Satpam dan Misi Ekspansi BCA

Dirut BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal satpam dan misi ekspansi perusahaan di tengah paparan kinerjanya. Simak penjelasannya.

Redaksi
Oct 21, 2021 - 9:26 PM
A-
A+
Satpam dan Misi Ekspansi BCA

Dirut BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal satpam dan misi ekspansi perusahaan di tengah paparan kinerjanya. (Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

“Mereka (satpam) itu adalah ujung tombak kami dalam melayani nasabah. Kami harapkan mereka mempunyai standar yang sama, yang pasti harus dilatih dan tidak boleh bosan-bosan,” ujar Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk., Jahja Setiaadmadja saat menanggapi soal petugas satuan pengamanan (satpam) BCA yang dibicarakan di dunia maya di sela paparan kinerja pada Kamis (21/10/2021).

Menurutnya, satpam perseroan memiliki andil besar dalam menjaga kualitas layanan perbankan, termasuk teller, petugas layanan konsumen dan petugas yang menjaga hubungan dengan konsumen.

Seperti diketahui, tanggapan soal satpam BCA populer di Twitter pada Kamis (13/10/2021) dengan ribuan pengguna yang menyukai dan mencuitkan ulang.

“Terima kasih juga untuk satpam-satpam yang sudah luar biasa memberikan pelayanan kepada para nasabah. Mudah-mudahan bisa terus kami pertahankan,” lanjutnya.

Menariknya, tak hanya soal satpamnya yang menjadi buah bibir. Ternyata langkah ekspansi perusahaan menarik perhatian para pelaku pasar.

Tercatat, pada perdagangan Kamis (21/10/2021), terdapat transaksi crossing senilai Rp820,68 miliar di level Rp7.435 per saham yang terjadi antarbroker asing.

Terlepas dari aktivitas tersebut, BCA melaporkan penyaluran kredit baru naik 13,8 persen secara tahunan. Dari sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) juga tumbuh 21 persen secara tahunan.

Kinerja kredit dan CASA yang moncer, perusahaan mampu mencetak laba bersih Rp23,2 triliun pada Januari – September 2021, naik 15,8 persen.

Rasio keuangan perseroan juga tetap kokoh dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 26,2 persen, di atas ketentuan regulator. Sementara itu, kondisi likuiditas tetap memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 62 persen.

Rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) terjaga sebesar 2,4 persen, didukung oleh kebijakan relaksasi restrukturisasi. Rasio pengembalian terhadap aset atau return on asset tercatat sebesar 3,5 persen, dan return on equity (ROE) sebesar 18,7 persen.

Sebagai tambahan, rasio loan at risk (LAR) turun ke 17,1 persen pada sembilan bulan pertama 2021, atau lebih rendah daripada 19,1 persen pada semester I 2021.

Saldo outstanding kartu kredit juga naik 1,2 persen menjadi Rp13,9 triliun. Secara total, portofolio kredit konsumer membaik dengan catatan kenaikan 2,1 persen atau menjadi Rp144,7 triliun.

Pada kuartal III/2021, total dana pihak ketiga naik 18,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp923,7 triliun, sehingga mendorong total aset tumbuh 16,5 persen secara tahunan mencapai Rp1.169,3 triliun.

Jahja mengatakan bahwa perseroan mengapresiasi upaya dari pemerintah dalam mengendalikan kasus Covid-19 di Indonesia, serta mengakselerasi program vaksinasi pada masyarakat.

“Sehingga, aktivitas bisnis mulai menunjukkan pemulihan seiring dengan peningkatan mobilitas,” katanya.

Seiring kokohnya serta kinerja outstanding kredit yang membaik, BCA mempertahankan pertumbuhan positif pada pendapatan bunga bersih, yakni 3,3 persen secara tahunan menjadi Rp42,2 triliun sepanjang Januari – September 2021.

Pendapatan selain bunga tercatat Rp15,5 triliun tumbuh 2,4 persen secara tahunan. Kinerja positif pendapatan selain bunga ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi sebesar 11,2 persen menjadi Rp10,7 triliun. Secara total, pendapatan operasional tercatat Rp57,6 triliun atau naik 3,1 persen.

Jahja menyebut laba bersih tumbuh 15,8 persen menjadi Rp23,2 triliun, ditopang oleh penurunan biaya operasional dan biaya provisi kredit yang lebih rendah.

Selain mencatatkan kinerja ciamik, perusahaan berencana menaikkan modal entitas anak yakni Bank Digital BCA dari Rp2,7 triliun menjadi Rp4 triliun.

Menurutnya, Bank Digital BCA telah menunjukkan kinerja positif sampai dengan saat ini dengan total penghimpunan dana nasabah mencapai Rp800 miliar dan jumlah transaksi tercatat 100.000 per hari.

“Buat apa account banyak tetapi tidak ada transaksi dan kami senang sekali dengan performa digital ini dan produknya milenial banget dan perkembangan ini menunjukkan tanda fakta,” katanya.

Penambahan modal tersebut diharapkan membuat Bank Digital BCA terus berinovasi untuk memenuhi beragam kebutuhan nasabah, serta memperluas ekosistem digital yang dimiliki.

Di sisi lain, langkah ini diproyeksikan mampu mengoptimalkan rencana Bank Digital BCA dalam melaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia dalam kurun 1 hingga 2 tahun mendatang.

“Saya katakan kalau IPO ya akan kami kumpulkan dulu fakta yang sudah dicapai bank digital kami,” kata Jahja.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Jahja menuturkan pertimbangan utama perseroan menyiapkan BCA Digital untuk IPO lantaran melihat minat investor saat ini.

“Semua cari digital. Jadi, kami akan menjajaki, ini pun saya bilang menjajaki kemungkinan ke arah itu, karena minat investornya mungkin ada di situ. Kuncinya bukan mau atau tidak, kalau ada minat investor tentu kami akan share,” katanya.

Jahja melihat saat ini investor memang sedang terbuai dan ingin sekali masuk kepada bisnis bank digital. Dia meyakini tidak akan kehilangan momentum tersebut meski BCA Digital baru melantai di bursa dalam setahun hingga dua tahun mendatang.

Menurutnya, BCA Digital ibarat bayi baru lahir. Oleh karena itu, perseroan ingin lebih dulu mengembangkan anak usahanya itu menjadi lebih besar dan menyiapkannya secara matang sebelum melantai di Bursa. 

(Reporter: Dionisio Damara, Rinaldi Azka & Yuliana Hema)

Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar