Free

SPEKTRUM : Ducting Fiber

Untuk mengatasi kesenjangan antara keterbatasan frekuensi dan meningkatnya kebutuhan, opsi internet berbasis kabel menjadi solusi alternatif.

Lukas Hendra

7 Jun 2023 - 07.15
A-
A+
SPEKTRUM : Ducting Fiber

Sketsa Lukas Hendra. /dok Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Keterbatasan frekuensi yang dibenturkan dengan konsumsi data yang terus meningkat menjadi tantangan baru bagi kondisi infrastruktur telekomunikasi perkotaan.

Hadirnya jaringan 4G dan 5G di beberapa titik di perkotaan, tak lantas membuat wilayah ini bebas dari tantangan pengembangan infrastruktur telekomunikasi.

Keterbatasan frekuensi inilah yang mendorong adanya migrasi jaringan dari 3G, menuju 4G, dan 5G. Namun, perkembangan ekonomi digital yang kian pesat memompa konsumsi data yang melonjak tajam. Hal ini dibarengi pula dengan peningkatan pengguna internet di Indonesia.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, pengguna internet Indonesia pada 2013 hanya 82 juta jiwa. Angka ini diproyeksi melonjak menjadi 215,63 juta jiwa pada tahun ini.

Untuk mengatasi kesenjangan antara keterbatasan frekuensi dan meningkatnya kebutuhan, opsi internet berbasis kabel menjadi solusi alternatif.

Sayangnya, kondisi ini tak diantisipasi dengan baik dengan adanya pengaturan dan sanksi yang tegas bagi para pebisnis yang nakal.

Akibatnya, aksi gali lubang di bahu jalan acap kali dilakukan yang akhirnya menyisakan kerusakan pada jalan. Padahal, infrastruktur jalan dibangun menggunakan anggaran pemerintah. Pebisnis kabel optik pun hanya melakukan penutupan lubang dengan tanah tanpa melakukan pengaspalan.


Pun demikian dengan kesemrawutan fiber optik di persimpangan tiang menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan perkotaan.

Pemerintah sebagai regulator perlu hadir. Moratorium penambahan serat optik baru di kawasan perkotaan perlu dilakukan.

Moratorium itu, harus dibarengi dengan penyusunan peta jalan penataan infrastruktur kabel optik, termasuk pembangunan ducting fiber yang perlu segera diupayakan. Tujuannya, siapapun, mereka wajib melakukan pemasangan serat optik di dalam ducting fiber.

Hal ini bukan semata-mata demi kecantikan kota, melainkan agar anggaran pemerintah yang diperoleh dari masyarakat untuk perbaikan jalan tak terbuang percuma karena dirusak untuk pemasangan serat optik. Apalagi, kesembronoan para pebisnis bisa berujung pada celaka bagi pengguna jalan.

Pembangunan ducting fiber, juga bertujuan untuk memudahkan maintenance, sehingga kesemrawutan kabel pada tiang-tiang tidak juga menimbulkan celaka bagi pekerja apabila ada keluhan pelanggan soal lemot-nya internet yang ternyata disebabkan infrastruktur yang tak memadai.

Hanya saja, hal ini butuh komitmen bersama. Baik pemerintah maupun pebisnis serat fiber. Pada akhirnya, niat untuk mau berbisnis dengan cara yang lebih ‘elegan’ menjadi kunci guna mengatasi kesemrawutan infrastruktur telekomunikasi perkotaan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.