Reputasi Softbank, Investor GOTO Terancam Saham Sektor Teknologi

Valuasi saham sektor teknologi jatuh seiring dengan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral utama global. Kejatuhan saham teknologi dinilai juga dapat merusak reputasi Softbank Group, sebagai investor kakap di sektor teknologi. Apalagi di tengah memburuknya kinerja investasi perusahan.

Asteria Desi Kartikasari
May 13, 2022 - 1:24 PM
A-
A+
Reputasi Softbank, Investor GOTO Terancam Saham Sektor Teknologi

CEO SoftBank Group Masayoshi Son dalam sebuah jumpa pers di Tokyo, Rabu (6/2/2019)/Bloomberg-Kiyoshi Ota

Bisnis, JAKARTA— Jatuhnya saham sektor teknologi dinilai dapat merusak reputasi Softbank Group Corp,. sebagai salah satu perusahaan investasi terbesar sejagat. 

Pasalnya, perusahaan yang dikendalikan oleh miliarder Masayoshi Son termasuk dalam jajaran investor kakap di sejumlah perusahaan sektor teknologi global. Namun, valuasi sejumlah korporasi teknologi jatuh seiring dengan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral utama global. 

Faktor penyebab Softbank terjerumus di palung terdalam pada kuartal I/2022 adalaha karena aksi jual saham teknologi yang akhirnya memukul nilam saham portofolionya. Diantara kerugian tersebut termasuk kepemilikan saham pada Coupang Inc, Uber Tecnnologies Inc, dan Didi Global Inc.

Saham Coupang, perusahaan yang berbasis di Korea Selatan itu ambles 40 persen pada kuartal pertama, kemudian Didi anjlok hingga 50 persen. Kemudian KE Holding turun 39 persen. Tak hanya itu, skandal dan salah langkah dari WeWork Inc., Wirecard AG, dan Greensill Capital juga telah merusak reputasi Softbank dalam memilih perusahaan rintisan.

Perusahaan yang bermarkas di Jepang tersebut diperkirakan menelan kerugian hingga US$18,6 miliar dalam investasi yang dilakukan pada perusahaan publik selama kuartal I/2022. Angka tersebut merupakan kerugian terbesar dan melampaui catatan tekor pada kuartal kedua tahun lalu, yakni mencapai US$18,3 miliar.

Penyebab utama dari kerugian tersebut adalah  Softbank Vision Fund, kendaraan utama Son untuk menebar jala investasi di sejumlah korporasi global, mencatatkan kerugian hingga mencapai US$10 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini.


Analis Redex Research Kirk Boodry mengatakan jebloknya kinerja keuangan perusahaan multinasional itu disebabkan oleh jatuhnya valuasi sejumlah korporasi teknologi seiring dengan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral utama global.

Selain itu, pengetatan pengawasan oleh regulator pasar modal China terhadap saham emiten teknologi membuyarkan skenario bisnis Softbank.

“Investor mulai khawatir karena ini tidak normal. Potensi kerugian memicu lebih banyak penurunan ,” kata dia dilansir Bloomberg dikutip Jumat (13/5/2022)

Boodry menambahkan, kerugian terbesar Vision Fund sebelumnya dicatatkan pada kuartal II/2021 yang mencapai 825,1 miliar yen. Akan tetapi, perusahaan mampu membalikkan tren negatif itu dengan menghasilkan profitabilitas hingga 109 miliar yen pada kuartal IV/2021.

Namun, pada kuartal pertama tahun ini, bisnis Vision Fund terpuruk lantaran investasi pada 32 dari total 34 di perusahaan publik merugi.

Tekor itu antara lain dibukukan oleh Coupang Inc. asal Korea Selatan senilai US$$5,4 miliar, Grab Holdings Ltd. di Singapura US$2,4 miliar, Didi Global Inc. asal China US$2,4 miliar, Paytm di India US$1,3 miliar, dan DoorDash Inc. Amerika Serikat (AS) senilai US$1,1 miliar.

Kerugian yang belum direalisasi dalam portofolio publik berada di kisaran US$37 miliar—US$38 miliar untuk tahun fiskal 2021. Secara keseluruhan, kinerja Vision Fund turun lebih dari 50 persen dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Coupang Inc. dan Didi Global Inc. menjadi dua ladang investasi Softbank yang membukukan kerugian paling dalam. Hal itu tecermin dari jebloknya harga saham masing-masing hingga sedalam 40 persen dan 50 persen pada kuartal I/2022.

Amir Anvarzadeh dari Asymmetric Advisors mengatakan, saat ini pelaku pasar dan investor dilanda kecemasan mengenai prospek bisnis Softbank ke depan.

Menurutnya, penurunan valuasi perusahaan teknologi merusak reputasi Son.Belum lagi, minimnya transparansi mengenai aset yang dijadikan jaminan dalam investasi makin meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.“Seluruh struktur bisnis Softbank bergantung pada satu asumsi utama dan itu adalah harga saham yang terus meningkat,” kata dia.

Seremoni pencatatan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/4/2022). GoTo meraih dana Rp15,8 triliun dari IPO dan penjualan saham treasury./Istimewa

Sementara di Indonesia, Softbank juga termasuk dalam jajaran investor kakap perusahaan sektor teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), meskipun Softbank bukan sebagai pemegang saham pengendali. 

Saham sektor teknologi di Indonesia juga seiring dengan global yang terjerumus di zona merah. Saham emiten ojek online GOTO terus melemah ke level 194 pada perdagangan Jumat (13/5/2022)  hingga sesi pertama.  

Kapitalisasi juga terus terjun ke level Rp229,77 triliun. Head of Fixed Income PT Danareksa Sekuritas Amir Dalimunthe  mengatakan ketika suku bunga pasar naik, sikap investor akan berbalik 180 derajat. Menurutnya, horizon investasi menjadi lebih pendek, sehingga arus kas dan laba menjadi lebih penting dibandingkan harapan pertumbuhan pendapatan. Selain itu, investor juga menghindari investasi  yang bersifat spekulatif. 

“Akibatnya perusahaan startup yang belum menghasilkan laba, meski tumbuh tinggi [unprofitable growth], cenderung akan dihindari oleh investor publik,” katanya. 

Apalagi, perusahaan teknologi selama ini mengandalkan perbankan untuk membiayai promo yang jorjoran atau ‘bakar duit’. Jika suku bunga naik, maka bunga pinjaman yang mereka bayarkan juga akan melonjak. Ini tentunya menjadi nasib buruk pada perusahaan teknologi.  

Sampai dengan September 2021, GoTo masih mencatat kerugian sebesar Rp11,58 triliun. Secara kumulatif kerugian GoTo mencapai Rp67 triliun.  Namun, patut digarisbawahi, total modal disetor (ekuitas) GoTo mencapai Rp179 triliun. Dengan menyerap rugi akumulasi, total ekuitas saat ini mencapai Rp130 triliun. 

Angka ekuitas mencerminkan seluruh dana (modal) yang telah ditanamkan para pemegang saham GoTo selama ini. Bila melihat rekam jejak tech related companies yang IPO, kerugian merupakan hal yang lazim. 

Amazon masih mencatat kerugian saat IPO 1997 dan baru mencetak untung pada 2003. Butuh waktu sekitar 6 tahun! Pun dengan Facebook. Kinerjanya mulai mulai hijau setelah bertahun-tahun.  Profitabilitas merupakan salah satu faktor risiko yang harus diperhatikan oleh investor. Hal tersebut juga disoroti investor di dalam prospektus. Di mana emiten menyampaikan faktor risiko itu, termasuk klausa “Perseroan mungkin tidak mencapai profitabilitas di masa depan.” 

MENULAR

Adapun sengatan pada emiten teknologi sejatinya tidak hanya dirasakan oleh Softbank. Performa negatif juga menular ke perusahaan sejenis lainnya. Perusahaan investasi asal AS, Tiger Global Management, LLC. juga dilanda bencana yang tak kalah hebat.

Perusahaan tersebut mencatatkan kerugian terbesar sepanjang tahun berjalan yang berakhir April 2022 senilai US$16 miliar, sekaligus menghapus catatan laba yang berhasil ditorehkan pada 2019 silam.

Pun dengan Melvin Capital Management LP yang kehilangan 23,3 persen dana selama empat bulan pertama tahun ini.

Perusahaan investasi lain seperti Viking Global Investors tergerus 9 persen pada periode yang sama, sedangkan Coatue Management Coatue Management, LLC. kehilangan 15 persen.

Adapun, perusahaan dana lindung nilai Greenlight Capital yang masih berupaya bangkit dari kerugian jumbo pada 2015 dan 2018 harus mengembalikan dana 15,4 persen dan membutuhkan pertumbuhan laba sebesar 12 persen untuk penyehatan bisnis.

(Reporter: Nindya Aldila, Rinaldi M. Azka)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Reputasi Softbank, Investor GOTO Terancam Saham Sektor Teknologi

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ