Sederet Sebab Ekspor CPO Melambat

Kondisi harga CPO yang semakin tidak kompetitif disebut semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah dalam menetapkan bea keluar (BK) dan pungutan eskpor (PE) CPO.

Dwi Rachmawati

16 Mei 2024 - 22.06
A-
A+
Sederet Sebab Ekspor CPO Melambat

Buah kepala sawit. Foto BID

Bisnis, JAKARTA - Nilai ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) turun tajam pada April 2024. Pelaku usaha mengungkapkan sederet penyebabnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor CPO dan turunannya pada April 2024 sebesar US$1,39 miliar, atau turun tajam 10,49% dibandingkan nilai ekspor pada Maret 2024 sebesar US$1,56 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan penurunan ekspor CPO dipicu oleh melimpahnya pasokan minyak nabati lainnya sehingga menekan harga CPO di pasar global.

"Pelemahan ekspor ini karena minyak nabati lain, seperti kedelai semakin murah [harganya] karena suplai yang bagus," ujar Eddy saat dihubungi, Rabu (15/5/2024).

Menurut Eddy, saat ini harga CPO cenderung tidak terjadi kenaikan dan bertahan di kisaran Rp12.000 per kilogram. Bahkan, pada Februari 2024, Eddy menyebut harga minyak kedelai jauh lebih murah dibandingkan minyak sawit di pasar global.

Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga komoditas minyak kelapa sawit atau CPO berjangka pada perdagangan Jumat (10/5/2024) kontrak Juli 2024 melemah 21 poin ke 3.810 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia, melemah 0,91 dalam sepekan.

Kontrak Mei 2024 juga ditutup melemah 76 poin menjadi 3.847 ringgit per ton dan telah melemah 0,95% dalam sepekan.

Baca juga:

Sederet PR Minyak Sawit Hadapi Tekanan Pasar Dunia


Kondisi harga CPO yang semakin tidak kompetitif disebut semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah dalam menetapkan bea keluar (BK) dan pungutan eskpor (PE) CPO.

Adapun pemerintah mengenakan BK eskpor CPO pada periode April 2024 sebesar US$52 per ton dan PE sebesar US$90 per ton.

Menurut Eddy, seharusnya kebijakan BK dan PE terhadap CPO bisa dilakukan lebih fleksibel mengikuti perkembangan kondisi pasar CPO dunia.

Relaksasi threshold harga referensi untuk penentuan BK dan PE CPO dianggap perlu dipertimbangkan pemerintah agar harga CPO Indonesia bisa lebih berdaya saing dibandingkan minyak nabati lainnya.

"PE dan BK seharusnya selalu disesuikan dengan situasi dan kondisi. Ini sebaiknya kita perlu melihat kebijakan kita agar harga CPO kita kompetitif," jelasnya.

Eddy memperkirakan ekspor CPO pada Q2/2024 akan membaik seiring mulai berkuranganya pasokan minyak nabati lainnya.

"Secara historical stok minyak nabati tanaman semusim akan berkurang, mereka mulai tanam lagi di semester kedua, seharusnya di kuartal kedua 2024 membaik [ekspor CPO]," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.