SPEKTRUM : Fenomena Mantab

Kelompok masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah kini mengurangi tabungan yang disinyalir untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari.

Thomas Mola

14 Mar 2024 - 06.45
A-
A+
SPEKTRUM : Fenomena Mantab

Makan tabungan alias “mantab” menjadi satu fenomena yang terjadi pada sektor keuangan setahun terakhir.

Kelompok masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah kini mengurangi tabungan yang disinyalir untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari.

Sejauh ini, tidak banyak kajian mendalam perihal jumlah atau sebaran fenomena mantab itu. Namun, gejalanya sedikit banyak terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang hanya 3,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Desember 2023.

Pertumbuhan DPK itu lebih rendah dari kinerja pada 2020, 2021 dan 2022 yang masing-masing tumbuh pada level 11,3%, 12,1% dan 9,3%.

Fenomena makan tabungan disinyalir menjadi salah satu penyebab ketatnya likuiditas perbankan pada 2023.

Para ekonom tidak satu suara khususnya terkait dengan alasan fenomena makan tabungan.

Sebagian ekonom berpendapat, berkurangnya tabungan karena masyarakat mengalihkan dana pada instrumen investasi yang lebih menjanjikan seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar modal.

Adapun, SBN pada 2023 menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut pemerintah meraih dana Rp147,42 triliun, jauh melampaui target awal yang sebesar Rp130 triliun.

Sebagian ekonom lainnya berpandangan gejala makan tabungan atau mantab terjadi karena tekanan inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras hingga telur di tengah pendapatan yang cenderung stagnan.

Kondisi itu membuat banyak orang mengambil posisi defensif dengan berhemat dan menahan belanja.

Pilihan itu disebut menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi rumah tangga melambat pada 2023.

Ekonom lain juga menyebut kondisi mantab dalam waktu panjang acap kali memaksa masyarakat beralih mengetuk pinjaman konsumtif termasuk lewat pintu pinjol.

Insiden terjerat utang pinjol sempat mencuat lantaran tidak hanya urusan duit tetapi juga bisa merenggut nyawa.

Perbedaan posisi para ekonom terkait dengan alasan fenomena mantab sah-sah saja. Sebagian orang punya kemewahan mengalihkan tabungan kepada investasi yang lebih menjanjikan, sementara sebagian lainnya terpaksa menguras simpanan untuk kebutuhan hidup.

Fenomena makan tabungan alias mantab mungkin saja menjadi satu tarikan nafas bersama kesulitan likuiditas yang dialami bank tetapi dengan output yang berbeda.

Bertepatan dengan awal bulan puasa, generasi mantab mungkin sedang menghitung hari menjelang pembagian tunjangan hari raya (THR), sementara lainnya menanti hilal THR lewat dividen termasuk dari emiten perbankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.