RI Defisit Kebutuhan Sapi 453.000 Ton Jelang Ramadan

Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) memperkirakan defisit pasokan daging sapi mencapai 453.000 ton pada 2024. Kebijakan impor sapi bakalan dinilai masih menjadi solusi yang perlu dilakukan terutama untuk mengamankan pasokan jelang Ramadan.

Muhammad Nishfi Azriel & Dwi Rachmawati

21 Feb 2024 - 15.23
A-
A+
RI Defisit Kebutuhan Sapi 453.000 Ton Jelang Ramadan

Peternak memerah susu sapi, di Subang, Jawa Barat. Bisnis-Rachman

Bisnis, JAKARTA - Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) memperkirakan defisit pasokan daging sapi mencapai 453.000 ton pada 2024. Kebijakan impor sapi bakalan dinilai masih menjadi solusi yang perlu dilakukan terutama untuk mengamankan pasokan jelang Ramadan.


Perhitungan tersebut merujuk pada analisa pemerintah terkait konsumsi daging sapi per kapita per tahun sebesar 2,57 kg/kapita/tahun dengan jumlah penduduk sekitar 279,96 juta jiwa. Dari angka tersebut didapati bahwa proyeksi kebutuhan daging sapi nasional menyentuh 720.375 ton. 


Kendati begitu, kebutuhan sapi yang dapat dipenuhi dari dalam negeri hanya mencapai 39,1% atau setara 281.640 ton dari total konsumsi. Jumlah itu setara 11,3 juta ekor sapi dan 470.900 ekor kerbau ternak. Artinya, RI mengalami defisit kebutuhan kerbau hingga 453.000 ton ekuivalen 2,5 juta ekor sapi maupun kerbau.


Direktur Eksekutif Gapuspindo Djoni Liano menerangkan bahwa kebijakan impor dinilai dapat membantu meminimalisir pengurasan ternak sapi dan kerbau lokal.


“Dalam waktu 4 tahun, populasi ternak dan sapi lokal diprediksi akan punah tanpa kebijakan impor. Indonesia berpotensi mengalami ketergantungan impor ternak sapi bakalan atau food trap daging sapi,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (21/2/2024).


Baca juga: 

Prioritaskan Lokal, Impor Sapi Jangan Buru-buru

Ancang-Ancang Impor Daging Sapi Hadapi Lebaran 2024


Djoni menambahkan bahwa Pemerintah perlu memberikan porsi impor sapi bakalan lebih besar yang memiliki nilai tambah yang cukup besar di dalam negeri. Kebijakan ini juga mempertimbangkan aspek nilai tambah atau yang memiliki multiplier impact di dalam negeri.


“Sapi bakalan yang akan diimpor nanti harus dilakukan proses penggemukan selama 2-3 bulan. Proses ini memanfaatkan sumber daya lokal seperti pakan, tenaga kerja, serta 120 sektor lain seperti logistik transportasi dan rumah potong hewan,” ujar Djoni.


Persetujuan impor (PI) oleh Inatrade Kementerian Perdagangan telah diberikan kepada seluruh industri penggemukan sapi yang tergabung dalam Gapuspindo. Para anggota sedang memproses importasi sapi bakalan secara bertahap pada saat Ramadan dan Idulfitri. Pada masa ini, kebutuhannya meningkat 2 kali dari kebutuhan normal.


KUOTA IMPOR


Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah memastikan kuota impor daging lembu atau sapi mencapai 145.250,6 ton pada 2024. 

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan penghitungan tersebut diputuskan dari total pengajuan rencana kebutuhan yang diajukan sebanyak 380 pelaku usaha sejumlah 462.011,14 ton.


“Jadi hasil penghitungan ulang volume impor daging lembu konsumsi reguler 2024 sebesar 145.250,60 ton dari total pengajuan rencana kebutuhan yang diajukan para pelaku usaha," katanya dalam siaran pers, Rabu (7/2/2024).

Dia menjelaskan secara terperinci, mekanisme penghitungan ulang alokasi volume per kode Harmonized System (HS) per perusahaan terbagi ke dalam empat tahap.

Tahap pertama, lanjutnya, penghitungan alokasi volume per HS berdasarkan pembobotan 55 persen dan 45 persen dan kuota impor 2024 sebesar 145.251 ton.

Dia menuturkan tahap kedua dilakukan penghitungan alokasi volume per kode HS per pelaku usaha berdasarkan pembobotan 55 persen dengan dasar realisasi impor 2 tahun terakhir.

Tahap ketiga, imbuhnya, dilanjutkan dengan penghitungan alokasi volume per kode HS per pelaku usaha berdasarkan pembobotan 45 persen terhadap pengajuan kebutuhan 2024.

Terakhir, tahap keempat berupa penghitungan alokasi volume final impor daging lembu konsumsi reguler dalam bentuk akumulasi perhitungan tahap 2 dan 3 sebelumnya.

Arief menuturkan dalam penghitungan dan penyusunan Neraca Komoditas, Bapanas harus mengutamakan produksi dalam negeri. Namun pada saat kebutuhan nasional tidak bisa terpenuhi bersumber dari dalam negeri, terpaksa dilakukan importasi.

Adapun Neraca Komoditas merupakan data dan informasi yang memuat situasi konsumsi dan produksi komoditas tertentu untuk kebutuhan penduduk dan keperluan industri dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan dan berlaku secara nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.