Silang Pendapat Kendala Ekspor Batu Bara di Saat Harga Memanas

Kendala ekspor batu bara masih simpang siur dan terjadi silang pendapat antara Asosiasi Pemasok Batubara dan Energi Indonesia (Aspebindo), Indonesia National Shipowners Association (INSA), dan Indonesia Mining Association (IMA).

Rayful Mudassir

30 Nov 2021 - 06.59
A-
A+
Silang Pendapat Kendala Ekspor Batu Bara di Saat Harga Memanas

Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (7/3/2018)./ANTARA-Nova Wahyudi

Bisnis, JAKARTA — Target ekspor batu bara sebanyak 487,50 juta ton pada tahun ini terancam tidak tercapai, meskipun permintaan emas hitam itu makin tinggi dan harganya juga terus memanas di pasar global. Terbatasnya jumlah kapal tongkang disinyalir menjadi penyebab peluang ekspor tersebut mengecil.

Namun, kendala ekspor ini masih simpang siur dan terjadi silang pendapat antara  Asosiasi Pemasok Batubara dan Energi Indonesia (Aspebindo), Indonesia National Shipowners Association (INSA), dan  Indonesia Mining Association (IMA).

Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto membantah adanya kendala ekspor batu bara dari dalam negeri akibat minimnya kapal pengangkut komoditas tersebut ke luar negeri.

Dia  menegaskan bahwa kondisi di lapangan selama ini tidak menunjukkan adanya kekurangan kapal pengangkut untuk ekspor batu bara.

“Sepanjang yang terjadi di lapangan sih, kami amati tidak ada kendala tentang kurangnya space atau kapal untuk angkutan batu bara ekspor,” katanya kepada Bisnis, Senin (29/11/2021).

Lebih lanjut, INSA malah mendapati adanya kapal tongkang yang menunda proses pengapalan untuk ekspor batu bara. Hal itu disebabkan karena penundaan permintaan dari China.

“Malahan kami mendengar ada kapal yang ditunda shipment-nya, karena permintaan dari China yang ditunda,” ujarnya.

China diketahui sempat melakukan upaya pengendalian harga dan produksi batu bara di negaranya. Kebijakan itu diambil Presiden Xi Jinping setelah perdagangan batu bara sempat berada di level tertinggi sepanjang sejarah, yakni US$272,5 per metrik ton pada 5 Oktober 2021 lalu.

Upaya itu nyatanya berhasil meredam pergerakan harga komoditas tersebut untuk beberapa saat. Harga batu bara bahkan sempat anjlok hingga ke level US$150 per metrik ton.

Meski demikian, tingginya permintaan pada akhir tahun menyebabkan harga emas hitam itu kembali memanas hingga menyentuh US$170 per metrik ton.

Kondisi berbeda diungkapkan oleh Pelaksana tugas Direktur Eksekutif IMA Djoko Widajatno. Menurut dia, proses ekspor produk batu bara ke sejumlah negara termasuk Asia Timur hingga Jepang tidak mengalami kendala berarti di tengah kenaikan harga komoditas itu.

Hal itu, imbuhnya, disimpulkan dari laporan kinerja para pengusaha pertambangan atau eksportir baru bara.

"Tidak ada kendala, karena pembeli mengirimkan kapal yang mereka sudah pernah pakai untuk mengangkut, terutama yang di Asia Timur sampai Jepang," katanya kepada Bisnis, Senin (29/11/2021) malam.

Selama ini, pengapalan komoditas baru bara umumnya dilakukan dengan menggunakan kapal besar seperti Handymax berkapasitas sekitar 50.000 ton atau Capesize dengan muatan sekitar 250.000 ton.

Di sisi lain, kata dia, kapal tongkang hanya digunakan sebagai transshipment atau mengangkut dari kapal besar ke pelabuhan atau sebaliknya. Selain itu, tongkang digunakan untuk mengirim batu bara dari tambang ke pelabuhan.

Dengan kapasitas angkut sekitar 9.000 ton—10.000 ton, kapal tongkang akan memakan biaya besar untuk ekspor ke luar negeri. Terlebih permintaan tinggi dari beberapa negara seperti China sekitar 80 juta ton dan India 20 juta ton menyulitkan pengapalan menggunakan tongkang.

Menurut dia, asosiasi menduga sejumlah pengusaha ingin mendapatkan keuntungan lebih dari proses pengapalan tersebut, salah satunya dengan cara pengusaha perkapalan Indonesia menyewa kapal untuk disewakan kembali kepada pembeli batu bara.

“Walhasil, oknum tersebut menjadi perantara dalam proses ekspor produk batu bara. Menjadi perantara tapi minta untungnya banyak," katanya.

Sebelumnya, Ketua Umum Aspebindo Anggawira sempat menyinggung kendala ekspor batu bara akibat persoalan pengapalan.

Kondisi itu membuat ekspor batu bara ke berbagai negara pengimpor sulit, dan tidak dapat serta merta dipenuhi. Padahal, pemerintah telah merencanakan ekspor tahun ini mencapai 487,50 juta ton.

“Dengan harga tinggi, pasti everyone pengen ekspor ya, tapi seperti kendala kemarin kan dari sisi logistik ketersediaan dari angkatan cukup terbatas,” katanya kepada Bisnis, Senin (29/11/2021).

Berdasarkan Mineral One Data Indonesia (MODI), Kementerian ESDM merencanakan ekspor batu bara sebanyak 487,50 juta ton. Akan tetapi, hingga saat ini realisasi ekspor emas hitam itu baru 54,24% atau hanya 264,43 juta ton.

Beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia juga pernah memperkirakan produksi harga batu bara tidak akan memenuhi rencana 625 juta ton hingga akhir tahun.

Kondisi tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor utama, beberapa di antaranya adalah cuaca buruk di area pertambangan dan masih terbatasnya alat berat di area pertambangan.

Dengan demikian, produksi baru bara masih sulit mencapai target. "Untuk produksi akhir tahun mungkin tidak mencapai target 625 juta ton. Ini cuma proyeksi saja. Mungkin pihak lain punya pandangan berbeda," ujar Hendra.

Editor: Ibeth Nurbaiti*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.