SPEKTRUM: Cheerleader Karbon

OJK juga membuka peluang adanya multi penyelenggara, yang artinya bisa jadi penyelenggara bursa karbon lebih dari satu bursa.

Hafiyyan

15 Sep 2023 - 07.24
A-
A+
SPEKTRUM: Cheerleader Karbon

Ilustrasi emisi karbon./Istimewa

Krisis iklim menjadi momok yang harus dihindari, karena akibatnya lebih parah dibandingkan dengan krisis finansial dan krisis kesehatan.

Masih segar di ingatan saat dunia sama-sama berjuang untuk pulih dari krisis kesehatan akibat Covid-19, yang dampaknya masih terasa hingga saat ini di berbagai sendi ekonomi.

Atau kalau mau menengok lebih jauh, krisis finansial pada 2008 dan 1998 global turut mendera ekonomi Indonesia. Namun, krisis iklim berupa pemanasan global yang berdampak terhadap bencana alam dapat memberikan efek kerugian yang lebih serius.

Krisis iklim menjadi salah satu bahasan obrolan bersama CEO Indonesia Climate Exchange (ICX) Megain Widjaja. Bursa karbon diharapkan menjadi sebagian solusi problem iklim. Pembentukan bursa karbon pun kian mengerucut, dengan ICX dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai calon penyelenggara.

Berbekal pengalaman menyelenggarakan bursa komoditas, ICX mengusulkan salah satu produk dalam bursa karbon nantinya ialah Renewable Energy Certificates (REC).

REC merupakan sertifikat yang membuktikan bahwa produksi tenaga listrik per megawatt hour (MWh) berasal dari pembangkit listrik non-fosil, seperti tenaga air, angin, surya, panas bumi, ataupun pembangkit berbasis bioenergi lainnya. REC menjadi solusi untuk alternatif investor energi baru terbarukan (EBT) secara ekonomi.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menawarkan empat skema dalam perdagangan bursa karbon. Pertama, pasar reguler seperti perdagangan saham dimana pengguna dapat menyampaikan permintaan dan penawaran (bid and ask).

Kedua, pasar lelang berupa penjualan satu arah dari pemilik proyek, seperti IPO. Ketiga, pasar negosiasi, dimana kedua pihak jika sudah memiliki perjanjian di luar, selanjutnya dapat bertransaksi melalui bursa karbon. Keempat, pasar marketplace sehingga pembeli dapat menyampaikan penawaran terkait suatu proyek.

Baik ICX maupun BEI sudah menyampaikan kesiapannya. Adapun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi penentu siapa yang akhirnya menjadi penyelenggara bursa karbon, yang diharapkan meluncur September 2023.

OJK juga membuka peluang adanya multi penyelenggara, yang artinya bisa jadi penyelenggara bursa karbon lebih dari satu bursa. Namun, hal itu masih mempertimbangkan skala keekonomian dan ketepatan pelaksanaan bursa ke depannya.

Persaingan ICX dan BEI mengingatkan saya kepada ungkapan Cheerleader Effect. Cheerleader Effect adalah fenomena psikologi yang menyatakan bahwa seseorang akan tampak lebih menarik saat berkumpul dalam sebuah kelompok. Jadi, anggota cheerleader terlihat lebih menarik saat berkumpul dalam grup, dibandingkan melihatnya per individu.

Serupa dengan bursa karbon, sebagai embrio yang akan dilahirkan, tentunya membutuhkan dukungan bersama. Perlu cheerleader dari setiap pihak yang terlibat agar bursa karbon bisa menjadi lebih semarak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.