Free

Semarak Kompetisi Operator Internet Nirkabel

Peta persaingan dari bisnis internet nirkabel cukup ketat. Terlebih, arah dari bisnis ini terutama 5G juga akan menjadi fixed wireless ke depannya.

Wike D. Herlinda

4 Mar 2022 - 12.30
A-
A+
Semarak Kompetisi Operator Internet Nirkabel

Wifi router/istimewa

Bisnis, JAKARTA — Permintaan terhadap internet nirkabel atau wireless broadband diproyeksikan makin bertumbuh pesat pada tahun ini. Operator seluler pun berpacu memberikan inovasi layanan dengan harga terbaik untuk merebut kue pasar.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai saat ini kehadiran layanan internet nirkabel kian dibutuhkan, terutama bila melihat kondisi geografis Indonesia. Sayangnya, banyak daerah yang belum tersentuh produk-produk penyalur jaringan tersebut.

Ketua Umum APJII Muhammad Arif menyebut makin banyak gawai atau pengguna internet, kapasitas pengantar internet juga akan kian banyak dibutuhkan.

"Produk wireless dengan kondisi geografis di Indonesia masih sangat dibutuhkan sebagai infrastuktur penyebaran internet," kata Arif, baru-baru ini.

Namun demikian, dia melihat saat ini masih banyak celah kosong di wilayah Indonesia yang belum tersentuh oleh pemasaran internet. 

Hadirnya produk-produk yang dikeluarkan oleh operator seluler adalah sebuah keharusan seiring dengan transformasi teknologi telekomunikasi dari analog menuju digital. 

Saat ini semua bentuk informasi—baik berupa suara, data, maupun video—sudah bisa disampaikan melalui jenis jaringan yang berbeda sehingga operator seluler juga harus mengubah layanan mereka menjadi komunikasi digital dan menjadikan diri mereka sebagai penyedia internet.

"Perihal peta persaingan, jika kita melihat dari segi kualitas layanan internet dan harga yang ditawarkan, itu sangat kondusif karena pangsa pasar di Indonesia itu saat ini tidak hanya sekadar bandwidth tetapi juga dengan konten apa yang ditawarkan," imbuhnya.

Terkait dengan banyaknya perangkat ponsel yang juga menyediakan kemudahan berbagi internet dengan perangkat lainnya, Arif menuturkan hal ini tidak terlalu berdampak pada bisnis produk nirkabel.

Dia mengakui keduanya merupakan peralatan pengantar internet bagi pengguna dengan pangsa pasar, kapasitas, dan kebutuhan yang berbeda pula.

"Pada prinsipnya, makin banyak gadget atau pengguna, kapasitas pengantar internet akan makin banyak juga dibutuhkan," tutur Arif.


Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB Ian Yosef M. Edward menambahkan keberadaan perangkat internet nirkabel kian menjadi kebutuhan dasar masyarakat, terutama pada era pandemi yang membatasi segala aktivitas fisik.

"Pertumbuhan bisnis produk wireless masih bisa mencapai di atas lima persen, dengan adanya 5G untuk kota besar dan destinasi wisata baru," ujarnya. 

Ian menilai adanya kebijakan pemerintah untuk mulai memadamkan jaringan 3G seiring dengan didorongnya penetrasi 4G di seluruh lapisan masyarakat juga berdampak pada pertumbuhan trafik data yang tinggi.

Bahkan, jika pandemi usai, tren ini masih akan terus berlanjut karena menggunakan layanan broadband sudah menjadi gaya hidup masyarakat.

"Seperti yang biasa pakai 4G, tiba-tiba jaringan yang ada 3G, user experience menjadi tidak nyaman. Hal ini menyebabkan menjadikan penggunaan 4G sudah bagian dari lifestyle. Jika sudah terbiasa menggunakan 5G, maka user experience yang nyaman ataupun minimum adalah layanan 5G," sebutnya.

Namun, Ian menuturkan saat ini yang masih menjadi kendala adalah pembangunan infastruktur tulang punggung serat optik dan last mile yang harus menggunakan teknologi minimal 4G. Untuk itu, diperlukan dana yang cukup besar dalam membangun ekosistem.

Menurutnya, diperlukan pembangunan backbone optik yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia baik dari program pemerintah ataupun swasta, serta perlu koordinasi bersama untuk membuat ekosistem yang sehat.

"Melihat wireless saat ini mulai dengan fixed wireless yang akan mempercepat akses broadband ke pelanggan, pelanggan rumah atau perkantoran dapat dilayani dengan cepat dan dengan service level agremeent yang tinggi," imbuhnya.

Dia menambahkan saat ini pembangunan infrastruktur tetap dilakukan dan merupakan kewajiban untuk seluruh Indonesia. Hal itu juga terbukti dengan adanya beberapa operator yang membangun di daerah tertentu. 

"Dengan pandemi saat ini, transformasi digital terbentuk, jadi berapapun trafik yang disediakan akan terserap oleh masyarakat," tutupnya.

Pemilihan router yang tepat menjadi penting dalam mendukung teknologi, spesifikasi dan fitur yang mendukung layanan internet./istimewa

Sebelumnya, solusi layanan internet rumah serba digital yang mendukung wireless broadband, Telkomsel Orbit yang diluncurkan pada Juli 2020 mencatatkan peningkatan jumlah pengguna yang cukup signifikan hingga 10 kali lipat sepanjang 2021. 

Head of Home LTE Project Telkomsel Arief Prasetya mengatakan Telkomsel Orbit terus menghadirkan pengalaman digital bernilai tambah bagi seluruh lapisan masyarakat selama beraktivitas di rumah, terutama mendukung adaptasi kebiasaan baru selama pandemi Covid-19 yang masih berjalan.

“Kepercayaan dari masyarakat selama 2021 lalu semakin tumbuh seiring dengan peningkatan jumlah pengguna yang cukup signifikan hingga 10 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Saat ini, Telkomsel Orbit telah dipercaya lebih dari 380.000 pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia," ujarnya.

Arief menyebut peningkatan jumlah pelanggan tersebut didorong dengan konsistensi Telkomsel Orbit dalam menghadirkan ragam inovasi layanan, mulai dari pengembangan fitur serta paket kuota yang lebih besar di aplikasi MyOrbit, menambah pilihan modem Telkomsel Orbit yang makin terjangkau, hingga perluasan kemudahaan akses saluran penjualan baik secara daring maupun luring.

Memasuki awal 2022, Telkomsel Orbit akan menghadirkan berbagai inisiatif baru agar dapat terus meningkatkan pengalaman pelanggan dan masyarakat dalam mendapatkan solusi layanan internet rumah dengan konektivitas digital terdepan.

PERSAINGAN BISNIS

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai peta persaingan dari bisnis internet nirkabel cukup ketat. Terlebih, arah dari bisnis ini terutama 5G juga akan menjadi fixed wireless ke depannya.

"Sekarang juga mengarah untuk masuk ke rumah menjadi pesaing fiber to the home [FTTH], namun persoalan perangkat modem dan tarif masih menjadi isu untuk bisa mengambil pasar FTTH," kata Heru.

Dia menyebut persoalannya saat ini adalah harga modem harus terjangkau sebab bila ingin bersaing, menggunakan modem nirkabel harus lebih murah dibanding biaya yang ditanggung saat akses FTTH.

Bukan itu saja, menurutnya penggunaan wireless broadband ini juga menjadi peluang besar karena lebih mudah dimanfaatkan. Pengguna tinggal memasang modem karena berbasis frekuensi. 

"Namun, untuk bisa digunakan harus ada base transceiver station [BTS] yang cukup stabil dan kapasitas serta kecepatan besar, dekat perumahan atau perkantoran minimal 4G," ujarnya. (Rahmi Yati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.