Free

SPEKTRUM: Cinta dan Benci Influencer

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dari kejayaan para influencer setelah banyak orang memilih untuk tidak lagi mengikuti gaya hidup impulsif yang dikurasi hanya untuk mempercantik halaman media sosial.

Nirmala Aninda

20 Jun 2023 - 07.47
A-
A+
SPEKTRUM: Cinta dan Benci Influencer

Bisnis, JAKARTA – Dalam dunia pemasaran dan periklanan, influencer media sosial telah menjadi kekuatan dominan selama satu dekade terakhir. Dengan jutaan pengikut, mereka telah menjadi acuan untuk tren gaya hidup.

Brand lokal dan global sekarang mengenali kekuatan influencer untuk terhubung dengan target pasar mereka dan mengubah anggaran pemasaran untuk berinvestasi dalam kemitraan influencer.

Jika sebelumnya konsumen mengacu pada pengalaman belanja teman atau keluarga terdekat, kini pendapat dan rekomendasi influencer berdampak signifikan pada perilaku konsumen.

Meski masih banyak konsumen di luar sana yang mengikuti tren dari pada influencer, tidak sedikit juga mereka yang mengaku menghindari konten tersebut.

Mereka dituntut untuk memberikan ulasan paling jujur tentang apa pun yang mereka coba pasarkan. Mengingat konsep ini dimulai dari blog dan video yang menunjukkan seseorang benar-benar menggunakan produk dan membagikan pengalamannya.

Namun, konsumerisme dianggap telah mengubah cara influencer memasarkan produk. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dari kejayaan para influencer setelah banyak orang memilih untuk tidak lagi mengikuti gaya hidup impulsif yang dikurasi hanya untuk mempercantik halaman media sosial.

Kini, ulasan influencer yang autentik telah tergadaikan dengan tekanan untuk menjual produk sebanyak-banyaknya. Bahkan tidak sedikit dari mereka rela membuat kepribadian baru atau alter ego untuk menjadi seorang influencer.

Di samping itu, sudah jadi rahasia umum bahwa influencer bisa mendapatkan akses front row untuk hampir semua acara. Kita bisa menemukan mereka di peragaan busana, festival musik, hingga pertandingan olahraga.

Salah satu festival musik terbesar, Coachella, telah menjadi ajang Olimpiade bagi para influencer karena dengan mendapatkan tiket secara cuma-cuma membuktikan pengaruh seorang influencer dikenal dalam gelembung pemasaran digital.

Namun, keistimewaan eksklusif ini telah dicerca oleh netizen karena dianggap tidak adil dan bagi sebagian konsumen cara pemasaran semacam ini tidak lagi autentik.

Drama seputar kehidupan pribadi influencer juga dirasa tidak perlu. Senyata apa pun konten yang diinginkan konsumen, mengetahui semua perseteruan yang terjadi dalam hidup influencer di balik ring light dan kamera dianggap terlalu berlebihan.

Peran influencer yang berdampak besar pada masyarakat dan pengaruhnya belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang. Dengan brand yang terus berinvestasi pada pemasaran digital, penting bagi konsumen untuk menyadari potensi risiko dan pertimbangan etis di balik praktik tersebut.

Dengan memahami kekuatan dan praktik influencer, kita dapat membuat pilihan yang lebih tepat tentang konten yang kita konsumsi dan brand yang kita dukung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.