Sertifikasi Halal Gratis Buka Lagi Tahun 2023, ini Syaratnya

Pemerintah kembali membuka program sertifikasi halal gratis pada 2023. Cek kuota dan syarat daftarnya berikut ini.

Jaffry Prabu Prakoso

4 Jan 2023 - 12.50
A-
A+
Sertifikasi Halal Gratis Buka Lagi Tahun 2023, ini Syaratnya

ISEF 2022 mendorong akselerasi sertifikasi halal bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). /Kemenkeu

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) kembali membuka program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) dengan kuota untuk 1 juta pada 2023.

Kepala BPJPH M. Aqil Irham menerangkan bahwa program Sehati 2023 akan berlangsung sepanjang 2023 dan dimulai sejak 2 Januari 2023.

“Berbeda dengan tahun sebelumnya, Sehati 2023 akan dibuka sepanjang tahun. Mulai 2 Januari 2023 pelaku usaha sudah bisa mendaftar. Kami membuka 1 juta kuota sertifikasi halal gratis dengan mekanisme pernyataan pelaku usaha (self declare),” kata Aqil Irham melalui keterangan pers, Selasa (3/1/2023).

Adapun tahapan kewajiban sertifikasi halal tahap 1 akan berakhir di 17 Oktober 2024. Lewat dari itu akan ada sanksi yang dikenakan.

“Setelah 17 Oktober 2024, bagi pelaku usaha makanan dan minuman, hasil sembelihan, serta jasa penyembelihan, harus bersertifikat halal. Jika belum, maka akan terkena sanksi,” ujarnya.

Melalui program Sehati 2023, Aqil berharap para pelaku usaha dapat memanfaatkannya. Di sisi lain, Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH Siti Aminah menyampaikan bahwa pendaftaran Sehati 2023 dapat dilakukan melalui ptsp.halal.go.id.


“Pelaku usaha dapat membuat akun terlebih dahulu di sana. Selain melalui laman ptsp.halal.go.id, saat ini pendaftaran sertifikasi halal juga dapat dilakukan melalui aplikasi Pusaka,” jelasnya.

Aminah menjelaskan bahwa aplikasi Pusaka memiliki berbagai fitur layanan online Kemenag untuk masyarakat, misalnya pendaftaran haji, pendaftaran nikah, hingga sertifikasi halal.

Berdasarkan Keputusan Kepala BPJPH (Kepkaban) Nomor 150 tahun 2022, berikut ini syarat pendaftaran sehati 2023:

Baca juga: Peluang dan Tantangan Industri Halal: Bukan Hanya Sektor Pangan

  1. Produk tidak berisiko atau menggunakan bahan yang sudah dipastikan kehalalannya
  2. Proses produksi yang dipastikan kehalalannya dan sederhana
  3. Memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB)
  4. Memiliki hasil penjualan tahunan (omset) maksimal Rp500 juta yang dibuktikan dengan pernyataan mandiri
  5. Memiliki lokasi, tempat, dan alat proses produk halal (PPH) yang terpisah dengan lokasi, tempat, dan alat proses produk tidak halal
  6. Memiliki atau tidak memiliki surat izin edar (PIRT/MD/UMOT/UKOT), sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) untuk produk makanan/minuman dengan daya simpan kurang dari tujuh hari, atau izin industri lainnya atas produk yang dihasilkan dari dinas/instansi terkait
  7. Produk yang dihasilkan berupa barang sebagaimana rincian jenis produk dalam lampiran keputusan
  8. Bahan yang digunakan sudah dipastikan kehalalannya
  9. Tidak menggunakan bahan berbahaya
  10. Telah diverifikasi kehalalannya oleh pendamping proses produk halal
  11. Jenis produk/kelompok produk yang disertifikasi halal tidak mengandung unsur hewan hasil sembelihan, kecuali berasal dari produsen atau rumah potong hewan/rumah potong unggas yang sudah bersertifikat halal
  12. Menggunakan peralatan produksi dengan teknologi sederhana atau dilakukan secara manual dan/atau semi otomatis (usaha rumahan bukan usaha pabrik)
  13. Proses pengawetan produk sederhana dan tidak menggunakan kombinasi lebih dari satu metode pengawetan
  14. Bersedia melengkapi dokumen pengajuan sertifikasi halal dengan mekanisme pernyataan mandiri secara online melalui SIHALAL. (Afiffah Rahmah Nurdifa)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.