Siap Ekspansi di 2022, Emiten Matangkan Anggaran Belanja Modal

Sejumlah emiten telah menentukan anggaran belanja modal untuk kebutuhan ekspansi tahun depan. Prospek ekonomi dilihat lebih baik tahun depan, sehigga emiten pun optimistis untuk melakukan ekspansi bisnis.

Dwi Nicken Tari, Lorenzo Anugrah Mahardhika, Mutiara Nabila, Rinaldi Muhammad Azka & Annisa Kurniasari Saumi
Dec 10, 2021 - 1:10 PM
A-
A+
Siap Ekspansi di 2022, Emiten Matangkan Anggaran Belanja Modal

Ilustrasi perencana investasi/AARP Magazine

Bisnis, JAKARTA — Sejumlah emiten sudah bersiap untuk ekspansi pada 2022 mendatang. Belanja modal pun telah dianggarkan untuk sejumlah pos yang dianggap penting untuk menopang percepatan pemulihan kinerja perusahaan tahun depan.

Emiten jasa transportasi laut dan logistik, PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), misalnya, berencana menambah armada angkutan di tahun 2022 mendatang. Anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp300 miliar telah disiapkan untuk rencana tersebut.

Direktur Utama Transcoal Pacific, Dirc Richard menjelaskan, ekspansi ini sesuai dengan strategi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap armada sewa. Hal ini dilakukan dengan menambah jumlah armada milik sendiri secara bertahap.

"Perseroan berencana untuk menambah armada angkutan berupa pusher tug sebanyak 2 unit atau 4 kapal di tahun 2022," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (10/12).

Tambahan 4 kapal baru itu akan menjadikan total kapal grup usaha perseroan mencapai 154 unit, terdiri atas pusher tug & barge, tug & barge, mother vessel, floating terminal station, sea truck dan alat berat serta alat pendukung lainnya. 

Selain dari armada milik sendiri, TCPI masih akan menyewa kapal sebanyak ratusan unit di tahun 2022 untuk mendukung operasional. Selain itu, TCPI juga optimistis dapat menambah jumlah kargo angkutan di tahun 2022 dari sumber kargo baru.

PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) menganggarkan capex senilai Rp500 miliar untuk 2022 yang akan digunakan untuk ekspansi bisnis existing maupun bisnis potensial masa depan.

Presiden Direktur Bakrie & Brothers Anindya Novyan Bakrie mengatakan fokus BNBR masih di lingkup industrialisasi, tetapi akan juga memperkuat bisnis masa depan seperti sustainable economy dan layanan digital.

“Capex yang ada itu kombinasi untuk bisnis existing dan bisnis ke depan untuk mengakselerasi pertumbuhan kami. Dari semua itu, kami mencanangkan Rp500 miliar untuk capex dan investasi di bisnis-bisnis kami ke depan,” kata Anindya dalam paparan publik, Jumat (10/12).

Adapun, bisnis masa depan yang dijelaskan oleh Anindya merupakan lini bisnis ekonomi yang berkelanjutan yang dijalankan perseroan melalui usaha patungan (joint venture/JV) maupun bermitra dengan pihak ketiga.

Sejauh ini, BNBR tengah memperkuat bisnis bus listrik yang dijalankan oleh PT Bakrie Autoparts dengan produk VEKTR. Rencananya, bus listrik ini akan mulai berkontribusi ke dalam pendapatan BNBR pada 2022.

Selanjutnya, BNBR juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di bawah PT Bakrie Power dengan produk Helio, selanjutnya bisnis properti di bawah PT Bakrie Building Industries dengan produk solusi Modula.

PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) menganggarkan belanja modal dengan nilai lebih dari Rp500 miliar untuk 2022. Adapun, anggaran capex pada 2022 itu lebih tinggi dibandingkan anggaran capex pada 2021 yang senilai Rp450 miliar.

Direktur Keuangan Surya Semesta The Jok Tung mengatakan anggaran capex yang lebih tinggi pada 2022 dengan asumsi keadaan makroekonomi terus membaik sehingga penjualan lahan industri perseroan kembali bergeliat.

“Capex juga ditingkatkan karena kami masih memerlukan capex yang cukup besar untuk di Subang,” kata The Jok Tung.

Sejauh ini, SSIA telah menyerap capex sekitar Rp350 miliar dari anggaran tersebut yang digunakan untuk akuisisi dan pengembangan lahan Subang Smartpolitan.

Sementara itu, PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) menganggarkan belanja modal antara Rp900 miliar hingga Rp1 triliun pada 2022, sama dengan tahun ini.

"Jadi, kalau dilihat dari tahun 2018, 2019, 2020 secara rata-rata hermina mengeluarkan Rp750 miliar capex per tahun. Namun, pada 2021 memang dianggarkan Rp900 miliar hingga Rp1 triliun," kata Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategi Aristo Setiawidjaja.

Dana capex hingga Rp1 triliun pada 2022 bakal dipakai untuk meningkatkan kapabilitas dan kemampuan melakukan prosedur kesehatan yang lebih kompleks. Hal ini membutuhkan pelatihan tambahan terhadap dokter dan juga dibutuhkan peralatan untuk melakukan prosedur-prosedur tersebut.

"Saat ini di masa pandemi untuk melakukan medical tourism pasien Indonesia yang berobat di luar negeri menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, memberikan structural opportunity bagi penyedia jasa kesehatan di Indonesia agar dapat memberikan pelayanan tersebut ," terangnya.

Hermina, terangnya, berkomitmen meningkatkan kapabilitas yang dimiliki dan direfleksikan dengan jumlah belanja modal yang lebih besar pada 2021 dan 2022.

Selain itu, HEAL bakal membangun 3 rumah sakit baru. Rumah sakit pertama yakni Hermina Soreang yang sudah dibangun sejak Juni 2021 dan akan dibuka pada kuartal I/2022. Adapun, dua rumah sakit lainnya, akan didirikan di Tasikmalaya dan Banda Aceh.

Emiten lainnya yang sudah siap dengan rencana capex-nya yakni PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG). Perseroan berencana meningkatkan kapasitas pabrik CPO menjadi 980.000 ton per tahun pada tahun 2022.

RS Hermina Kemayoran./herminahospital.com

Sekretaris Perusahaan Triputra Agro Persada Joni Tjeng mengatakan pada akhir 2021 perseroan akan mengoperasikan satu pabrik baru dengan kapasitas 45.000 ton sehingga kapasitas produksi pabrik perseroan mencapai 950.000 ton tahun ini.

“Tahun depan di kuartal I/2021 kami mau tambah lagi kapasitas 30.000 ton di pabrik Kalimantan Timur, sehingga tahun depan kapasitas produksi CPO kami 980.000 ton per tahun,” kata Joni dalam kunjungan ke Bisnis Indonesia secara virtual, Selasa (30/11).

Untuk mendanai ekspansi tersebut, emiten perkebunan Grup Triputra ini akan menyediakan belanja modal senilai Rp500 miliar atau relatif sama seperti anggaran capex tahun ini. Saat ini, TAPG ini telah memiliki 24 lahan CPO, satu kebun karet, 16 pabrik CPO, dan satu pabrik karet di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Produsen keramik PT Arwana Citramulia Tbk. (ARNA) juga berencana untuk terus ekspansi tahun depan dengan menambah kapasitas produksinya melalui pabrik baru di Mojokerto, yakni pabrik 5C.

Direktur Utama Arwana Citramulia Tandean Rustandy mengatakan, pihaknya menyiapkan capex senilai Rp300 miliar untuk merampungkan pabrik baru tersebut di 2022. “Sumber dana dari internal semua, karena cashflow kami lebih," kata Tandean.

Dia melanjutkan, tahun ini, kapasitas produksi pabrik-pabrik ARNA mencapai 68 juta meter persegi. Kapasitas produksi ini ditargetkan meningkat pada 2022. "Tahun 2022 dengan ada tambahan kapasitas, paling tidak sekitar 74 juta meter persegi," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, perusahaan telah merampungkan pembangunan pabrik Plant 5B (P5B) di Mojokerto, Jawa Timur pada Maret tahun ini. Pabrik yang memproduksi glazed porcelain ini sudah aktif beroperasi.

Sementara di 2022, perseroan rencananya akan menyelesaikan pabrik teranyarnya, yakni P5C dengan kapasitas produksi 4,5 juta meter persegi per tahun. Tandean menuturkan, pabrik anyar ini akan rampung pada Desember 2022.

Emiten pertambangan PT Resources Alam Indonesia Tbk (KKGI) juga memiliki rencana ekspansi serius tahun depan. Perseroan menargetkan kenaikan produksi dan penjualan batu bara pada tahun 2022 menjadi 4 juta ton melalui melalui PT Insani Baraperkasa.

Direktur KKGI Agoes Soegiarto mengatakan peningkatan produksi ini akan dilakukan sesuai dengan kondisi dan permintaan pasar ke depannya. Salah satu strateginya adalah dengan menambah sarana-prasarana serta membeli alat-alat berat untuk mendukung produksi pada blok-blok produksi yang ada.

Seiring dengan hal tersebut, KKGI telah menyiapkan dana belanja modal sekitar US$2 juta – US$2,5 juta.

“Pembelian sarana-prasarana dan alat-alat berat itu terutama untuk produksi pada area konsesi PT Loa Haur di Kalimantan Tengah yang akan dimulai pada pertengahan 2022,” katanya.

Fasilitas produksi dan penyimpanan terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) Belanak di South Natuna Sea Block B yang dikelola Medco E&P Natuna (MEPN). Istimewa/SKK Migas.

Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menetapkan target belanja modal 2022 dengan jumlah yang sama seperti tahun ini, yakni sekitar US$215 juta untuk lini bisnis migas dan power. Adapun, tahun ini alokasi untuk masing-masing bisnis yakni migas US$150 juta dan dari power US$65 juta.

Namun, Direktur & Chief Administrative Officer MEDC Amri Siahaan menyebutkan bahwa pembatasan selama Covid-19 membuat serapan belanja modal perseroan jauh lebih rendah dari yang ditargetkan setahun penuh 2021.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan pada semester I/2021, belanja modal tercatat hanya mencapai US$28 juta.

“Ini konsisten dengan aktivitas yang lebih rendah selama pembatasan Covid-19. Namun, diperkirakan meningkat pada semester II, tetapi tetap dalam panduan setahun penuh 2021,” ujar Amri.

 

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar