Rupiah Tetap Lesu Meski Dolar AS Melemah

Prospek pertumbuhan ekonomi yang semakin baik tak mampu mengangkat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Farid Firdaus

26 Nov 2021 - 16.41
A-
A+
Rupiah Tetap Lesu Meski Dolar AS Melemah

Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 70 poin atau 0,49 persen ke Rp14.357,50 per dolar AS pada akhir pekan ini. Sentimen yang menekan mata uang garuda masih tetap sama, yaitu spekulasi terhadap kemungkinan kebijakan hawkish Federal Reserve (the Fed).

Pelemahan rupiah sejalan dengan laju mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan tercatat turun 0,29 persen, peso Filipina melemah 0,08 persen, yuan China tergelincir 0,08 persen, ringgit Malaysia ambles 0,29 persen dan bath Thailand turun 0,75 persen. Hanya yen Jepang yang mampu menguat 1,20 persen.

Di sisi lain, indeks dolar AS tengah menurun. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari Bisnis.com, Jumat (26/11/2021), indeks dolar AS juga turun 0,40 persen atau 0,39 poin ke 96,39 pada 15.40 WIB.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dolar AS melemah namun masih di level tertinggi 96,67. Bertahanya greenback di posisi atas karena meningkatnya kekhawatiran terhadap varian Covid-19 yang baru yang mendorong investor mencari aset aman.

Sementara itu, meningkatnya jumlah kasus Covid-19 mendorong Jerman untuk mempertimbangkan lockdown, mengikuti jejak tetangganya Austria. Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga datang dari spekulasi  kebijakan moneter the Fed.

“Sementara itu, nada yang semakin hawkish dari Federal Reserve AS telah meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga pada pertengahan 2022, sementara rekan-rekan di Eropa dan Jepang tetap pada sikap yang lebih dovish,” kata dia dalam riset harian, Jumat (26/11/2021).

Adapaun Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda menegaskan kembali komitmennya untuk stimulus moneter besar-besaran pekan lalu, sementara risalah dari pertemuan Oktober Bank Sentral Eropa, yang dirilis pada Kamis (25/22/2021), mengisyaratkan stimulus lanjutan dan pendekatan yang hati-hati terhadap setiap perubahan kebijakan.

Dari dalam negeri, pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2021 berpotensi tumbuh di atas 5 persen setelah pada kuartal III/2021 mengalami sedikit penurunan akibat merebaknya Covid-19 varian Delta.

Sedangkan keseluruhan tahun 2021 diperkirakan pertumbuhan ekonomi dikisaran di 3,5 persen hingga 4 persen, walaupun pemeringkat rating internasional memprediksi hanya 3,1 persen. Hasil pemeringkat lembaga internasional tersebut dilatarbelakangi oleh tanda-tanda pemulihan ekonomi nasional yang semakin nyata yakni salah satunya tercermin dari terjaganya tingkat inflasi di angka 1,7 persen dan nilai tukar yang hanya sedikit mengalami depresiasi.

Selain itu, lanjut Ibrahim, pemulihan ekonomi nasional juga terlihat dari PMI Manufaktur Indonesia yang pada Oktober berada di level 57,2. Ini merupakan rekor dari sejak pra pendemi dengan impor bahan baku dan barang modal yang turut menunjukkan pertumbuhan yang kokoh.

“Selanjutnya, dari konsumsi yaitu Indeks Keyakinan Konsumen mengalami perbaikan signifikan serta Indeks Penjualan Ritel juga rebound di level ekspansi,” jelas dia.

Pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, diperkirakan terus menguat seiring dengan kondisi pandemi yang relatif terjaga. Tak hanya itu, aktivitas investasi relatif stabil di masa puncak varian Delta dan akan berlanjut pada kuartal IV/202. Ditambah net ekspor yang juga diperkirakan masih lebar pada kuartal IV/2021 didorong permintaan dan harga komoditas global yang masih tinggi.

Pada bagian lain, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan agar Pemerintah dan DPR memperbaiki UU Cipta Kerja dalam jangka waktu 2 tahun ke depan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan Kadin Indonesia, Adi Mahfudz memperkirakan tidak akan ada perubahan mengenai UMP tahun 2022.

Pasalnya, kata dia, meskipun diminta untuk diperbaiki, UU Cipta Kerja tetap berlaku. Penetapan UMP ini menjadi satu-satunya turunan UU Cipta Kerja yang mulai diimplementasikan oleh pemerintah yang keputusannya baru berlaku pada 2022 mendatang.

Dengan seluruh sentimen tersebut, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah pada awal pekan depan. Nilai tukar upiah diproyeksi bergerak di rentang Rp.14.340 - Rp.14.390.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.