Resesi Mengimpit Selandia Baru Akibat Pelemahan Konsumsi

Selandia Baru menyusul Inggris dan Jepang yang sudah lebih dulu masuk ke lubang resesi setelah pertumbuhan ekonomi tumbuh di bawah ekspektasi akibat belanja konsumen yang melemah dan perdagangan grosir.

Jessica Gabriela Soehandoko

21 Mar 2024 - 22.38
A-
A+
Resesi Mengimpit Selandia Baru Akibat Pelemahan Konsumsi

Kota Auckland di Selandia Baru. (Pemerintah Selandia Baru)

Bisnis.com, JAKARTA - Selandia Baru menyusul Inggris dan Jepang yang sudah lebih dulu masuk ke lubang resesi setelah pertumbuhan ekonomi tumbuh di bawah ekspektasi akibat belanja konsumen yang melemah dan perdagangan grosir. 

Data Stats NZ menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) yang disesuaikan secara musiman turun 0,1% dalam tiga bulan yang berakhir pada bulan Desember 2023, sehingga laju pertumbuhan tahunan menjadi sebesar 0,6%.

Laporan tersebut kemudian menandakan kontraksi selama dua kuartal berturut-turut, mengikuti penurunan 0,3% pada kuartal sebelumnya yang memenuhi definisi teknis resesi. 

Baca juga: Ekonomi Selandia Baru Resmi Masuk Jurang Resesi

Kemudian, PDB per kapita juga menurun 0,7% yang didorong migrasi bersih dan pendapatan riil bruto nasional yang dapat dibelanjakan menurun sebesar 1,4%.

“Perdagangan grosir merupakan pendorong penurunan terbesar pada kuartal ini, dipimpin oleh penurunan penjualan grosir bahan makanan dan minuman keras; serta penjualan grosir mesin dan peralatan,” kata manajer senior industri dan produksi nasional Stats NZ, Ruvani Ratnayake, seperti dikutip dari RNZ, Kamis (21/3/2024). 

Perdagangan retail di Negeri Kiwi tersebut juga diketahui menurun, terutama didorong oleh ritel furnitur, listrik, perangkat keras, makanan dan juga minuman. Namun, 8 dari 16 industri mengalami peningkatan, seperti persewaan, perekrutan, real estate, administrasi publik, keselamatan dan pertahanan.

Ekonom ASB Nathaniel Keall mengatakan bahwa resesi manufaktur yang berkepanjangan mempengaruhi ekonomi, bersama dengan aktivitas ritel dan grosir yang lebih lemah. Sebelumnya ia memperkirakan kontraksi sebesar 0,2%.

Kemudian, seperti yang sudah dia tekankan secara konsisten, perlambatan ekonomi terjadi pada saat pertumbuhan populasi di Selandia Baru terbukti sangat kuat berdasarkan standar sejarah. 

Angka PDB utama kemudian dinilai memperindah gambaran ekonomi dan menyembunyikan kelemahan yang mendasar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.