Siasat Tuna Indonesia Rajai Pasar Dunia

Meski Indonesia berpotensi menjadi eksportir utama dunia tetapi upaya peningkatan ekspor tuna masih menghadapi tantangan persoalan tarif ekspor, non tarif, hingga logistik.

Rustam Agus
Apr 21, 2022 - 8:30 AM
A-
A+
Siasat Tuna Indonesia Rajai Pasar Dunia

Ilustrasi ikan tuna, komoditas utama perikanan tangkap / Istimewa

Bisnis, JAKARTA – Ekspor ikan tuna Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menjadi pemasok utama pasar dunia meskipun kini tercatat menjadi negara produsen pertama di dunia dengan pangsa produksi mencapai 15 persen. 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat peningkatan produksi tuna, cakalang, dan tongkol Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi dunia.
 
"Produksi Indonesia mengalami kenaikan rata-rata 3,66 persen, lebih tinggi dari kenaikan rata-rata dunia sebesar 3,42 persen," tutur Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk KKP Erwin Diwayana
 
Saat ini Indonesia menjadi produsen tuna terbesar di dunia diikuti oleh Filipina dengan pangsa produksi 7,3 persen, Vietnam 6,6 persen, dan Ekuador 6,1 persen. “Produksi tuna terbesar di Indonesia dari jenis skipjack tuna dan yellowfin tuna.”
 
Sayangnya, lanjut Erwin, meskipun Indonesia kini menjadi produsen tuna terbesar di dunia tetapi belum mampu menjadi pengekspor tuna terbesar di pasar global.

Berdasarkan data ITC Trademap, Indonesia hanya menjadi eksportir tuna nomor enam dunia dengan pangsa pasar 5,33 persen pada tahun 2020.

Eksportir tuna terbesar dunia dipimpin oleh Thailand dengan pangsa pasar 17,73 persen, diikuti China 8,45 persen, Spanyol 8,20 persen, Ekuador 7,98 persen, dan Taiwan 5,57 persen.

Sepanjang Januari hingga Desember 2021, Indonesia paling banyak mengekspor tuna, cakalang, tongkol ke Uni Eropa sebesar 28,8 persen dari total ekspor, Asean 24,7 persen, Jepang 17,9 persen, Amerika Serikat 8,7 persen, dan negara lainnya 21,6 persen.

Menurut Erwin, penyebab pangsa pasar tuna Indonesia masih rendah lantaran tingkat daya saing Indonesia belum terlalu kompetitif. Aspek yang terkait dengan daya saing tuna Indonesia yaitu produk, harga dan pelayanan.

Meski peluang Indonesia besar tetapi tantangan upaya peningkatan ekspor tuna, cakalang, dan tongkol masih menghadapi tantangan persoalan tarif ekspor, non tarif, hingga logistik. 

KKP mencatat pengenaan tarif tinggi di atas 15 persen dan tarif ekskalasi untuk produk olahan dan tarif bahan baku masih dikenakan oleh sejumlah negara kepada Indonesia.

Sementara itu hambatan non tarif lebih banyak menghadapi isu persyaratan ekspor yang semakin ketat terkait mutu dan keberlanjutan.


Untuk mengatasi hal tersebut, demikian Erwin, pihaknya telah melakukan perbaikan sistem dalam negeri dan melakukan negosiasi bilateral dengan melibatkan kementerian dan lembaga terkait.

Terkait tantangan ekspor tersebut, Direktur Ocean Solution Zulficar Mochtar memberikan analisis tentang fokus peningkatan daya saing tuna Indonesia. 

Menurut dia peningkatan perlu diatur dari hulu ke hilir yaitu sejak dari stok, kuota, RFMO, kebijakan perizinan, persiapan operasional, penangkapan ikan, pendaratan, pengolahan, target ekspor, transportasi dan importir.
 
“Rantainya mesti dilihat secara holistik, jangan parsial karena akan menimbulkan diskoneksitas. Itu yang selama ini terjadi,” ujar Zulficar.
 
Pihaknya menyarankan pemerintah Indonesia menyiapkan tim negoisator yang tangguh dan berpengalaman dalam menghadapi putaran perundingan internasional.
 
“Banyak perundingan terkait perdagangan perikanan tuna yang hasilnya merugikan Indonesia karena kegagalan tim sehingga perlu ada coaching atau penyiapan bahan yang solid dengan melibatkan expert, pengacara dan pelaku usaha.” 

Seorang nelayan menggotong ikan tuna sirip kuning tangkapannya

Country Representative Marine Stewardship Council (MSC) Hirmen Syofyanto menambahkan saat ini tren produk dan konsumen perikanan dunia telah mengarah ke sertifikasi produk.

“Sebanyak 19 persen perikanan tangkap dunia telah terlibat dalam sertifikasi MSC dengan nilai penjualan mencapai 12,9 miliar dollar AS pada 71 negara konsumen membeli produk dan bersertifikasi MSC,” ujarnya.

Tantangan bagi pelaku usaha tuna global dan Indonesia adalah adanya risiko spesifik yang menjadi karakteristik perikanan tuna seperti risiko terkait IUU (illegal, unreported and unregulated) fishing, kerja paksa, sirip hiu, persyaratan rumpon, hingga ghost gear.

Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia berharap pemerintah terus berupaya meningkatkan pangsa pasar ekspor tuna cakalang Indonesia sehingga bisa mencapai peringkat tiga besar dunia.

Catatan DFW menunjukkan market share ekspor perlu ditingkatkan dari 5,33 persen menjadi 8,33 persen sehingga Indonesia dapat naik menjadi tiga besar dunia di bawah Thailand dan China.

“Namun dalam upaya meningkatkan ekspor, pembinaan kepada nelayan kecil perlu menjadi prioritas,” kata Koordinator Nasional DFW Indonesia Moh Abdi Suhufan.

Secara keseluruhan produksi tuna Indonesia, lanjut dia, dihasilkan oleh 70 persen armada kapal ikan skala kecil dan hanya 30 persen oleh armada perikanan skala industri.

“Karena itu kebijakan pemerintah perlu menitikberatkan pada perikanan skala kecil dan perlindungan ABK yang bekerja di kapal penangkap ikan skala industri,” kata Abdi.

Bekal PEB

Sementara Pemprov Sulawesi Tengah mendorong eksportir tuna di Kabupaten Donggala menggunakan sistem Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) agar lebih lancar dan aman.

"Sudah saatnya eksportir di kabupaten ini menggunakan PEB Sulteng," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pelabuhan Perikanan Wilayah 1 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala Abdul Rasyid .

Pasar ekspor ikan tuna asal Donggala menyasar Jepang dan telah dilakukan uji coba pertama kali tahun lalu menggunakan PEB penerbangan wilayah setempat. Namun hanya bersifat sementara lantaran kesulitan dengan jadwal penerbangan akibat pandemic.

Agar kegiatan ekspor tetap berlanjut lantas para eksportir memilih menggunakan rute Sulteng-Makassar-Jepang menggunakan PEB Sulawesi Selatan. “Tentu saja devisa hasil ekspor tidak masuk ke Sulteng.” 

Karena itu pihaknya telah melakukan penjajakan kembali bersama Bea Cukai untuk memulai dan dapat mengeluarkan PEB Penerbangan, pasca DKP Sulteng gagal mengekspor dua kali ikan tuna Donggala ke Jepang.

“Saat ini sudah mulai diperbaiki dan ekspor selanjutnya dipastikan menggunakan PEB Sulteng dan disesuaikan dengan jadwal penerbangan," kata Rasyid.

Ikan tuna yang dihasilkan di Kabupaten Donggala merupakan hasil pancing tangan. Rata-rata setiap bulan, tuna yang didaratkan di PPI Donggala mencapai 40 ton mencakup  grade A plus, grade A, grade B dan grade D.

"Grade ini menentukan pasar mana yang akan dituju, grade A plus pasti ke Jepang untuk biasanya makan mentah, Singapura dan Korea grade A atau bisa di bawahnya sedangkan grade B ke pasar nasional antarprovinsi," demikian Rasyid.

Editor: Rustam Agus
company-logo

Lanjutkan Membaca

Siasat Tuna Indonesia Rajai Pasar Dunia

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ