Ringgit Hampir Capai Titik Terendah Saat Krisis Moneter

Ringgit Malaysia sedikit lagi akan menyentuh 4,885 per dolar AS, level terendah sejak krisis moneter tahun 1998 di kawasan Asia Tenggara.

Jessica Gabriela Soehandoko

20 Feb 2024 - 14.49
A-
A+
Ringgit Hampir Capai Titik Terendah Saat Krisis Moneter

Bisnis, JAKARTA - Ringgit Malaysia sedikit lagi akan menyentuh 4,885 per dolar AS, level terendah sejak krisis moneter tahun 1998 di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (20/2/2024), ringgit terpantau melemah 0,1% ke levfel 4,7920 per dolar AS pada pukul 11.21 WIB.

"Ada risiko bahwa ringgit akan mencapai titik terendah baru sepanjang masa. Ekspor tidak menunjukkan pemulihan, tidak seperti negara lain di Asia dan ekonomi domestik terus saja loyo," jelas kepala penelitian Asia di Australia & New Zealand Banking Group, Khoon Goh, seperti dikutip dari  Bloomberg, Selasa (20/2/2024).

perekonomian China memberikan dampak negatif pada ekspor Malaysia, yang menurun 10 bulan berturut-turut pada Desember 2023. Merosotnya ekspor telah membebani pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Walaupun Malaysia masih mengalami surplus transaksi berjalan, rasionya terhadap produk domestik bruto (PDB)  telah turun mendekati level terendah dalam 20 tahun sehingga membatasi dukungan terhadap ringgit.

Sebelumnya, volatlitas ringgit terjadi akibat stabilitas politik yang terganggu akibat pemilihan umum pada 2023. Saat ini, kondisi politik belum stabil karena suara-suara menurunkan Perdana Menteri Anwar Ibrahim. 

Namun, sebagian besar analis memproyeksikan bahwa ringgit akan menguat pada akhir 2024, karena pertumbuhan ekonomi Malaysia yang mendapatkan momentum.

OCBC memperkirakan mata uang ini akan pulih menjadi 4,60 per dolar AS, sementara ANZ memprediksi level 4,45. Bank sentral juga diproyeksi akan mempertahankan suku bunga acuan pada tahun ini, bahkan ketika the Fed melonggarkan kebijakan moneternya.

"Hal ini pada akhirnya akan mempersempit perbedaan imbal hasil antara AS dan Malaysia, sehingga memberikan dukungan bagi mata uang tersebut," jelas Wong, yang juga mengatakan ada ruang bagi ringgit untuk memulihkan penurunannya. 

Ringgit mencapai 4,7958 pada Oktober, yang terlemah sejak tahun 1998. Penurunan melampaui level ini mungkin menjadikan ringgit mencapai 4,82 hingga 4,85 per dolar AS, menurut analisis teknis Bloomberg.

"Jika dolar terus menguat, baik karena tekanan lebih lanjut dalam siklus penurunan suku bunga The Fed atau peristiwa risk-off yang lebih besar, maka risiko terhadap ringgit akan tetap ada," kata ahli strategi mata uang OCBC Bank Christopher Wong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.