Saham-Saham Buruan Asing Sepanjang 2023, dari BBRI hingga ICBP

Kendati dibayangi tekanan capital outflow, investor asing nyatanya masih mengoleksi sejumlah saham di Indonesia. Terbanyak, saham BBRI dipegang, disusul saham produsen Indomie (ICBP).

Annisa Kurniasari Saumi & Rizqi Rajendra

1 Okt 2023 - 19.19
A-
A+
Saham-Saham Buruan Asing Sepanjang 2023, dari BBRI hingga ICBP

Ilustrasi perdagangan di pasar modal Indonesia./BISNIS

Bisnis, JAKARTA - Investor asing terpantau memburu sejumlah saham seperti BBRI, ICBP hingga GOTO sepanjang 9 bulan atau periode Januari-September 2023 seiring dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sepanjang 9 bulan 2023, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi saham paling laris diborong asing dengan net foreign buy senilai Rp6,1 triliun. Kinerja saham BBRI masih naik 5,77 persen secara ytd dan parkir di level Rp5.225 per saham.

Selanjutnya, emiten Grup Salim yang merupakan produsen Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) menjadi incaran investor asing dengan net buy Rp2,7 triliun ytd. Saham ICBP juga mencatatkan penguatan 10,75 persen ytd ke level Rp11.075 per saham.

Emiten bank pelat merah, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga menjadi salah satu saham yang paling diburu investor asing. Tercatat beli bersih asing sebesar Rp2,3 triliun untuk saham BBNI. Sedangkan secara year to date, saham BBNI naik 11,92 persen dan berada di level Rp10.325 per saham.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) juga menjadi saham incaran asing sepanjang 2023 dengan net buy Rp1,8 triliun. Kendati demikian, saham GOTO masih mencatatkan pelemahan sebesar 6,59 persen dan berada di level Rp85 per saham.

Kemudian, saham emiten Grup Bakrie PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang masing-masing diborong asing sebanyak Rp1,4 triliun dan Rp1 triliun.

Secara ytd, saham BUMI masih mencatatkan penurunan kinerja sebesar 14,91 persen sementara BRMS memberikan return sebesar 33,33 persen.

PT Astra International Tbk. (ASII) juga tercatat menjadi saham yang dikoleksi investor asing sebanyak Rp1,1 triliun. Saham ASII naik 9,21 persen secara year to date dan parkir di level Rp6.225 per saham.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) juga diburu asing dengan net buy Rp963,9 miliar, diikuti saham milik keluarga Punjabi, PT MD Pictures Tbk. (FILM) yang diborong asing senilai Rp918,7 miliar. Meski demikian, saham MDKA terkoreksi 30,10 persen ytd, sedangkan saham FILM melesat 54,45 persen ytd.

Terakhir saham emiten pelat merah, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dikoleksi asing sebanyak Rp793,2 miliar ytd. Saham ANTM saat ini berada di level Rp1.815 per saham atau turun 8,56 persen year to date

Baca Juga : Tekfin Kripto Bisa Jadi Startup Unikorn Berikutnya

Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), secara year-to-date (ytd), IHSG mengalami kenaikan 1,29 persen dibandingkan posisi 2 Januari 2023 di level 6.850,98.

Adapun, BEI juga mencatatkan aksi jual bersih atau net sell investor asing sebesar Rp5,24 triliun sepanjang 2023 hingga akhir perdagangan Jumat, (29/9/2023).

"Investor asing pada hari ini [Jumat, 29/9] mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp762,97 miliar, dan sepanjang tahun 2023 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp5,24 triliun," ujar PJS Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad dikutip Sabtu, (30/9/2023).

Sebelumnya, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan dibayangi suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada kuartal IV/2023. Analis melihat IHSG dapat menembus level psikologis 7.000 sampai akhir tahun.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan pelaku pasar masih akan melihat perkembangan arah suku bunga Amerika Serikat yang diprediksi masih akan berada di level yang tinggi lebih lama, sehingga lebih berhati-hati dalam berinvestasi. 

Baca Juga : Ramalan Inflasi September 2023 Kian Melandai 

"Oleh karena itu, Panin AM menilai bahwa level wajar IHSG di akhir tahun 2023 adalah 7.400," kata Rudiyanto kepada Bisnis, Jumat (29/9/2023).

Sementara itu, lanjut Rudiyanto, suku bunga acuan BI masih dipertahankan di level 5,75 persen, tetapi juga menyesuaikan dengan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Rudiyanto juga menjelaskan sentimen negatif terhadap IHSG akan datang dari ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat, dimana Federal Funds Rate (FFR) diprediksi masih akan mengalami kenaikan 1 kali lagi di tahun 2023, sehingga investor asing bersikap wait and see. Sementara itu, keadaan ekonomi Indonesia masih dalam keadaan yang baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.