Simpang Siur Penyebab Kilang Balongan Terbakar Akhirnya Terjawab

PT Pertamina (Persero) membeberkan dari hasil investigasi atas kejadian kebakaran pada tangki G penyimpanan BBM di Kilang Balongan, insiden tersebut disebabkan oleh adanya kebocoran pada tangki tersebut.

Muhammad Ridwan

29 Sep 2021 - 08.28
A-
A+
Simpang Siur Penyebab Kilang Balongan Terbakar Akhirnya Terjawab

Sejumlah warga menyaksikan kebakaran kilang minyak Pertamina Balongan, Indramayu, Senin (29/3/2021)./Antara

Bisnis, JAKARTA — Penyebab terbakarnya empat tangki penyimpanan bahan bakar minyak di Kilang Balongan, Indramayu yang terjadi pada Senin (29/3/2021) dini hari merupakan kejadian yang luar biasa. Tepat 6 bulan pascakejadian, kesimpangsiuran penyebab kebakaran objek vital negara itu akhirnya terkuak.

PT Pertamina (Persero) membeberkan dari hasil investigasi atas kejadian kebakaran pada tangki G penyimpanan BBM di Kilang Balongan, insiden tersebut disebabkan oleh adanya kebocoran pada tangki tersebut.

Dalam paparan di rapat dengar pendapat dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat pada Rabu (29/9/2021) perseroan menyebutkan bahwa sebanyak empat lembaga, yakni Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS), Pusat Penelitian Petir LAPI ITB, Ditjen Migas ESDM, dan Det Norske Veritas (DNV), telah melakukan investigasi terhadap kejadian tersebut.

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional Djoko Priyono mengatakan berdasarkan hasil investigasi dari empat lembaga tersebut, tiga lembaga di antaranya yaitu LAPI ITB, Ditjen Migas, dan DNV menyebutkan telah terjadi kebocoran di dinding tangki G kilang Balongan, sedangkan B2TKS menyebutkan kondisi tangki G secara identik sama dengan tangki D yang menunjukkan kondisi kuat dan reliable.

Adapun, Lapi ITB menyebutkan kebocoran terjadi akibat sambaran petir travelling yang mendegradasi dinding tangki G hingga terjadi penipisan, sehingga menyebabkan dinding tangki tidak dapat menahan tekanan mekanik dari BBM di dalam tangki.

Sementara itu, Ditjen Migas Kementerian ESDM menyebutkan kebocoran disebabkan oleh kegagalan daerah lasan akibat korosi, senada dengan hasil investigasi yang dilakukan DNV.

Pekerja menyelesaikan pembuatan tangki LPG milik Pertamina EP di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020)./ANTARA - Dedhez Anggara

"Tangki sudah diinspeksi secara rutin dan dinding dalam dan luar masih dalam baik. Degdrasi pelat dinding potensi besar ini karena sambaran petir," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (29/9/2021).

Lebih lanjut, kebocoran tersebut diduga menjadi pemicu kebakaran yang terjadi di Kilang Balongan berdasarkan hasil investigasi dua dari empat lembaga yang melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.

Hasil investigasi Lapi ITB menunjukkan penyebab kebakaran karena adanya sambaran petir atau induksi menyebabkan timbulnya segitiga api sehingga mengakibatkan tangki EFGH terbakar. Sementara hasil investigasi Ditjen Migas Kementerian ESDM menyatakan adanya unsur segitiga api yaitu dari udara, dari kebocoran HC dinding tangki dan panas yang diduga dari Trafo area SS-24 yang menyulut kebakaran.

Di sisi lain, Djoko menyebut dugaan panas dari trafo area SS-24 menjadi penyebab kebakaran tersebut. Berdasarkan hasil investigasi di lapangan ditemukan bahwa pada saat kejadian berlangsung trafo di area tersebut dalam kondisi tidak bertegangan, sehingga tidak memungkinkan timbulnya panas.

"Hasil investigasi menujukkan penyebab kebakaran terjadi akibat sambaran petir atau induksi pada tangki G yang berdampak terjadinya segitiga api," ungkapnya.

Hasil investigasi tersebut, imbuh Djoko, diperkuat oleh laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang merevisi laporan terkait dengan pantauan sambaran petir pada kejadian di kilang Balongan.

Api membumbung tinggi saat terjadi kebakaran di kompleks Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/3/2021) dini hari./Antara

Dalam laporan terbarunya disebutkan bahwa pada malam kejadian itu telah terjadi sambaran petir di sekitar area kilang.

Djoko mengatakan BMKG telah merevisi laporan pada 31 Maret 2021 melalui laporan ME.02.03/379/KLEM/III/2021 yang dikeluarkan pada 1 April 2021.

Dalam laporan terbaru itu disebutkan, sepanjang pukul 23:00 WIB sampai dengan 01.00 WIB pada 29 Maret 2021 terdapat awan cumulus yang membentuk awan hujan konvektif di sekitar area kilang Balongan yang terbakar.

"BMKG, semula dia menyatakan tidak ada tapi melakukan revisi bahwa sepanjang 23.00 WIB—01.00 WIB memang terjadi kumpulan awan-awan dan juga terjadinya sambaran petir dalam radius 17 kilometer," katanya.

Djoko menambahkan, kondisi itu juga diperkuat dengan laporan dari PT PLN (Persero) melalui pemantauan dari alat lightning detection system (LDS). Dari pengukuran LGS terhadap radius 15 km di area kilang, sepanjang pukul 23.00 WIB—01.00 WIB terdapat 241 sambaran petir.

"Inilah kondisi sebelum dan selama kejadian cuaca di sekitar kilang RU VI Balongan," ungkapnya.

Dalam laporan sebelumnya, BMKG menegaskan bahwa kebakaran yang melanda Kilang Balongan bukan disebabkan oleh sambaran petir.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Rahmat Triyono mengatakan hal tersebut berdasarkan alat monitoring lightining detector yang berlokasi di BMKG Jakarta dan BMKG Bandung.

"Dari pukul 00.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB, bahwa tidak terdeteksi adanya aktivitas sambaran petir di wilayah kilang minyak Balongan, Indramayu," ujarnya.

Dia mengatakan kebakaran di kilang minyak Balongan milik Pertamina di Indramayu sekitar pukul 00.45 WIB, telah ditindaklanjuti BMKG dengan melakukan analisa terhadap kejadian sambaran petir di sekitar lokasi kejadian.

BMKG melaksanakan monitoring aktivitas sambaran petir di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan alat pendeteksi petir di 56 lokasi. Alat monitoring ini terpasang di 11 stasiun BMKG dan di Pulau Jawa untuk memantau aktivitas petir dari Banten hingga Jawa Timur.

Berdasarkan hasil monitoring alat kelistrikan udara, kata Rahmat, bahwa pada saat kejadian kebakaran sekitar pukul 00.00—02.00 WIB, menunjukkan kerapatan petir berkumpul pada bagian barat kilang minyak Balongan sejauh kurang lebih 77 kilometer, yaitu di sekitar Subang dengan klasifikasi tingkat kerapatan petir sedang hingga tinggi.

Awan efek kebakaran pada salah satu tangki di kilang Balongan. Indramayu, Jabar./Bisnis-Kim Baihaqi

"Monitoring dilakukan menggunakan alat lightning detector dengan resolusi alat monitoring BMKG efektif pada radius 300 kilometer," jelasnya.

Sementara itu, Ombudsman Republik Indonesia sebelumnya telah melakukan investigasinya terhadap insiden kebakaran tangki Pertamina di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Investigasi lapangan pada lokasi kebakaran serta permintaan keterangan kepada pihak PT Pertamina RU VI dan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dilakukan pada 7—9 April 2021.

Anggota Ombudsman RI Hery Susanto menilai bahwa potensi maladministrasi pada kasus kebakaran kilang minyak Pertamina dapat terjadi pada aspek penyelesaian terhadap tanggung jawab sosial dan moral kepada korban pascakebakaran.

Ombudsman RI menemukan sejumlah hal, salah satunya adanya keluhan masyarakat yang tidak direspons oleh Pertamina dan tidak ada informasi yang terbuka mengenai kondisi kilang Pertamina Balongan sebelum peristiwa kebakaran terjadi.

Menurut Hery, berdasarkan hasil penelusuran Ombudsman sebelum terjadinya peristiwa terbakarnya tangki, pada Minggu (28/3/2021) pukul 21.30 WIB, warga sekitar lokasi datang ke humas Pertamina karena mencium bau yang sangat menyengat dari kilang Pertamina sejak sore.

"Karena merasa tidak digubris oleh sekuriti sehingga warga menjadi emosi dan melakukan aksi lempar ke Kantor Pertamina. Namun tidak lama kemudian berhasil dibubarkan oleh Polsek Balongan," ujar Hery.

Setelah itu pada pukul 23.45 WIB terjadi ledakan kecil. Kemudian pada Senin (29/3/2021) pukul 00.45 WIB terjadi ledakan yang lebih besar. Pada saat kejadian, enam orang warga yang lewat dekat lokasi kemudian terhempas dan mendapatkan luka berat.

Selain itu, Ombudsman menemukan belum adanya mekanisme mitigasi bencana karena gagal teknologi yang dikoordinasikan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu.

Editor: Ibeth Nurbaiti*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.