Sinyal Optimisme Direksi di Tengah Kejatuhan Harga Saham BBCA

Sejumlah direksi PT Bank Central Asia Tbk. memborong saham perusahaan di tengah kejatuhan harganya usai libur Lebaran. Hal ini menjadi sinyal tingginya keyakinan manajemen BCA terhadap prospek perusahaan yang dipimpinnya.

Emanuel Berkah Caesario
May 13, 2022 - 4:54 PM
A-
A+
Sinyal Optimisme Direksi di Tengah Kejatuhan Harga Saham BBCA

Karyawan melayani nasabah di salah satu kantor cabang BCA di Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA — Saham PT Bank Central Asia Tbk. termasuk dalam jajaran emiten yang tertekan akibat sentimen negatif kenaikan suku bunga global, hingga merontokkan semua pertumbuhan yang sempat ditorehkan sepanjang tahun ini. Namun, jajaran direksi justru makin aktif memburu saham perseroan.

Sebelum libur lebaran, saham BBCA sudah sempat menyentuh level Rp8.200. Jika dibandingkan dengan harga penutupan pada akhir 2021 lalu yang sebesar Rp7.300, saham emiten dengan kode BBCA ini sebenarnya sudah tumbuh 12,33 persen year-to-date (YtD).

Namun, begitu pasar kembali dibuka usai libur Lebaran, saham perseroan seketika anjlok. Selama pekan kedua Mei 2022, saham perseroan ditutup melemah selama 3 hari dengan tingkat pelemahan yang sangat dalam, yakni -6,46 persen pada Senin (9/5), -0,99% pada Selasa (10/5), dan -4,90% pada Kamis (12/5).

Sementara itu, penguatan terjadi dalam 2 hari, yakni pada Rabu (11/5) sebesar 1,66 persen dan pada Jumat (13/5) sebesar 0,69 persen. Terlihat bahwa penguatan yang terjadi pada 2 hari ini tidak cukup untuk menebus koreksi tajam yang terjadi pada 3 hari lainnya.

Alhasil, saham perseroan kini ditutup di level Rp7.325 per saham. Jika dibanding posisi akhir tahun 2021, tingkat return-nya tinggal 0,34 persen YtD saja.

Hal ini sejalan dengan koreksi yang terjadi pada indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada akhir pekan kedua Mei 2022, IHSG juga sudah ditutup di level 6.597,99. Jika dihitung secara YtD, tingkat return IHSG tinggal 0,25 persen saja.

Kondisi ini terjadi setelah pelaku pasar merespons kabar yang berkembang di pasar global di saat Indonesia masih menikmati libur Lebaran, yakni keputusan bank sentral Amerika Serikat, yakni the Fed, untuk menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 50 bps.

Ini adalah tingkat kenaikan tertinggi yang pernah dilakukan oleh bank sentral Negeri Paman Sam itu sejak tahun 2000 atau dalam 22 tahun terakhir. Kini, suku bunga acuan the Fed ada di level 0,75 persen hingga 1,00 persen.

Langkah agresif the Fed ini memicu aksi jual besar-besaran investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk pasar saham dan kripto. Investor pun makin selektif dalam memilih saham-saham yang masih tetap dikoleksi di tengah kondisi ini.

Kenaikan suku bunga the Fed memicu peningkatan kekhawatiran terkait pengetatan likuiditas, tetapi sekaligus meningkatkan daya tarik pada instrumen-instrumen safe haven, terutama US Treasury dan dolar AS. Arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang pun tak terbendung.

Naiknya suku bunga the Fed memang berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk juga menempuh langkah serupa demi menghindari risiko tekanan yang lebih besar terhadap rupiah. Pada akhirnya, hal ini dapat meningkatkan bunga perbankan, sehingga menekan permintaan kredit baru.

Di sisi lain, bunga simpanan juga akan dipaksa meningkat, sehingga tingkat margin bank bakal melemah di masa mendatang. Ini jelas sentimen yang kurang menguntungkan bagi sektor perbankan. Alhasil, tidak mengherankan jika saham bank menjadi salah satu sasaran jual investor.

Meski demikian, sentimen yang berkembang saat ini lebih banyak merupakan sentimen eksternal. Secara fundamental, kondisi keuangan emiten-emiten di Indonesia masih relatif sangat baik, termasuk BCA.

Tampaknya, hal ini juga yang melandasi keputusan manajemen BCA untuk terus mengoleksi saham BCA, justru di saat harganya kini terdiskon akibat koreksi pasar.

Berdasarkan pengumuman di Bursa Efek Indonesia, tiga anggota direksi BCA baru saja menambah kepemilikan saham mereka di BCA. Ketiga direktur BCA tersebut yakni John Kosasih, Subur Tan, dan Santoso.

Ketiga direktur BCA tersebut menambah porsi kepemilikan dengan jenis transaksi berupa pembelian yang dilakukan pada 9 dan 10 Mei 2022, tepat di hari di mana saham BCA rontok dengan sangat dalam.

Jika diperinci, Santoso menambah 30.000 saham di harga Rp7.600 per saham. Transaksi tersebut terjadi pada 9 Mei 2022 dengan status kepemilikan saham bersifat langsung. Artinya, Santoso merogoh kocek senilai Rp228 juta. Dengan bertambahnya porsi saham tersebut, kini Santoso mengempit 1,97 juta saham BBCA dari semula 1,94 juta saham.

Masih di tanggal transaksi yang sama, yakni 9 Mei 2022, John Kosasih menambah porsi kepemilikan saham BBCA sebanyak 50.000 saham di harga Rp7.725 per saham. Dari sana, John telah merogoh kocek senilai Rp386,25 juta. Porsi kepemilikannya pun bertambah dari 121.765 saham menjadi 171.765 saham.

Selanjutnya, Subur Tan juga ikut menyerok saham BBCA yang dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada 9 dan 10 Mei 2022. Pada 9 Mei 2022, Subur Tan menambah porsi kepemilikan saham sebanyak dua kali transaksi dengan harga yang berbeda.

Transaksi yang berlangsung pada 9 Mei 2022, Subur Tan membeli 50.000 saham BBCA di harga Rp7.650 per saham atau harus mengeluarkan uang sebanyak Rp382,5 juta. Subur Tan kembali menyerok 50.000 saham BBCA di harga Rp7.675 per saham atau sebanyak Rp383,75 juta.

Aksi tersebut berlanjut hingga 10 Mei 2022 dengan menambah 50.000 saham BBCA di harga yang lebih murah, yakni Rp7.450 per saham atau senilai Rp372,5 juta. Dengan demikian, aksi yang dilakukan Subur Tan sejak 9 dan 10 Mei 2022 telah merogoh kocek sebesar Rp1,14 miliar. Dari sana, porsi kepemilikan Subur Tan di BBCA menjadi 14,99 juta saham.




OPTIMISME

Sebelumnya, dalam paparan kinerja kuartal I/2022, manajemen BCA juga mengungkapkan optimisme mereka terhadap prospek saham perseroan. Aksi beli yang mereka lakukan di tengah kejatuhan harga saham BCA ini seolah menegaskan optimisme tersebut.

BCA mencatatkan laba bersih senilai Rp8,06 triliun pada kuartal I/2022, tumbuh 14,6 persen year-on-year (YoY), didukung pertumbuhan pendapatan bunga (interest income) dan non-bunga (non-Interest income) yang baik.

Net interest income tercatat Rp14,48 triliun, naik 2,5 persen YoY, sedangkan non-interest income juga tumbuh signifikan yakni 19,5 persen YoY menjadi Rp5,92 triliun, didorong fee and commission-based income yang naik hingga 15,8 persen YoY.

Beban provisi turun signifikan 13,4 persen YoY menjadi Rp2,81 triliun dibanding kuartal I/2021 yang sebesar Rp3,25 triliun. Perbaikan provisi inilah yang mendorong profitabilitas BBCA naik pesat, meskipun pertumbuhan pendapatan masih moderat.

Analis NH Korindo Sekuritas, Arief Machrus, mengatakan bahwa kredit korporasi BCA memimpin pertumbuhan dibanding segmen lain, dengan kenaikan 9,2 persen YoY dan berkontribusi sebesar 45 persen terhadap total kredit BCA.

Total kredit BCA mencapai Rp637,13 triliun pada kuartal I/2022, naik 8,6 persen YoY. Dengan hasil tersebut, perseroan pun menetapkan target pertumbuhan kredit secara moderat tahun ini di kisaran 6 persen hingga 8 persen YoY.

Arief mengatakan, beberapa hambatan yang dapat mengganggu realisasi penyaluran kredit perseroan tahun ini yakni potensi kenaikan suku bunga dan kenaikan tingkat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Risiko kenaikan suku bunga saat ini jelas sudah membayangi BCA, sedangkan risiko kenaikan NPL terjadi jika kondisi ekonomi global makin memperburuk dan mempengaruhi kinerja ekonomi di dalam negeri. Adapun, tingkat NPL BCA pada kuartal I/2022 lalu sudah mencapai 2,3 persen, naik signifikan dari 1,8 persen pada kuartal I/2021.

Kendati demikian, Arief masih bullish dengan BBCA dan merekomendasikan investor untuk tetap membeli saham BBCA.

“Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk BBCA dengan target harga naik menjadi Rp9.000, seiring harga saham BBCA memulai 2022 dengan penguatan ringan,” katanya dalam riset yang terbit akhir April 2022 lalu.


Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Hariyanto Wijaya, juga optimistis terhadap saham BBCA. Hariyanto mengatakan bahwa manajemen BCA menyampaikan optimisme mereka terhadap prospek kredit pada tahun 2022.

Terlepas dari ketidakpastian yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik global antara Rusia dan Ukraina, BBCA percaya bahwa permintaan kredit domestik akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Oleh karena itu, tulisnya, Mirae Asset tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit BCA tahun ini sebesar 12 persen, lebih tinggi dibanding target yang dipatok oleh manajemen BCA sendiri yang maksimal hanya 8 persen.

“Harga komoditas yang tinggi akan mendorong kegiatan ekonomi secara luas dan mendorong permintaan kredit di berbagai sektor,” katanya.

Hariyanto mengatakan, BCA memiliki rasio kredit berbanding simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) yang telah mencapai level terendah di 60,5 persen, didorong oleh pertumbuhan simpanan yang kuat sebesar 17,5 persen YoY, terutama didorong oleh dana murah yang tumbuh 21,7 persen YoY.

Dana murah atau current account saving account (CASA) BCA kini mencapai dari 80,0 persen dari total simpanan. Menurutnya, dengan simpanan yang kuat, inisiatif digital yang berkelanjutan, dan kehadiran fisik yang luas, menjadikan BCA tetap menjadi pilihan perbankan utama bagi masyarakat Indonesia di tengah persaingan dengan bank digital.

“Mengingat fundamental yang kuat, kami percaya BBCA akan tetap tangguh di tengah ketidakpastian dari ketegangan geopolitik global dan kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, kami meningkatkan target harga kami menjadi Rp8.550,” katanya.

(Reporter: Rika Anggraeni & Emanuel B. Caesario)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Sinyal Optimisme Direksi di Tengah Kejatuhan Harga Saham BBCA

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ