Semarak Kreativitas

Sepur Kluthuk adalah sebutan sebuah kereta uap yang dijalankan dengan lokomotif uap C1218 dan beroperasi di jalur rel kereta api sepanjang 6 kilometer, yang membentang dari Stasiun Purwosari Solo, tepat bersisian jalan protokol Slamet Riyadi Surakarta, menuju hingga Stasiun Solo Kota.

Puput Ady Sukarno

28 Jan 2024 - 10.47
A-
A+
Semarak Kreativitas

Pada 2022 misalnya, kontribusi para kreator dan para pekerja kreatif Indonesia terhadap PDB nasional mencapai Rp1134,9 triliun, dan seni rupa menyumbang 7,24%.- Foto BID

Bisnis, JAKARTA—Belum lama ini, saat pergi ke Solo, Jawa Tengah, tanpa sengaja saya mendapati adanya gelaran pameran lukisan karya seorang anak remaja bernama Muhammad Praditya Arifi an, di lobi Stasiun Kereta Api (KA) Solo Balapan.

Ada belasan lukisan bertema kereta api dengan berbagai ukuran, hasil karya Fian—sapaan akrab dari Arifian—terpajang di sekeliling ruangan lobi stasiun utama kebanggaan warga Kota Solo tersebut.

Salah satunya adalah lukisan tentang Kereta Api Uap Jaladara atau sering disebut Sepur Kluthuk Jaladara.

Sepur Kluthuk adalah sebutan sebuah kereta uap yang dijalankan dengan lokomotif uap C1218 dan beroperasi di jalur rel kereta api sepanjang 6 kilometer, yang membentang dari Stasiun Purwosari Solo, tepat bersisian jalan protokol Slamet Riyadi Surakarta, menuju hingga Stasiun Solo Kota.

Lokomotif uap yang menarik dua gerbong kereta dari bahan kayu jati asli buatan tahun 1920 itu mampu menampung kapasitas penumpang hingga 72 orang dan membutuhkan 4 meter kubik air serta 5 meter kubik kayu untuk menggerakkan lokomotif uap dengan jarak tempuh Stasiun Purwosari ke Stasiun Solo Kota.

Menariknya, karya lukisan yang dipamerkan sekaligus untuk dijual tersebut lahir dari seorang anak yang berkebutuhan khusus, autis.

Hebatnya, selain memanfaatkan bakat alaminya dalam menggambar, Fian juga mahir memanfaatkan teknologi komputerisasi untuk menghasilkan karya lukisnya.

Dengan bermodal pensil, kuas, kanvas, cat akrilik, laptop, tablet, drawing pen, software Photoshop, dan Corel Draw, Fian menghasilkan karya seni yang sangat layak untuk dikoleksi.

Uniknya lagi, Fian yang berhasil mengombinasikan antara melukis secara konvensional dengan teknologi digital itu, juga menerapkan kombinasi yang sama dalam melakukan pemasaran hasil karya seninya, yakni secara offline dan online.

Selain memamerkan karyanya kepada publik secara offl ine, melalui pameran maupun galeri seni, Fian juga aktif di media sosial dan platform Youtube untuk menunjukkan koleksi lain kebanggaannya yang bisa dinikmati maupun dibeli penikmat seni.

Dan apa yang dilakukan Fian, dewasa ini juga masif banyak dilakukan seniman lain pada zaman ini.

Para seniman aktif memanfaatkan media sosial untuk memamerkan dan menyosialisasikan hasil karyanya kepada khalayak, dengan tanpa mengesampingkan media yang ada selama ini seperti galeri seni, pameran seni, maupun studio seni pribadi mereka.

Hal tersebut terjadi terutama semenjak adanya pandemi Covid-19 melanda.

TERUS BERGELIAT

Geliat kreativitas yang dilakukan Fian dan seniman lain di Tanah Air untuk agar tetap dapat eksis dan bertahan tersebut, ternyata mendapatkan sambutan positif masyarakat. Meski sempat terserang pandemi, geliat pasar seni rupa Tanah Air tetap menjanjikan. Hal itu dapat dilihat dari maraknya eksibisi seni yang dihelat di berbagai daerah di Tanah Air.

Selain itu, saat ini juga mulai banyak bermunculan galeri seni baru yang digawangi generasi muda.

Mengutip data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), ekonomi kreatif berperan besar terhadap ekonomi nasional.

Pada 2022 misalnya, kontribusi para kreator dan para pekerja kreatif Indonesia terhadap PDB nasional mencapai Rp1134,9 triliun, dan seni rupa menyumbang 7,24%.

Peningkatan hingga keterlibatan Indonesia dalam ajang seni rupa, baik di dalam maupun luar negeri, juga memberi kontribusi positif.

Hal ini dapat dilihat dari dari sisi peningkatan pendapatan perekonomian dalam sektor ekonomi kreatif, hingga penyerapan tenaga kerja.

Pesatnya perkembangan industri seni rupa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir selain ditandai dengan makin banyaknya galeri seni dan pameran seni di berbagai kota, juga ditandai meningkatnya harga karya seni dari para seniman Tanah Air, terutama seniman kontemporer, di pasaran internasional.

Salah satu contoh hasil karya seni rupa yang berhasil membukukan penjualan fantastis adalah lukisan bertajuk Perburuan Banteng (La Chasse au Taureau Sauvage) karya Raden Saleh, yang tercatat sebagai lukisan termahal karya old master Indonesia.

Karya tersebut merupakan seri ke-4 dari lukisan bertema sama yang pernah dibuat Raden Saleh, di mana dua di antaranya koleksi Istana Negara, yakni Berburu Banteng I dan Berburu Banteng II.

Ceritanya, menurut penelitian galeri Cabinet Turquin di Prancis, lukisan ini dipercaya merupakan pesanan Jules Stanislas Sigisbert Cézard, saudagar kopi dan gula asal Prancis yang lahir di Batavia pada 1829.

Namun, saat Jules kembali ke Prancis 1859 dia menjual rumah dan seluruh perabotan di dalamnya, termasuk lukisan itu, sebagaimana diberitakan koran JavaBode 30/04/1859.

Lukisan Perburuan Banteng terjual di balai lelang Ruellan Auction Vannes, Prancis pada 27 Januari 2018 sehargga 7,2 juta Euro atau setara Rp120 miliar dengan kurs rupiah tanggal itu, kepada kolektor Indonesia yang tidak diketahui identitasnya.

Harga yang fantastis. Kini, dengan melihat situasi tersebut, adaptasi dengan zaman menjadi keniscayaan, salah satunya adalah dengan memaksimalkan peran media sosial dalam mempromosikan karya seni maupun menghubungkan seniman dengan sang kolektor eksisting maupun calon kolektor.

Pasalnya, sejumlah faktor seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin stabil, meningkatnya kelas menengah, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap seni rupa, serta adanya dukungan pemerintah terhadap perkembangan seni rupa Tanah Air, menjadi peluang yang tidak boleh dilewatkan.

Meski harus diakui juga masih ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan bersama, seperti masih minimnya edukasi seni rupa kepada masyarakat, kurangnya infrastruktur seperti museum dan galeri seni, dan ketatnya persaingan dengan negara lain.

Namun, apapun kondisinya, momentum geliat kreativitas yang saat ini mulai tumbuh di generasi muda seperti Fian, harus dijaga dengan baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.