SPEKTRUM :Gaza & Penjajahan Modern

Seorang pemuda di Jalur Gaza mengatakan hari-hari bagi rakyat Palestina adalah perjuangan agar tetap waras. Bukan dalam 11 hari terakhir saja, melainkan sudah 16 tahun lamanya pendudukan militer Zionis berlangsung, di mana listrik yang biarpet hingga air yang terkontaminasi mewarnai kehidupan mereka.

Nindya Aldila

18 Okt 2023 - 07.38
A-
A+
SPEKTRUM :Gaza & Penjajahan Modern

Anak-anak dan warga Palestina berkumpul di luar bangunan yang runtuh oleh serangan udara Israel ke wilayah selatan Gaza pada Senin (9/10/2023). - Bloomberg/Ahmad Salem

Seorang pemuda di Jalur Gaza mengatakan hari-hari bagi rakyat Palestina adalah perjuangan agar tetap waras. Bukan dalam 11 hari terakhir saja, melainkan sudah 16 tahun lamanya pendudukan militer Zionis berlangsung, di mana listrik yang biarpet hingga air yang terkontaminasi mewarnai kehidupan mereka.

Sebanyak 60% pemuda di Gaza adalah pengangguran akibat kondisi ekonomi yang rapuh. Sementara itu, nasib yang tak lebih baik warga Gaza yang bekerja. Mereka harus mendapatkan izin dari Israel untuk masuk ke kota yang menawarkan pekerjaan, seperti Yerusalem Timur.

Setidaknya ada 70.000 warga Palestina harus mengantre sejak jam 3 malam setiap harinya untuk melewati pos pemeriksaan yang dijaga ketat tentara Israel. Mereka harus berjalan di gang kecil yang padat dengan infrastruktur yang tak memadai.

Kondisi ini adalah dampak langsung dari tekanan Israel di wilayah ini, sebuah bukti bahwa penjajahan modern memang masih berlangsung.

Perbandingan antara Palestina dan Ukraina menjadi yang paling konkret saat ini. Namun, mau bagaimanapun, keduanya tak sebanding. Palestina bukan Ukraina yang didukung oleh negara adidaya atau teknologi perang yang canggih.

Sementara itu, media-media Barat seolah menggiring dunia internasional untuk menutup mata terhadap apa yang terjadi di lapangan, meski ini bukan praktik baru. Mereka memasang headline yang justru merekonstruksi perlawanan rakyat Palestina sebagai sebuah aksi teror.

Belum lagi kabar soal tentara Hamas yang memenggal kepala bayi di Israel yang disiarkan oleh berbagai media raksasa. Jurnalis yang berbasis di Israel, Oren Ziv mengatakan sama sekali tidak melihat buktinya di lapangan dan tidak mendapatkan konfirmasi kebenaran kabar tersebut dari komandan militer yang bertugas. Reporter CNN akhirnya mengoreksi pernyataannya dan minta maaf.

Hanya sepekan setelah Operasi Badai Al Aqsa, pengguna sosial media mulai membanjiri dengan kritikan standar ganda para pemimpin negara Barat.

Ketika Presiden Joe Biden dan Ursula von der Leyen mengutuk invasi oleh Presiden Vladimir Putin ke Ukraina, sikap yang sama tidak terlihat ketika remaja dan anak muda tak bersenjata di Tepi Barat terbunuh dengan senapan Israel.

Demonstrasi pro-Palestina kini telah menjamur di Inggris, Jerman, India, termasuk Indonesia. Mereka sadar ini bukan peperangan antaragama. Kisah rakyat Palestina tak lebih adalah soal meraih kemerdekaan.

Ambisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membangun Timur Tengah yang baru dengan memasukkan Gaza dan Tepi Barat ke otoritasnya pasti akan mengundang pertentangan dari dunia internasional.

Normalisasi dengan negara Arab yang ingin dicapai melalui proyek infrastruktur yang menyambungkan Israel dengan Arab Saudi hingga Eropa tampaknya hanya ilusi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.