Sekeranjang Masalah PHK Industri Tekstil Masih Berlanjut

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) periode Januari—November 2023 terjadi di 8 perusahaan dan berdampak pada 7.300 karyawan yang di PHK.

Afiffah Rahmah Nurdifa

18 Jan 2024 - 13.48
A-
A+
Sekeranjang Masalah PHK Industri Tekstil Masih Berlanjut

Pekerja di pabrik tekstil sedang menyusun gulungan kain. /Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tak kunjung surut. Padahal, anggaran pemerintah untuk insentif restrukturisasi mesin telah terserap nyaris 100% pada 2023. 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengatakan program baik tersebut belum optimal lantaran anggaran yang minim yakni Rp4,36 miliar untuk 13 perusahaan kain dan percetakan tahun lalu.

"Itu programnya baik hanya dananya terlalu kecil. Sebelum tahun 2016 kan budget-nya di atas Rp300 miliar jadi lumayan mendorong investasi," kata Redma kepada Bisnis, Rabu (17/1/2024). 

Baca juga: Bayang-bayang Bisnis Hiburan Tergerus Pajak Tinggi

Insentif terbatas, sementara kebutuhan industri untuk menggenjot produktivitas sangat tinggi. Alhasil, program restrukturisasi mesin tersebut tidak banyak berpengaruh pada kinerja.

Alih-alih meningkatkan aktivitas pabrik, industri TPT hingga saat ini masih mengalami tren melemah dan memicu bergugurannya sejumlah pabrik tekstil. 

"Jika minim atensi pemerintah sama seperti dua tahun belakangan ini, maka kinerja tahun ini akan kembali negatif bahkan jauh kian terpuruk. Ini setiap minggu masih tetap ada PHK dan banyak pabrik yang tutup juga," ujarnya. 

 

 Warga memadati pusat perbelanjaan Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

 

Sekjen APSyFI, Farhan Aqil menyampaikan bahwa program restrukturisasi mesin berdampak pada nilai tambah produk. Namun, penyerapan tenaga kerja masih akan terus berkurang lantaran permintaan pasar yang terusn merosot. 

"Hampir setiap bulan kami dari asosiasi selalu mendengar minimal satu perusahaan tutup atau stop setiap bulannya. Ini menjadi ironi bagi kita dan perlu perhatian khusus dari pemerintah," tuturnya. 

Baca juga: PHK Industri Tekstil Masih Berlanjut Tahun Ini, Insentif Kemenperin Belum Menolong

Berdasarkan data Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) periode Januari—November 2023 terjadi di 8 perusahaan dan berdampak pada 7.300 karyawan yang di PHK. 

Sejak 2022, anggota KSPN yang terkena PHK mencapai 56.976 karyawan dari 36 perusahaan di Provinsi Jawa Barat hingga Banten dan kota-kota lain seperti Semarang, Pekalongan, Sukoharjo, Magelang, Demak, hingga Karanganyar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.