SPEKTRUM : Dodol Betawi

Dalam piramida kue Betawi, dodol ini boleh dibilang berada di level atas. Kue dodol menjadi kudapan yang memperkuat tali persaudaraan.

Dika Irawan

14 Apr 2023 - 06.50
A-
A+
SPEKTRUM : Dodol Betawi

Saban kali jelang Lebaran, masyarakat Betawi di mana pun berada sibuk membuat beragam kue. Salah satunya dodol. Kue berwarna cokelat kehitam-hitaman ini seakan jadi kudapan wajib pada Idulfitri. Rasanya tidak afdol, jika Lebaran tak memiliki kue ini.

Sejauh ini tak ada catatan atau literatur terkait asal usul dodol Betawi ini. Hanya, kue ini disajikan dalam momen-momen tertentu. Dalam piramida kue Betawi, dodol ini boleh dibilang berada di level atas.

Setidaknya, ada berbagai faktor yang memengaruhinya. Pertama, pembuatan kue ini membutuhkan peralatan khusus, yaitu wajan atau kuali dodol. Kuali berbahan tembaga ini berukuran lebih besar, jika dibandingkan dengan wajan memasak pada umumnya. Adapun, harganya mencapai jutaan rupiah.

Kedua, bahannya beragam. Dodol ini membutuhkan bahan baku seperti gula merah, gula pasir putih, santan kelapa, dan tepung ketan. Bahan-bahan tersebut harus dicek kualitasnya. Sebab, satu saja bahan tersebut berkualitas rendah, maka akan berpengaruh pada rasanya.

Ketiga, pengerjaan dodol ini membutuhkan waktu lama dan tenaga ekstra. Proses pemasakan dodol Betawi memakan waktu hampir sehari. Dimulai dari pagi-pagi buta hingga sore hari. Selama proses ini, dodol harus terus diaduk agar tidak hangus. Dari bahan yang encer hingga mengeras.

Bila melihat proses pembuatannya yang rumit ini, tidak berlebihan jika kue tersebut berada di level atas kue kue Betawi.

Di sisi lain, bagi warga Betawi, kue dodol bukan sekadar kudapan. Namun, kudapan yang memperkuat tali persaudaraan. Sebagai gambaran, pembuatan kue ini memerlukan tenaga kerja lebih dari lima orang. Dua orang bertugas sebagai pengaduk. Dua orang lainnya sebagai pemeras kelapa. Satu orang bertugas mengupas kelapa. Sisanya bertanggungjawab mengemas dodol.

Seringnya, para pekerja ini melibatkan saudara atau kerabat dan tetangga. Jarang sekali pembuat dodol mempekerjakan orang lain. Jadi, ketika dodol ini dibuat, saudara jauh atau dekat berkumpul untuk bersama-sama membuat kue ini. Alhasil, ada kebersamaan dan kehangatan yang terjalin di dalamnya.

Satu hal yang bikin saya heran, para pembuat dodol ini, termasuk orang tua saya, relatif tidak perhitungan dengan para pekerjanya. Mereka tidak membatasi soal makanan kepada para pekerja. Mereka bebas makan sepuasnya. Terbayang kan, bagaimana laparnya para pekerja itu, setelah seharian mengaduk-ngaduk dodol. Nasi sebakul pun habis oleh mereka.

Saya pernah bertanya ke orang tua, kenapa tidak diatur saja mereka makannya. Biar hemat. Orang tua saya hanya menjawab, usaha ini enggak sekedar cari uang, tetapi juga bantu saudara-saudara kita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.