SPEKTRUM : Demagog

Trump sangat ahli dalam hal ini. Kala berita negatif tentang dirinya muncul, Trump biasanya akan mengunggah puluhan pernyataan kontroversial di Twitter dalam sehari untuk mengalihkan isu.

Oktaviano Donald Baptista

27 Jun 2023 - 06.17
A-
A+
SPEKTRUM : Demagog

Demagogi sudah setua demokrasi. Sejak kelahiran demokrasi yang memberikan kebebasan bagi setiap orang berpendapat, para demagog piawai menggalang dukungan politik dari khalayak dengan agitasi yang dibumbui janji populis tak realistis tanpa mengindahkan rasionalitas dan kebenaran.

Beberapa dekade terakhir, demagog menemukan ruang baru yakni media sosial untuk secara efektif menggerogoti demokrasi.

Stephan Lewandowsky, Kepala Departemen Psikologi Kognitif di University of Bristol, mengungkapkan bahwa efektivitas demagog dalam menggunakan media sosial menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan polarisasi dan melemahnya demokrasi. “Ada simbiosis mutualisme antara media sosial dan para demagog,” ujarnya di Harvard Kennedy School pada November 2022, seperti dilansir Harvard Gazette, dalam artikel bertajuk How Demagogues Wield Social Media.

Dalam penelitian mengenai perbedaan cara anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat dan Partai Republik menggunakan Twitter selama era Donald Trump, Lewandowsky memerinci teknik para demagog.

Salah satunya, para demagog tak hanya memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan pendukung, tetapi juga mengarahkan cakupan liputan media untuk menyoroti atau sebaliknya mengaburkan informasi demi keuntungan.

Trump, ujar Lewandowsky, sangat ahli dalam hal ini. Kala berita negatif tentang dirinya muncul, Trump biasanya akan mengunggah puluhan pernyataan kontroversial di Twitter dalam sehari untuk mengalihkan isu.

Lewandowsky juga menemukan, berdasarkan 1,6 juta Tweet dari 1.000-an akun Twitter yang dibagikan setiap anggota kongres pada 2016—2020, Republik, yang mengusung Trump, lebih cenderung membagikan informasi yang tak dapat dipercaya daripada Demokrat.

Dari segi diksi, terdapat pula perbedaan antara anggota kongres kedua partai. Makin banyak menggunakan kata yang mengandung unsur keyakinan seperti ‘akal sehat’ atau ‘opini’, makin tak akurat informasi yang dibagikan anggota kongres Republik. “Bagi Partai Republik, penggunaan belief-speaking merupakan penanda mereka cenderung membagikan sesuatu yang akurat atau tidak.”

Di sisi lain, klaim kebenaran palsu dari para demagog tetap akan mendapatkan afirmasi dari para pendukungnya. Bagi Lewandowsky, pendukung akan tetap mengambil langkah ‘propaganda partisipatif’, sebuah cara untuk mengekspresikan dukungan terhadap junjungannya.

Perdebatan ihwal jumlah massa yang menghadiri pelantikan Presiden Trump pada 2017 adalah contohnya. Kendati bukti visual menunjukkan pelantikan Barack Obama pada 2008 lebih ramai, sekitar 26% pendukung Trump tetap menyatakan sebaliknya.

Fenomena serupa pun hadir dalam keseharian masyarakat Indonesia, sebagai negara demokrasi. Demagog dengan klaim kebenaran informasi di ruang virtual mulai gaduh. Waspadalah!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.