Skema Bisnis Baru Industri Penerbangan

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) merencanakan skema bisnis baru dengan Boeing. Sederet kerja sama dilakukan untuk mendukung pertumbuhan industri aviasi dalam negeri.

Rayful Mudassir

23 Sep 2023 - 09.35
A-
A+
Skema Bisnis Baru Industri Penerbangan

Sejumlah penumpang melakukan check-in di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti.

Bisnis, JAKARTA - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) merencanakan skema bisnis baru dengan Boeing. Sederet kerja sama dilakukan untuk mendukung pertumbuhan industri aviasi dalam negeri.


Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja melakukan kunjungan ke pabrikan pesawat Boeing di Seattle. Dia juga melakukan rapat tertutup dengan Vice President, Global Strategic Initiatives Commercial Sales & Marketing Boeing Commercial Airplanes, John Bruns membicarakan skema bisnis baru untuk masuk ke Indonesia.


“Kolaborasi antara INACA dan Boeing sangat penting karena Indonesia yang siap menjadi ekonomi terbesar keempat secara global pada tahun 2045, berupaya meningkatkan sektor penerbangannya,” kata Denon dalam siaran pers, Jumat (22/9/2023).


Dia menambahkan dalam pertemuan tersebut juga dilakukan pembicaraan terkait pembiayaan pesawat Boeing untuk operator di Indonesia. Kemitraan ini bertujuan memanfaatkan keahlian dan kemajuan teknologi Boeing yang luas dalam pembuatan, pemeliharaan, dan pelatihan pilot pesawat untuk mendukung pertumbuhan pesat industri penerbangan Indonesia.


Baca juga: Dengung Merger Maskapai Penerbangan RI


Denon yang juga sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan berpendapat dengan menggabungkan kekuatan, INACA dan Boeing diharapkan dapat membuka jalan bagi pembangunan berkelanjutan, memastikan perjalanan udara yang aman dan efisien serta memaksimalkan potensi ekonomi yang ada di depan untuk Indonesia.


Menurutnya, pertemuan penting ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi dan mendiskusikan potensi pertumbuhan dan pengembangan bersama, sehingga makin memperkuat kemitraan antara Boeing dan industri penerbangan Indonesia.


Dalam kunjungan tersebut juga ikut serta Wakil Ketua Umum 1 Arif Wibowo, Sekjen Bayu Sutanto, Wakil Sekjen Capt Dharmadi, Dewan Pakar Alvin Lie, Dewan Pakar Andre Rahadian beserta pengurus dan anggota INACA.


Anggota INACA yang turut serta di antaranya berasal dari maskapai penerbangan berjadwal seperti Garuda dan TransNusa, non berjadwal seperti Airfast, serta maskapai kargo seperti My Indo Airlines.


Pada kesempatan tersebut, Vice President, Global Strategic Initiatives Commercial Sales & Marketing Boeing Commercial Airplanes, John Bruns menyatakan bahwa Indonesia sangat penting dan berpengaruh terhadap Boeing, mengingat industri penerbangannya yang sangat besar dan terus tumbuh.


“Pertukaran ide dan pengetahuan bertujuan untuk mendorong kolaborasi dan inovasi, memungkinkan kedua belah pihak untuk tetap menjadi yang terdepan dalam lanskap penerbangan yang terus berkembang,” katanya.


Sementara itu, Sekjen INACA, Bayu Sutanto mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut juga membahas kelanjutan terkait sustainable aviation fuel (SAF) dan green aviation yang sebelumnya pernah dilakukan pembicaraan di Bangkok Asean Summit.




“SAF merupakan salah satu concern dari INACA, di mana dalam kepengurusan 2023-2025 juga mempunyai program terkait peningkatan green aviation dan SAF di Indonesia dalam rangka berperan serta membangun dunia yang lebih baik dan lebih sehat,” katanya.


Kinerja Penerbangan Semester II 2023


Sememyara itu, asosiasi optimistis pasar penerbangan akan melanjutkan tren pertumbuhannya di semester II/2023. Periode high season dan harga bahan bakar yang relatif stabil menjadi katalis positif.


Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto memaparkan, salah satu faktor pendukung pertumbuhan sektor penerbangan pada paruh kedua 2023 adalah periode high season yang akan terjadi. Dia mengatakan, industri penerbangan masih akan memasuki musim liburan pada Agustus 2023 dan masa libur Natal dan Tahun Baru pada Desember 2023.




"Kami lihat semester II masih bagus prospeknya. Masih ada holiday season khususnya penerbangan internasional yang inbound sampai Agustus dan juga Natal Tahun Baru sampai akhir tahun," jelas Bayu saat dihubungi, Senin (24/7/2023).


Selain itu, INACA juga melihat tidak ada kenaikan biaya operasional pada semester II/2023. Hal ini seiring dengan minimnya fluktuasi harga avtur dan nilai tukar dolar AS yang umumnya akan mempengaruhi beban operasional maskapai.


Bayu menambahkan, saat ini ketersediaan pasokan pesawat masih sesuai dengan tren kenaikan permintaan dari penumpang.

Di sisi lain, salah satu tantangan yang berpotensi dihadapi maskapai pada semester II/2023 adalah ketimpangan antara ketersediaan armada dengan pertumbuhan jumlah penumpang. 


Bayu menyebutkan saat ini terdapat antrean cukup panjang untuk perawatan pesawat dan mesinnya setelah pandemi usai.


Selain itu, Bayu juga mengimbau agar risiko tingkat keselamatan penerbangan di Indonesia tetap terjaga dengan baik. Menurutnya, saat ini ada tren penurunan safety level, khususnya penerbangan general aviation di Papua dalam beberapa waktu belakangan. 



"Hal ini yang bisa mempengaruhi country risk sehingga premi asuransi dan sewa pesawat bisa meningkat," pungkasnya.


Sebelumnya, Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin menjelaskan, jumlah pergerakan penumpang di bandara yang dikelola AP II telah mencapai sekitar 38 juta orang sepanjang semester I/2023.


Catatan tersebut mencerminkan tingkat pemulihan atau recovery rate sebesar 85 persen dari semester I/2019 atau periode sebelum pandemi Covid-19.


Awaluddin melanjutkan, recovery rate pada 20 bandara yang dikelola AP II sepanjang paruh pertama 2023 telah melampaui proyeksi International Air Transport Association (IATA) yang menyebutkan recovery rate jumlah penumpang di Asia Pasifik pada sepanjang 2023 sebesar 84 persen.


Sementara itu, PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I tercatat melayani sebanyak 33,11 jura pergerakan penumpang dari 15 bandara yang dikelola perseroan pada semester I/2023. Jumlah tersebut mencatatkan tingkat pemulihan atau recovery rate mencapai 87 persen dari periode sebelum pandemi Covid-19. (Rio Sandy Pradana/Lorenzo Anugrah Mahardhika)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.