Rights Issue & Ambisi KRAS Lanjutkan Pertumbuhan Pesat di 2022

Emiten baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menyatakan akan melakukan right issue pada 2022 mendatang untuk memperbaiki struktur permodalan dan melakukan restrukturisasi utang sekaligus mendukung pencapaian pertumbuhan penjualan dua digit.

Annisa Kurniasari Saumi
Nov 23, 2021 - 8:41 PM
A-
A+
Rights Issue & Ambisi KRAS Lanjutkan Pertumbuhan Pesat di 2022

Karyawan PT Krakatau Steel Tbk. menyelesaikan pembuatan pipa baja disebuah pabrik di Cilegon, Banten. Bisnis

Bisnis, JAKARTA — Emiten BUMN produsen baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. membidik target pertumbuhan penjualan hingga 26 persen pada 2022 mendatang. Seiring dengan target itu, perseroan juga mengagendakan rights issue untuk memperbaiki struktur permodalan.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan bahwa selain menargetkan pertumbuhan penjualan hingga 26 persen pada 2022 mendatang, emiten berkode saham KRAS ini juga akan berusaha melakukan perbaikan di sisi profitabilitas.

Sebelumnya, Silmy mengatakan KRAS membidik pertumbuhan penjualan perseroan naik 43 persen menjadi Rp28 triliun pada 2021.

Adapun hingga Oktober 2021, KRAS mencetak penjualan Rp26,5 triliun. Penjualan ini meningkat 73,19 persen dari Rp15,3 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meningkatnya kinerja penjualan ini membuat perseroan mampu mencetak laba bersih sebesar Rp1,05 triliun hingga Oktober 2021.

"Di 2022, kami berusaha hasilnya lebih baik dibanding 2021," tuturnya dalam paparan publik Krakatau Steel, Selasa (23/11).

Untuk mendukung pencapaian target ini, perseroan pun akan melanjutkan upaya restrukturisasi neraca keuangannya. Salah satu langkah yang bakal ditempuh yakni melalui penerbitan saham baru dengan memberikan hak untuk memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Sebagaimana diketahui, restrukturisasi perusahaan yang dilakukan oleh manajemen Krakatau Steel salah satunya adalah restrukturisasi utang untuk mengatasi beban utang perseroan yang besar dan terus meningkat sejak 2011.

Krakatau Steel bersama 10 kreditur menandatangani perjanjian kredit restrukturisasi pada Januari 2020. Krakatau Steel mempunyai kewajiban untuk melakukan pembayaran dan menyelesaikan utang sebesar total Rp28,4 triliun sesuai dengan jadwal selama 8 tahun melalui skema Tranche A, Tranche B, dan Tranche C.

KRAS berencana untuk melakukan rights issue pada 2022 mendatang untuk memperbaiki struktur permodalan dan melakukan restrukturisasi utang. Targetnya, rights issue dapat dieksekusi pada kuartal kedua atau ketiga tahun depan dengan nilai US$200 juta atau sekitar Rp2,8 triliun hingga Rp3 triliun.

Menurut Silmy, rencana rights issue ini bukanlah rencana baru sebab sudah pernah disampaikan sebelumnya. Rights issue ini ditujukan untuk melanjutkan pembayaran utang perseroan.

Untuk tahun ini, tutur dia, pihaknya berencana membayar utang senilai US$200 juta di akhir 2021. Sementara itu, untuk tahun depan, dengan dana dari right issue, pihaknya akan mengurangi utang senilai US$500 juta.

"Ini sequence-nya kami atur sedemikian rupa agar bisa sesuai dengan rencana restrukturisasi di awal," ucap dia.

Sementara itu, terkait wacana yang banyak ditempuh oleh BUMN lain untuk menggalang modal, yakni melalui initial public offering (IPO) anak usaha, Silmy mengatakan perseroan tidak mendapatkan amanat tersebut dari Kementerian BUMN.

Menurutnya, Kementerian BUMN hanya mengamanatkan perseroan untuk menyelesaikan kewajiban utangnya. Menurut Silmy, penyelesaian kewajiban utang ini bisa dilakukan dengan bermacam-macam cara, seperti divestasi ke partner strategis, right issue, dan langkah-langkah lain yang diperlukan.

"Jadi, tidak ada amanat IPO itu. IPO itu inisiatif manajemen yang akan dilakukan jika diperlukan," ucapnya.

Dia melanjutkan, perseroan telah merencanakan IPO anak usaha sebelum membentuk subholding Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) dan Krakatau Baja Konstruksi (KBK). Ketika dua subholding ini terbentuk, Silmy menuturkan pihaknya akan lebih selektif untuk mencoba IPO.

"Rencana IPO itu ada. Atas subholding yang mana atau perusahaan yang mana, nanti akan kita tentukan," ucapnya.

Adapun sebelumnya, Silmy mengatakan akan membawa KSI melakukan IPO di kuartal I/2022.

"Iya [rencana IPO lanjut] seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, IPO PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) dilaksanakan pada kuartal I/2022," ungkapnya saat dihubungi Bisnis selepas RUPST 2020 pada akhir Juli 2021 lalu.

Menteri BUMN Erick Thohir dan Direktur Utama PT Krakatau Streel Tbk. Silmy Karim dalam peresmian subholding PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), Selasa 13 Juli 2021./Istimewa

Subholding ini terdiri dari PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, PT Krakatau Daya Listrik, PT Krakatau Tirta Industri, dan PT Krakatau Bandar Samudera.

Empat perusahaan di bawah KSI ini mencatat total pendapatan Rp3,4 triliun dan EBITDA sebesar Rp1 triliun pada tahun 2020. KSI diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan hingga Rp7,8 triliun dalam lima tahun mendatang.

MENURUNKAN BEBAN

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki Yamani melihat, aksi korporasi yang akan dilakukan Krakatau Steel ini berpotensi menurunkan beban bunga yang harus ditanggung perseroan.

"Right issue ini diyakini akan mampu menurunkan beban bunga yang harus ditanggung Krakatau Steel," kata Yaki saart dihubungi, Selasa (23/11).

Yaki melanjutkan, penurunan beban bunga atas pelunasan utang ini berpotensi menurunkan beban keuangan, yang nantinya bisa meningkatkan laba Krakatau Steel.

Dia mencermati, hingga kuartal III/2021 utang jangka pendek KRAS berjumlah US$1,56 miliar, dengan utang jangka panjang senilai US$1,75 miliar. Sehingga, total kewajiban perseroan hingga kuartal III/2021 mencapai US$3,32 miliar.

Lebih lanjut, Yaki menyebut top line atau pendapatan penjualan KRAS berpotensi meningkat jika sektor otomotif dan infrastruktur atau konstruksi dan properti kembali bergairah.

Adapun, berdasarkan keterangan resmi perseroan, KRAS melaporkan perolehan laba bersih sebesar Rp1,05 triliun per Oktober 2021 lalu.  Laba ini diperoleh karena semakin meningkatnya penjualan dan produktivitas perusahaan.

“Krakatau Steel berhasil mencatatkan nilai penjualan Rp26,5 triliun hingga Oktober 2021, meningkat 73,19 persen dari sebelumnya sebesar Rp15,3 triliun di periode yang sama di tahun 2020,” kata Silmy.

Dia melanjutkan, produktivitas Krakatau Steel juga mengalami peningkatan hingga Oktober 2021. Produksi KRAS naik 35 persen menjadi sebesar 1,628 juta ton dari sebelumnya sebesar 1,207 juta ton di periode yang sama tahun 2020.

Pada periode ini, KRAS juga mampu menurunkan variable cost sebesar 10 persen dari periode yang sama di tahun 2020 sebesar US$63 per ton, menjadi sebesar US$57 per ton. Fixed cost juga turun sebesar 8 persen menjadi US$60 per ton dari US$65 per ton per Oktober 2020.

Dari sisi EBITDA di 10 bulan 2021 ini, KRAS mencapai realisasi EBITDA sebesar Rp2,1 triliun, meningkat 2,3 kali dibandingkan EBITDA di periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp930 miliar.

“Kinerja Krakatau Steel yang semakin baik dan konsisten ini tidak lepas dari keberhasilan manajemen dalam melakukan restrukturisasi dan transformasi Krakatau Steel," ujar Silmy.

Adapun mengenai kinerja Krakatau Steel ke depan, lanjut Silmy, Krakatau Steel telah memiliki master plan jangka panjang yang akan menjaga kinerja positif secara berkesinambungan. "Arah dan apa yang akan dilakukan sudah jelas, serta harus menghasilkan keuntungan,” tutur Silmy.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar