SPEKTRUM : Bengawan Solo

Bengawan Solo dekat dengan tempat saya dilahirkan, mengairi lahan-lahan pertanian yang hasil panennya berakhir di periuk nasi saya.

Reni Lestari

3 Nov 2023 - 06.29
A-
A+
SPEKTRUM : Bengawan Solo

Ketika beberapa hari lalu tersiar kabar tentang penumpukan eceng gondok di salah satu ruas Sungai Bengawan Solo sepanjang 5 km di Bojonegoro, Jawa Timur, saya tidak bisa tidak langsung memusatkan perhatian. Bengawan Solo dekat dengan tempat saya dilahirkan, mengairi lahan-lahan pertanian yang hasil panennya berakhir di periuk nasi saya.


Lokasi merebaknya eceng gondok itu, dapat disaksikan dari Jembatan Sukomalo, Kabupaten Bojonegoro, bagian terakhir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo yang sebagian besar berupa tanah datar.


Bengawan Solo menarik banyak perhatian mengingat posisinya sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa, yang membentang dari Pengunungan Sewu di Surakarta alias Solo, hingga Laut Jawa di utara Surabaya. Dunia juga mengenal Bengawan Solo dari maestro kebanggaan Indonesia, Gesang.


Akan tetapi, jauh selain itu, fenomena ini menggarisbawahi hal yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Air.


Pertumbuhan eceng gondok yang masif, seperti kita tahu, menandakan keseimbangan ekosistem air tengah terganggu, sebagian besar karena pencemaran hasil aktivitas manusia, baik industri maupun rumah tangga. Kontaminasi limbah, salah satunya detergen, pada air sungai, menyebabkan eutrofikasi alias melimpahnya unsur hara yang dapat menyuburkan pertumbuhan gulma seperti eceng gondok. Unsur hara ini bisa berasal dari kandungan fosfat dalam detergen.


Maka tidak heran jika lokasi merebaknya eceng gondok berada di sudut hilir sungai, yang menampung aliran dari bagian tengah Bengawan Solo: Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Surakarta, Sragen, dan sebagian Madiun, di mana kegiatan ekonomi dan industri berpusat.


Saya jadi teringat keputusan untuk berhenti menggunakan sabun mandi komersial sekitar dua tahun lalu, dan menggantinya dengan sabun natural bikinan sendiri. Beberapa bulan belakangan, saya juga sudah berhenti membeli detergen untuk berbagai keperluan cuci, dan meracik detergen alami dari buah lerak yang juga dikenal dengan sebutan soapnut.


Buah lerak yang baru saya kenal belakangan ternyata juga dekat dengan saya, karena banyak dipakai pengrajin batik di Solo untuk menjaga kualitas kain. Di rumah, ibu saya bercerita masih menggunakan lerak untuk mencuci baju di kampungnya dulu, sampai usia remaja.


Meskipun saya sendiri masih sering ragu apakah upaya yang saya lakukan sendiri ini akan terlihat dampaknya pada masa depan kualitas air kita. Tapi toh, saya tetap lanjutkan kebiasaan itu, sambil berharap lebih banyak orang mulai mengekor gerakan ini.


Meski masih sering ragu, saya tetap menjerang buah lerak sambil berharap Bengawan Solo akan terus mengairi sawah-sawah petani, dan mengalir sampai jauh, sampai nanti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.