Saham BRPT Dalam Bayang-Bayang Panasnya Harga Minyak

Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan seiring krisis energi yang meningkatkan permintaan pada komoditas ini. Peningkatan harga minyak ini diperkirakan akan berpengaruh ke kinerja emiten petrokimia seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT).

Redaksi
Oct 12, 2021 - 1:13 PM
A-
A+
Saham BRPT Dalam Bayang-Bayang Panasnya Harga Minyak

Wisma Barito Pacific, kantor pusat PT Barito Pacific Tbk./barito-pacific.com

Bisnis, JAKARTA — Tren kenaikan harga minyak dunia yang masih berlangsung hingga saat ini bakal berpengaruh terhadap kinerja emiten petrokimia PT Barito Pacific Tbk. Setelah sepanjang tahun ini harganya terkoreksi, akankah pembalikan arah segera terjadi?

Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan seiring dengan krisis energi di sejumlah negara akibat permintaan yang mendadak meningkat untuk menopang kinerja ekonomi yang mulai pulih dengan cepat. Lonjakan permintaan tersebut belum mampu diimbangi oleh pasokan, sehingga harga naik.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki Yamani menuturkan, kenaikan harga minyak bisa berefek negatif ke BRPT, karena bisa menaikkan biaya produksi BRPT sekaligus anak usahanya, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).

"Raw material mereka berkorelasi positif dengan pergerakan harga minyak," kata Yaki kepada Bisnis, Selasa (12/10).

Akan tetapi, lanjut Yaki, peningkatan harga minyak dunia ini tidak akan terlalu berdampak ke BRPT. Pasalnya, emiten umumnya sudah melakukan hedging atau lindung nilai atas volatilitas harga komoditas, terutama minyak.

Upaya hedging ini pun diperkirakan akan mampu memberikan potensi bagi BRPT untuk menjaga dan melanjutkan kinerja positifnya di semester II/2021.

Sebagaimana diketahui, emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu ini berhasil membukukan laba bersih pada semester I/2021, seiring dengan naiknya pendapatan.

Dalam laporan keuangan per Juni 2021, BRPT membukukan pendapatan US$1,55 miliar atau setara dengan Rp22,62 triliun (kurs Jisdor Rp14.542 per dolar AS pada 30 Juni 2021). Pendapatan tersebut naik 40,93% year on year (YoY) dari US$1,1 miliar per Juni 2020.

BRPT tercatat berhasil membalikkan rugi bersih menjadi laba bersih. Perseroan mencatatkan laba bersih periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$95,49 juta atau sekitar Rp1,38 triliun. Laba bersih tersebut berbalik dari sebelumnya rugi bersih US$14,53 juta pada semester I/2020.

Tidak hanya berasal dari hedging, katalis positif lainnya bagi BRPT menurut Yaki datang dari rencana pemerintah untuk mengurangi impor bahan petrokimia hingga 50% pada tahun 2023.

Selain itu, penambahan fasilitas baru polietilena (polyethylene) dengan kapasitas 400 KTPA, serta pembebasan pajak 100% selama 10 tahun setelah beroperasi secara komersial, dan 50% untuk dua tahun setelah pembebasan pajak 10 tahun, bisa menjadi katalis baik untuk kinerja BRPT maupun TPIA.

Adapun, pada perdagangan hari ini, Selasa (12/10), saham BRPT ada di level Rp925, tidak bergerak jika dibandingkan dengan penutupan hari kemarin. Sepanjang tahun ini, saham BRPT tercatat sudah turun 15,91% year-to-date (YtD).

Saham BRPT sejatinya pernah turun lebih dalam lagi, yakni hingga ke level Rp805 pada akhir Juli 2021, sebelum mendadak melesat dalam waktu yang sangat singkat hingga Rp1.125 pada awal Agustus 2021. Namun, setelahnya saham BRPT justru berbalik melemah.

Yaki menyarankan bagi investor yang ingin masuk ke saham BRPT untuk membeli saat pelemahan atau buy on weakness (BoW) di area Rp800-Rp900, dengan target terdekat Rp1.100-Rp1.140.

Yaki berpandangan bahwa pengembangan energi baru terbarukan (EBT) BRPT lewat Star Energy dapat menjadi katalis positif bagi saham BRPT. Selain itu, pengembangan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Java 9 dan 10 bersama Indonesia Power juga bisa berdampak positif ke perseroan.

"Namun, kontribusi kedua pembangkit listrik ini ke kinerja perseroan belum akan banyak, karena kontribusi terbesar perseroan berasal dari bisnis petrokimia yang masih di atas 60%," kata Yaki.

Pada paruh pertama tahun ini, pendapatan perseroan dari Star Energy tercatat turun tipis 0,15% menjadi US$262,19 juta dari US$262,58 juta pada semester I/2020.

Namun, Star Energy tercatat mampu menekan beban menjadi US$181,4 juta di semester I/2021, dari US$185,3 jura pada periode yang sama tahun lalu. Dengan ini, laba tahun berjalan Star Energy tercatat naik 4,5% YoY menjadi 80,7 juta dari US$77,25 juta.

Adapun dalam struktur pendapatannya, petrokimia memang masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan BRPT, yakni dengan penjualan ekspor mencapai US$280,5 juta dan lokal mencapai US$979 juta. 

PELUANG TIPIS

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan bahwa jika menimbang pelemahan harganya yang sudah cukup dalam secara YtD, saham BRPT berpeluang tipis kembali ke zona hijau di sisa tahun ini.

"Saat ini pergerakan dalam jangka menengahnya cenderung sideways dan dalam jangka pendek dalam tren penurunan," kata Sukarno, Selasa (12/10).

Sukarno menyebut, investor bisa melakukan trading buy terhadap saham BRPT. Namun, dia menyarankan investor untuk tetap memperhatikan momentum teknikal saat akan masuk ke saham ini. Menurutnya, BRPT masih berpeluang melanjutkan tren peningkatan kinerja di semester II/2021.

"Hal ini seiring kenaikan harga minyak yang memicu kenaikan harga jual produk-produk kimia dan didukung peningkatan permintaan juga," ucapnya.

Selain itu, katalis positif lainnya menurut Sukarno adalah ekspansi yang telah dilakukan perseroan. Menurutnya, hal ini akan meningkatkan kinerja BRPT.

Sebelumnya, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan saat ini pergerakan saham Barito Pacific sudah berada di akhir koreksinya.

"Meskipun dari sisi indikator MACD dan stochastic masih menunjukkan adanya rawan koreksi, tetapi sudah relatif terbatas dan berpeluang menguat kembali," tutur Herditya.

Herditya merekomendasikan bagi investor yang ingin masuk ke saham ini untuk BoW. Investor disarankan menjaga support pada level Rp800.

"Selama masih berada di atas level tersebut, maka BRPT diperkirakan berpeluang menguat kembali paling tidak menguji ke Rp970-Rp1.030," ucap dia.

(Reporter: Annisa Saumi)

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar