Free

Rugi Miliaran Gegara Ormas Ayam Eceran

Kerugian ini dialami beberapa rumah potong ayam atau Rumah Potong Hewan Unggas di Jakarta. Usaha mereka dipaksa tutup oleh organisasi masyarakat yang mengatasnamakan diri sebagai Komunitas Pedagang Ayam Eceran Pulogadung dan Paguyuban Ponorogo.

Rayful Mudassir

28 Jun 2023 - 19.39
A-
A+
Rugi Miliaran Gegara Ormas Ayam Eceran

Ilustrasi: Para pekerja di Rumah Potong Unggas (RPU) tengah menggantungkan ayam untuk disembelih dan akan dipotong di RPU Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumbar, Kamis (25/3/2021). Bisnis/Noli Hendra

Bisnis, JAKARTA - Nasib nahas dialami sejumlah rumah potong ayam di Jakarta. Kenaikan harga daging ayam menjelang Iduladha malah membuat mereka kehilangan omzet hingga miliaran rupiah. 

Kerugian ini dialami beberapa rumah potong ayam atau Rumah Potong Hewan Unggas di Jakarta. Usaha mereka dipaksa tutup oleh organisasi masyarakat yang mengatasnamakan diri sebagai Komunitas Pedagang Ayam Eceran Pulogadung dan Paguyuban Ponorogo. 

Pedagang  ayam di rumah potong Rawa Kepiting Okki Sutanto mengungkapkan bahwa peristiwa itu terjadi pada Selasa (27/6/2023) sekitar pukul 19.00 WIB saat mobil pengangkut ayam mulai berdatangan ke tempat penjagalan ayam tersebut.

Baca juga: Singapura Impor Ayam Hidup Indonesia demi Jaga Pasokan

Secara tak diduga, anggota Ormas itu memaksa pedagang di rumah potong unggas tutup selama 3 hari ke depan mulai 27-30 Juni 2023. Alasannya tak masuk akal, solidaritas kepada pedagang karena harga ayam sedang tinggi saat Iduladha.

“Massa itu sekitar 40-50 orang. Mereka paksa pedagang libur. Katanya bentuk protes/mogok jualan ayam karena harga ayam meroket. Tapi kami gak tahu yang menggerakan siapa, soalnya tidak diajak diskusi sama sekali. Langsung paksa tutup,” ujar Okki saat dihubungi Bisnis, Rabu (28/6/2023).

Aksi sepihak Ormas tidak dikenal tersebut sempat panas lantaran ditolak oleh pedagang. Akibat protes tersebut, salah satu keluarga pedagang dikeroyok massa yang datang tersebut hingga bercucuran darah di kepala. “Ada anak salah satu pedagang dipukuli karena protes melawan ormas. Namun lukanya tidak serius,” terangnya.


Akibat represi ormas-ormas tersebut, Okki mengatakan pedagang di rumah potong terpaksa menutup kiosnya dan kehilangan omzet ratusan juta per hari.

“Di RPHU Rawa Kepiting sendiri ada belasan pedagang dengan total 15 karyawan. Rata-rata omzet pedagang hariannya di Rp100-Rp150 juta. Jadi kehilangan omzet per hari dari belasan pedagang bisa sampai miliaran,” jelas dia.

Berdasar video yang diperoleh Bisnis saat peristiwa semalam, salah satu anggota ormas meminta pedagang RPIH Rawa Kepiting berhenti beroprasi sebagai bentuk solidaritas kepada pedagang kecil di pasar tradisional.

“Biasanya menurunkan ayam 1 truk, itu menjadi 5 truk. Ini momentum Iduladha. Ini kesempatan yang mempunyai uang. Tapi di dalam pasar, pergerakan pasar menjerit semua. Itu namanya tidak ada yang dinamakan keadilan. 

“Kalau ada yang namanya keadilan saling asah asuh. Bapak-bapak penyuplai terbesar, kami pedagang pasar hanya jual 100. Seharusnya dari pangkal juga merasakan. Jangan diambil enaknya sendiri,” tutur pria paruh baya itu. 

Menurut Okki, anggota ormas tersebut pun memberikan surat edaran mengenai kesepakatan antar pedagang agar meliburkan diri selama dari 27-30 Juni. 

Padahal kata dia, para pedagang di rumah potong unggas tidak pernah diajak musyawarah terkait hal tersebut. Selain di Rawa Kepiting, tembusan surat itu juga kepada rumah potong daerah Jakarta Timur seperti Pejagalan, Pintu Air, dan Rawa Teratai.

“Padahal musyawarah gak diundang tapi dipaksa tutup Ormas nggak jelas,” kata Okki.

Lebih lanjut, Okki juga mengungkapkan bahwa saat dipaksa tutup ormas itu, sebenarnya terdapat beberapa aparat Kepolisian dan TNI, namun mereka tidak bisa berbuat banyak. “Kalah jumlah. Cuma bisa memediasi dan menenangkan,” katanya

Akibat penutupan paksa oleh ormas itu, mayoritas pedagang lebih memilih menutup usahanya, meski sebagian memilih memindahkan lokasi usahanya. Sebab, ayam yang biasa dipotong jumlahnya mencapai ribuan ekor.

“Untuk RPH ada standar higienis dan halal yang butuh tempat dan peralatan khusus, gak bisa sembarang tempat untuk menghindari penyakit,” ujarnya. 

PASAR MURAH

Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggelar pasar murah atau Gerakan Pangan Murah di 3.800 titik seluruh Indonesia untuk menjaga stabilitas harga daging ayam ras di pasaran yang terindikasi mengalami kenaikan jelang Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) Iduladha.

GPM tersebut hasil kolaborasi bersama Pemerintah Daerah, Satgas Pangan, Perumda Dharma Jaya, Japfa Comfeed Indonesia (JCI), dan PT Charoen Phokpand Indonesia (CPI), melakukan operasi pasar bertajuk Gerakan Pangan Murah (GPM) Daging Ayam Ras.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi mengatakan, GPM ini akan berlangsung mulai 28 Juni hingga 2 Juli 2023 di lebih dari 3.800 titik di seluruh Indonesia.

"GPM ini merupakan respon cepat kita bersama stakeholder dalam menyikapi fluktuasi harga daging ayam menjelang Iduladha dan juga upaya untuk tetap menjaga stabilitas harga pasca Iduladha,” katanya saat melakukan peninjauan GPM di Kelurahan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (28/06/2023). (Indra Gunawan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.