

AUM pada akhir tahun memang akhirnya berhasil dikatrol menjadi Rp504,95 triliun berkat window dressing yang digiatkan oleh manajer investasi.

Catatan saja, nilai aktiva bersih reksa dana di bawah Rp500 triliun terakhir kali terjadi pada Maret 2020. Itu pun dipicu oleh penurunan nilai aset akibat sentimen Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia sehingga membuat penyertaan produk reksa dana berkurang cukup banyak.

Kinerja efek pada tahun lalu sejatinya tidak buruk. Indeks harga saham gabungan atau IHSG menguat 6,16% sepanjang 2023. Nilai kapitalisasi pasarnya bahkan tumbuh 23,82% menjadi Rp11.762 triliun. Angka itu membuat pasar saham Indonesia menjadi bursa terbesar di kawasan Asean.

Kinerja surat utang juga tak kalah impresif. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) mencatatkan pertumbuhan imbal hasil sebesar 8,65% secara year-on-year (YoY) dari level 344,78 ke 374,61. Capaian itu bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan pada 2022 yang membukukan return 3,6% YoY.

Lebih terperinci, kinerja indeks return obligasi pemerintah atau INDOBeXG-Total Return mencatatkan return sebesar 8,72% YoY dari level 337,20 ke level 366,60. Adapun kinerja indeks return obligasi korporasi atau INDOBeXC-Total Return menghasilkan imbal hasil sebesar 7,78% YoY dari 392,24 menjadi 422,78.

Manajer investasi sejatinya sudah cukup adaptif menyesuaikan pengelolaan efek terhadap dinamika pasar. Jika kami cermati, komposisi efek reksa dana bergeser dari ekuitas ke obligasi, utamanya ke obligasi pemerintah.

Pada 2022, ekuitas masih mendominasi komposisi efek reksa dana dengan porsi 29,67% atau senilai Rp148,52 triliun. Kepemilikan atas efek saham mulai tergerus sepanjang tahun lalu hingga porsinya kini hanya 26,55% atau sebesar Rp132,71 triliun.

Surat utang pemerintah kini menempati urutan teratas dalam komposisi efek reksa dana dengan porsi 31,86% atau senilai Rp159,27 triliun. Manajer investasi juga tetap mengandalkan obligasi korporasi kendati porsinya terkoreksi tipis menjadi 19,39%.

Dengan pergeseran komposisi efek dari ekuitas ke obligasi, tidak heran jika etalase produk reksa dana juga didominasi jenis beraset pendapatan tetap dan terproteksi di mana jumlah keduanya nyaris mencapai 50% dari total produk reksa dana sepanjang 2023.

Komposisi produk reksa dana saham menurun cukup signifikan tahun lalu. Jika pada 2022 sangat dominan dengan komposisi 21,93% senilai Rp111,44 triliun, akan tetapi porsinya turun menjadi 18,40% dengan dana kelolaan sebesar Rp92,88 triliun.

Kita tentu menyadari bahwa situasi tahun lalu membuat kinerja pasar saham sangat volatil, terutama ditekan oleh sentimen kenaikan suku bunga dan krisis geopolitik.

Kendati sempat berbalik arah dalam beberapa bulan terakhir di pengujung tahun, pergeseran komposisi efek dari ekuitas ke surat utang membuat berkah itu tak banyak diraup dan berdampak besar ke dana kelolaan.

Hanya saja, jangan lupa bahwa ada pandangan umum di industri reksa dana yang bisa menjadi bekal positif di balik merosotnya AUM tahun lalu. Kita meyakini bahwa makin besar dana kelolaan maka kinerja reksa dana justru cenderung kurang lincah. Begitu juga sebaliknya.

Artinya, dengan penurunan dana kelolaan, manajer investasi bakal jauh lebih aktif meramu portofolio efek sehingga mendorong imbal hasil yang jauh lebih tinggi pada 2024. Tentunya dibarengi dengan strategi market timing yang ciamik di tengah tahun politik dan dinamika ekonomi global yang berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.