SPEKTRUM: Gila

Tetiba harga sembako masuk dalam list basa-basi kami, karena tak habis pikir belanja logistik rumah tangga terutama beras terus bergejolak belakangan ini

Rayful Mudassir

27 Feb 2024 - 12.37
A-
A+
SPEKTRUM: Gila

Buruh mengangkut karung beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Akhir tahun lalu, saya bertemu dengan seorang teman di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat. Ditemani oleh starbuck keliling ala pedestrian kawasan gedung pencakar langit itu, kami saling bertanya kabar. Dari sekian obrolan, tetiba harga sembako masuk dalam list basa-basi kami.

Fuadi, karib saya itu seketika menaikkan nada suaranya. Dia tak habis pikir. Belanja logistik rumah tangga terutama beras terus bergejolak belakangan ini. Perlahan namun pasti, harga beras mulai tidak masuk akal baginya. 

“Awak dulu beli beras 15 kg biasanya sekitar Rp150.000. Sekarang udah Rp200.000 lebih. Udah gila emang,” katanya khas logat Sumatra. Bapak anak satu itu bertanya-tanya, ada gerangan apa sehingga mendorong harga bahan pokok melonjak begitu tajam. 

Bila melihat waktu pertemuan singkat kami pada Desember lalu, harga beras jenis medium pada saat itu di level Rp13.180 per kg dan beras premium Rp14.990 per kg. Sekitar dua bulan kemudian atau pada saat ini, nilai jual beras terus menanjak. 

Panel harga Bapanas menunjukkan rerata beras medium saat ini dihargai Rp14.250 per kg dan Rp16.310 per kg untuk premium. 

Hitung saja berapa selisihnya selama dua bulan itu. Kemudian kalikan dengan beras yang Anda beli saban bulan. Bayangkan pula sejauh mana selisih harga saat ini dengan harga patokan pemerintah.

Sebagai gambaran, harga eceran tertinggi sesuai regulasi pemerintah berada pada kisaran Rp 10.900 – Rp 11.800 per kg untuk jenis medium dan Rp13.900 – Rp14.800 pada tipe premium.

Sebenarnya ada beberapa hal yang patut diduga menjadi penyebab mahalnya beras di pasaran. Mari kita bedah satu per satu. 

Pertama, faktor produksi yang menyusut. Luas panen padi pada 2023 diperkirakan menyentuh 10,20 juta hektare, turun 225.790 ha dibandingkan luasan pada tahun sebelumnya. 

Kondisi ini memicu penurunan hasil panen. BPS bilang produksi beras tahun lalu menyentuh 30,90 juta ton, merosot sekitar 645.090 ton dari hasil panen 2022 sekitar 31,54 juta ton.

Pemerintah mengimpor sekitar 3,06 juta ton beras untuk menambal kekurangan itu. Lalu, kenapa beras masih tetap mahal? 

Kita masuk ke poin kedua: biaya produksi. Dilihat dari sebelum masa tanam, petani sudah harus merogoh kocek lebih dalam dari biasanya. Salah satu sebab adalah harga pupuk yang terus melambung tinggi. 

Biaya awal ini belum termasuk ongkos pekerja, sewa lahan, biaya pengolahan hingga margin keuntungan yang akan diambil. Ongkos ini berdampak pada peningkatan harga gabah kering panen (ketiga). 

Di Jawa Timur misalnya, bulir padi itu dihargai pada kisaran Rp8.400 - Rp8.800 per kg. Bila diolah menjadi beras dengan rendemen 53%, harga beras bisa menyentuh Rp15.849 - Rp16.603 per kg.

Dari penjelasan di atas, bagaimana kita mau berharap harga beras medium bakal masuk ke ritel modern? Wong harga beras saja sudah melewati HET. Distribusi beras justru akan lebih masif ke pasar tradisional karena HET nyaris tidak berlaku di sana. 

Tahun ini, pemerintah akan memasok 2 juta ton beras dari Thailand untuk mempertebal pasokan beras di dalam negeri. Apakah akan efektif mengendalikan harga? YNTKTS. Saya hanya teringat pada teman saya itu, semoga dia tidak benar-benar gila menghadapi gejolak harga pangan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.