Free

Semen Indonesia Subtitusi Batu Bara, Emisi Karbon Turun 2,1%

Fokus Semen Indonesia (SMGR) pada upaya dekarbonisasi mencapai operasional berkelanjutan tercapai melalui penurunan substitusi energi batu bara.

Jaffry Prabu Prakoso

19 Nov 2022 - 12.26
A-
A+
Semen Indonesia Subtitusi Batu Bara, Emisi Karbon Turun 2,1%

Kapal menarik tongkang berisi batu bara. Bisnis

JAKARTA – Emiten holding BUMN semen, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) berhasil menurunkan emisi karbon hingga 2,1 persen per September 2022. Salah satunya adalah melalui subtitusi energi batu bara.

Hingga September 2022, emiten berkode SMGR ini berhasil menekan emisi karbon hingga 591 kg CO2/ton semen atau turun sebesar 2,1 persen (setara 13 kg CO2/ton semen).

Penurunan tersebut dikontribusikan dari penurunan clinker factor sebesar 1 persen menjadi 69,1 persen dan peningkatan thermal substitution Rate (TSR) sebesar 1,6 persen menjadi 7,1 persen.

Proses muat produk Semen Indonesia untuk pengiriman di Pelabuhan Teluk Bayur./Dwi Nicken Tari

Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Vita Mahreyni menerangkan bahwa di tengah kondisi industri semen yang semakin kompetitif dan penuh tantangan, SMGR mampu mencatatkan pertumbuhan yang solid hingga kuartal III/2022.

EBITDA absolut tercatat meningkat 0,6 persen menjadi Rp5,73 triliun dan marjin EBITDA meningkat 0,1 persen menjadi 22,7 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Laba bersih SMGR juga meningkat 18,9 persen menjadi Rp1,65 triliun dengan peningkatan marjin laba bersih 1,0 persen menjadi 6,5 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Baca juga: Daftar 6 Emiten Batu Bara yang Masuk Bisnis Energi Terbarukan

Capaian positif tersebut tidak lepas dari upaya perseroan yang terus fokus pada strategi pengelolaan pasar dan harga, konsisten dalam meningkatkan operational excellence mencapai optimalisasi operasi dan efisiensi biaya.

SMGR juga terus menyiapkan inisiatif berinovasi mengembangkan diversifikasi produk dan solusi memenuhi kebutuhan akan bahan bangunan yang terus berkembang.

Fokus SMGR pada upaya dekarbonisasi mencapai operasional berkelanjutan tercapai melalui penurunan rata-rata faktor terak dan meningkatkan porsi substitusi energi batu bara.

Substitusi batu bara menggunakan bahan baku dan bahan bakar alternatif dari limbah industri maupun sampah perkotaan, pemanfaatan teknologi solar panel, serta pengembangan berbagai produk berkualitas yang ramah lingkungan dengan faktor terak yang lebih rendah.

Berencana Matikan 15 GW PLTU

Pemerintah akan menarik komitmen riil senilai US$500 juta atau sekitar Rp7,75 triliun (asumsi kurs Rp15.493 per US$) untuk melakukan transisi energi hijau dengan berbekal Indonesia Energy Transition Mechanism atau ETM Country Platform.

Baca juga: Upaya Net Zero Emission di Indonesia Kian Bertenaga

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa Indonesia akan menarik komitmen riil pembiayaan senilai US$500 juta untuk langkah transisi energi hijau, terutama pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.

Pemerintah akan mengembangkan dana tersebut agar pelaksanaan transisi energi hijau dapat lebih besar. Menurut Sri Mulyani, pemerintah telah mengidentifikasi potensi 15 gigawatt (GW) PLTU yang dapat dipensiunkan lebih awal. 

“Komitmen financing melalui skema ETM ini akan sangat tergantung kepada bagaimana kita akan mengembangkannya. Kita akan mulai dengan 2 GW, yang kemudian akan menarik komitmen riil senilai US$500 juta yang akan dikembangkan menjadi US$4 miliar,” katanya pada konferensi pers peluncuran ETM Country Platform di Nusa Dua, Bali pada Senin (14/11/2022).

PLTS Terapung Cirata 145 MW yang terbesar di Asia Tenggara/BKPM

Sri Mulyani menyebut bahwa ETM Country Platform menunjukkan upaya Indonesia untuk transisi energi yang adil dan terjangkau. Platform itu pun dapat menjembatani kebutuhan pengembangan energi dan pengurangan emisi karbon.

Keseimbangan itu menurutnya penting untuk menjaga komitmen Indonesia terhadap isu perubahan iklim, terutama national determined contribution (NDC) yang diumumkan di Paris Agreement.

"Kenapa ETM ini sangat penting? Indonesia adalah rumah bagi hampir 300 juta orang. Jutaan orang rentan terekspos ke bencana alam yang dipicu oleh perubahan iklim, terutama mereka yang berada di dataran rendah kepulauan kami," ujarnya. (Rinaldi Mohammad Azka dan Wibi Pangestu Pratama)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.