Sepanjang 2021 Tiga Tangki BBM Pertamina Terbakar, Kesengajaan?

Kebakaran beruntun Kilang Cilacap semakin menguatkan indikasi bahwa ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu untuk tujuan peningkatan volume impor.

Muhammad Ridwan
Nov 14, 2021 - 4:30 PM
A-
A+
Sepanjang 2021 Tiga Tangki BBM Pertamina Terbakar,  Kesengajaan?

Tangki Balongan terbakar/Antara

Bisnis, JAKARTA – Sepanjang 2021, tercatat telah terjadi tiga kejadian kebakaran tangki penyimpanan bahan bakar minyak milik PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di kompleks kilang.

Satu kejadian terjadi di kompleks kilang Balongan dan 2 lainnya terjadi di kompleks kilang Cilacap.

Insiden pertama pada tangki penyimpanan BBM Pertamina terjadi pada Senin (29/3/2021) dini hari dengan terbakarnya Tangki T-301G yang ada di kilang Balongan.

Api yang disebabkan oleh sambaran petir itu telah melahap bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang ada di tangki itu.

Belum selesai proses investigasi kejadian di kilang Balongan, kebakaran kembali melahap area pertangkian 39 Pertamina RU IV Cilacap.

Tangki Pertamina terbakar/istimewa

Insiden itu terjadi pada Jumat (11/6/2021) dengan kobaran api yang menyambar pertama kali pada pukul 19.45 WIB.

Kebakaran kembali terjadi di tangki penyimpanan BBM RU IV Cilacap pada Sabtu (13/11/2021). Kali ini api menyambar tangki 36 T102 yang berisikan berisi produk Pertalite.

Penyebab kebakaran tersebut sampai dengan saat ini pun masih belum diketahui.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati sebelumnya pernah mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan pelajaran berharga atas insiden kebakaran yang terjadi di Kilang Balongan, Jawa Barat, pada akhir Maret lalu.

Guna mencegah kejadian serupa terulang, perseroan pun melakukan identifikasi ulang terhadap aspek keamanan pada sejumlah fasilitas kilang minyak dan terminal bahan bakar minyak (TBBM).

Nicke menuturkan bahwa prioritas perseroan saat ini adalah membangun buffer zone di sejumlah area kilang minyak dan TBBM miliknya.

Adanya buffer zone akan menciptakan jarak aman yang cukup antara area kilang dan lingkungan masyarakat.

“Lesson learned-nya perlu buffer zone. Memang di samping kilang kami [Balongan] itu jalan raya dan kecelakaan terjadi pada orang yang melintas di situ. Kami prioritaskan pembangunan area untuk buffer zone,” ujar Nicke dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (20/5/2021).

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi berpendapat, kebakaran tangki penyimpanan BBM yang terjadi beberapa kali mengindikasikan bahwa Pertamina abai terhadap pengamanan kilang.

Kebakaran itu tidak hanya meludeskan tangki penyimpanan minyak tetapi juga mengancam keselamatan warga di sekitar yang harus mengungsi.

Dia menuturkan, seharusnya sistem pengamanan kilang Pertamina sudah sesuai dengan standar internasional. Namun, tetap saja kebakaran terjadi untuk yang kesekian kalinya.

“Kebakaran beruntun Kilang Cilacap semakin menguatkan indikasi bahwa ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu untuk tujuan peningkatan volume impor pascakebakaran, yang menjadi lahan pemburu rente,” katanya kepada Bisnis, Minggu (14/11/2021).

Proses pemadaman tangki yang terbakar/Pertamina

Dia menambahkan, kebakaran tersebut akan menyebabkan meningkatkannya biaya impor dan memperburuk kinerja keuangan Pertamina pada tahun ini.

Fahmy menilai, Pertamina harus punya komitmen tinggi dan tidak abai dalam mengamankan seluruh aset penting, utamanya kilang dan tangki minyak.

 “Untuk itu, Pertamina harus menerapkan sistem keamanan kilang minyak secara berlapis, sesuai dengan standar Internasional. Sistem pengamanan tersebut juga harus diaudit secara berkala oleh Kementerian ESDM dan lembaga independen,” jelasnya.

Editor: Rustam Agus

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar